Yayasan Sayangi Tunas Cilik Afiliasi dari Save the Children melakukan serah terima kepada Kemendikbudristek untuk bantuan belajar bagi 12.000 siswa di Kabupaten Bone, Wajo, dan Sumba senilai lebih dari Rp 2 miliar. Serah terima secara simbolis tersebut diberikan saat webinar yang diadakan pada 27 Juli 2021.

Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan learning event Yayasan Sayangi Tunas Cilik, afiliasi dari Save the Children dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

”Kemendikbudristek memberikan apresiasi yang tinggi kepada Yayasan Sayangi Tunas Cilik Afiliasi dari Save the Children atas kepeduliannya terhadap pendidikan. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak kita yang tengah belajar dalam situasi sulit akibat pandemi Covid-19,” kata Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek.

Maitra Widianti, Chief of Fundraising and Marketing dari Save the Children Indonesia menjelaskan, bantuan yang diberikan ini untuk membantu keberlangsungan kegiatan belajar jarak jauh selama pandemi bagi anak-anak yang harus Belajar dari Rumah dan tidak dapat mengakses internet.

”Yayasan Sayangi Tunas Cilik afiliasi dari Save the Children melakukan serah terima simbolis bahan dan alat pendukung belajar untuk anak-anak sekolah dasar sebanyak 12.000 paket dengan total nilai Rp 2.085.844.000,” ujar Maitra.

Erwin Simangunsong selaku Chief of Program Operations Save The Children sekaligus Wakil Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik, menyerahkan bantuan bahan belajar 9.000 paket kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, A. Syamsiar, S.Sos., M.Si, untuk mewakili anak-anak di Kabupaten Bone dan Wajo Provinsi Sulawesi Selatan.

Erwin juga memberikan 3.000 paket kepada Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat, Yehuda Malorung, S.Pd, mewakili anak-anak di Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Dalam webinar Pekan #BerpihakPadaAnak 2021 yang diselenggarakan Save the Children melalui Yayasan Tunas Cilik dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2021 pada Selasa 27 Juli 2021, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA) Bintang Puspayoga menegaskan, upaya pemenuhan hak anak wajib dipenuhi tanpa terkecuali dalam kondisi apapun. Utamanya selama masa pandemi seperti saat ini.

“Situasi pandemi yang belum usai membuat kondisi semakin sulit termasuk pada anak. Namun, kepentingan terbaik bagi anak, harus menjadi dasar setiap keputusan yang menyangkut kehidupan anak. Melihat kompleksitas masalah yang kita hadapi saat ini, sudah sepatutnya kita bekerja sama untuk dapat memenuhi hak anak-anak kita, demi Indonesia yang maju. Tanpa dukungan multipihak, kemajuan Indonesia tidak akan pernah tercapai,” ujar Menteri Bintang.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bekerjasama dan bersinergi dalam urusan pemenuhan dan perlindungan terhadap anak dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.

“Tentunya setiap dari kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai perwakilan dari institusi, dapat memberikan kontribusi sesuai dengan keahlian masing-masing.  Semua dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Kami juga siap bersinergi, berkolaborasi sesuai dengan tugas dan fungsi yang kami miliki demi memastikan hak anak-anak kita terpenuhi dan terlindungi sebaik-baiknya,” imbuh Menteri Bintang.

Lebih lanjut, Staf Ahli Menteri PPN/Bappenas Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Vivi Yulaswati mengungkapkan, Indonesia bercita-cita menjadi negara maju pada tahun 2045. Namun pandemi Covid-19 berpotensi menunda sasaran visi 2045.

“Untuk itu, SDGs bisa dicapai dengan kolaborasi seluruh pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri untuk mencapai target tersebut. Salah satu upaya yang pemerintah lakukan di masa pandemi yakni memastikan anak-anak bisa vaksin secara merata. Hal ini dilakukan untuk membentuk imunitas anak karena penanganan pandemi tidak bisa hanya dengan sosial distancing. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia menimbulkan dampak terhadap ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan seluruh sektor lainnya,” katanya.

Vivi mengatakan, untuk dapat bertahan dan pulih dari pandemi, Indonesia telah menyusun rencana re-desain transformasi ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Terdapat enam strategi yang merupakan game changer untuk menuju Indonesia Maju. Di antaranya strategi sumber daya manusia berdaya saing utamanya dalam hal kesehatan, pendidikan, dan riset inovasi. Selanjutnya strategi ekonomi hijau, strategi integrasi ekonomi domestik, strategi produktivitas sektor ekonomi, strategi transformasi digital, dan strategi pemindahan ibu kota negara dengan tujuan sumber pertumbuhan baru serta pemerataan ekonomi,” terang Vivi.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Tunas Cilik, Selina Patta Sumbung mengungkapkan, peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum pengingat bagi kita semua untuk menghormati hak-hak anak sebagai generasi penerus bangsa.

“Kondisi pandemi Covid-19 semakin mempersulit keadaan anak-anak yang harus menyesuaikan diri dengan pola hidup yang baru. Untuk itu, kita harus membantu mereka agar haknya tetap terpenuhi dan terlindungi dalam kondisi apapun,” ujarnya.

Selina menambahkan, Save the Children melalui Yayasan Tunas Cilik, akan terus berkomitmen untuk melakukan upaya pemenuhan hak anak. Pihaknya akan terus berupaya dengan melakukan pencegahan kematian bayi baru lahir dan stunting, pengembalian pendidikan yang hilang bagi anak yang terpuruk dan disabilitas melalui sistem pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Penguatan sistem perlindungan anak termasuk akses bantuan sosial, dan peningkatan daya resiliensi anak dan komunitas akibat perubahan iklim dan risiko bencana melalui perlindungan sosial sensitif anak.

“Kami menyambut baik kerja bersama dan sinergi strategis yang dibangun dengan berbagai pihak terutama pemerintah dalam upaya pemenuhan dan perlindungan anak Indonesia,” tambah Selina. (*)