SD Negeri Babakan 03 Sekolah Penggerak

SD Negeri Babakan 03 terletak di tengah perkampungan di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Meski berada di kampung, sekolah ini tidak kampungan. Itulah yang selalu ditekankan oleh Esti Wahyu Mudjiastutik selaku kepala sekolah. Seluruh warga sekolah didorong memiliki pola pikir yang terbuka, mau terus belajar demi peningkatan kualitas pembelajaran untuk peserta didik. Dengan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, sekolah ini memiliki pijakan untuk maju lebih cepat.

_________________

Di tengah kesibukan mengurus pembagian rapor, Esti bercerita kepada tim liputan Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbudristek tentang implementasi Kurikulum Merdeka di sekolannya. Perempuan yang lulus sebagai Kepala Sekolah Penggerak Angkatan Dua ini mengungkapkan ada tiga penguatan yang menjadi prioritasnya di sekolah yaitu penguatan spirit, penguatan mindset dan penguatan skill sumber daya manusia.

Dalam penguatan spirit yang disebut spirit set, Esti memberikan pemahaman kepada para guru bahwa murid adalah aset generasi masa depan. Oleh karena itu pembelajaran harus dilakukan dengan sebaik-baiknya melalui pembelajaran yang fokus kepada murid.

SD Negeri Babakan 03 Sekolah Penggerak

Melalui penguatan mindset, para guru dan tenaga kependidikan didorong dan didukung untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan diskusi dan pelatihan. Mereka juga harus memanfaatkan berbagai sumber belajar, baik yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) maupun sumber belajar yang didapatkannya secara mandiri.

Hal ini dilakukan agar para guru dan tenaga kependidikan memiliki pola pikir yang terbuka, update terhadap perkembangan zaman, terus mengasah kemampuan demi kualitas pembelajaran yang lebih baik. ”Setiap guru yang mendapatkan ilmu baru dari diklat atau lokakarya harus membaginya kepada teman guru lainnya. Jadi kita saling menumbuhkan,” tutur Esti.

Sedangkan penguatan skill sumber daya manusia dilakukan melalui pelatihan rutin yang difasilitasi oleh sekolah, tidak hanya kepada guru tetapi juga penjaga sekolah. Seperti pelatihan skill digitalisasi, pelatihan literasi, hingga pelatihan cara mengajar yang baik dengan menggunakan pendekatan yang fokus terhadap minat dan bakat murid.

SD Negeri Babakan 03 Sekolah Penggerak

“Kami bersyukur dengan adanya Kurikulum Merdeka, kami bisa lebih terarah dalam menyusun strategi penguatan sumber daya manusia di sekolah,” ujar perempuan yang sudah 7 tahun mengabdi di SD Negeri Babakan 03 ini.

Di bawah kepemimpinan Esti, sekolah ini memiliki program penguatan karakter dan pembiasaan baik yang menjadikannya berbeda dengan sekolah lain. Program pertama adalah pojok literasi yaitu pemanfaatan pojok kosong di setiap ruang kelas untuk didesain dan dihias dengan rak dan buku bacaan sesuai fase peserta didik. Fase A adalah kelas 1 dan 2, fase B kelas 3 dan 4, fase C kelas 5 dan 6.

”Untuk menguji keterampilan dan kreativitas guru beserta para murid, pojok literasi ini saya lombakan. Penilaiannya berdasarkan kesesuaian fase dan tema buku. Pemenang lomba diberi hadiah berupa uang tunai dari dana BOS Kinerja. Uangnya digunakan untuk kebutuhan pojok literasi juga,” cerita Esti.

Kehadiran pojok literasi berserta lombanya ini mampu mendorong kreativitas dan menumbuhkan kolaborasi antara guru dan murid. 

Program kedua adalah “satu langkah lebih baik” yang sudah terbukti memberikan dampak luar biasa bagi perilaku peserta didik dan juga orang tua. Ini adalah program membentuk kebiasaan bangun subuh dan berkata baik yang dilakukan oleh para murid secara bertahap selama 21 hari.

SD Negeri Babakan 03 Sekolah Penggerak

Dalam implementasinya, pihak sekolah bekerjasama dengan orangtua. Para orang tua diberi format penilaian dalam bentuk cetak untuk memantau setiap progres anak-anaknya melakukan pembiasaan bangun subuh dan berkata baik.

Kalau anak biasa bangun jam 6 pagi, orang tua harus bisa membiasakan anak tersebut bangun lebih awal secara bertahap. Misalnya hari ini bangun jam 6, besok bangun jam 5:40 dan seterusnya hingga mereka terbiasa bangun subuh. Setiap 21 hari orang tua harus melaporkan progresnya. Jika selama 21 hari tidak ada progres, harus diulang lagi dari hari pertama.

Demikian juga dengan pembiasaan menghindari bahasa kasar. Latihan dilakukan secara bertahap dan dipantau kemudian dilaporkan progresnya oleh orang tua. Sehingga secara bertahap anak-anak bisa mengontrol diri untuk menghindari penggunaan kata-kata kasar.

”Mengubah perilaku itu tidak bisa dalam sekejap lalu berubah 100 persen. Perilaku bisa diubah secara bertahap dan itu butuh proses,” kata Esti.

Ada cerita lucu dari pelaksanaan program “satu langkah lebih baik” ini. Meski yang dinilai dalam program ini adalah anak, tapi ternyata orang tua juga terdampak secara langsung. Para orang tua yang sebelumnya suka bangun kesiangan jadi ikut bangun subuh. Karena tidak mungkin bisa menilai anak bangun subuh kalau orang tuanya terlambat bangun.

SD Negeri Babakan 03 Sekolah Penggerak

Selanjutnya ada program sahabat hijau, sebuah program pelibatan siswa dalam menjaga lingkungan sekolah yang nyaman, bersih, dan rapi. Pihak sekolah memilih 20 siswa dan siswi dari kelas 4 sampai kelas 6 yang memiliki kemauan keras, sigap mengambil keputusan dan mampu menerima materi. Mereka diseleksi melalui pelatihan. Setelah berhasil mengumpulkan siswa-siswi terpilih, mereka kemudian disatukan menjadi tim sahabat hijau.

Selain membantu guru menjaga kebersihan, mereka juga membantu menyambut dan mengarahkan tamu. Misalnya ketika tamu mau menggunakan toilet sekolah atau fasilitas sekolah. Mereka juga dibekali ilmu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang mereka imbaskan juga kepada orang tua, teman sekelas dan adik kelas.

Dan yang tidak kalah pentingnya SDN Babakan 03 Cileungsi memiliki program parenting bagi orangtua murid. Dalam program ini, sekolah sudah dua kali menyelenggarakan kegiatan yang menghadirkan ahli parenting level nasional. Biaya kegiatan parenting ini berasal dari dana koperasi sekolah yang dikelola oleh komite.

Kegiatan parenting pertama mengangkat tema bagja atau bahagia, yaitu memberikan edukasi kepada orang tua cara mengajar anak-anak di rumah dengan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Salah satu hal penting menjaga kenyamanan anak di rumah adalah tidak ada keributan antara ibu dan ayah atau anggota keluarga lainnya.

Tema kegiatan parenting kedua adalah ‘menjadi orangtua hebat agar anak kuat dan sukses dunia akhirat’. Pada tema ini pihak sekolah memberikan edukasi kepada orangtua bahwa orang tua hebat itu adalah yang mau dan mampu mengikuti perkembangan zaman, perkembangan generasi anaknya, sehingga mampu mengontrol dan mengimbangi anak-anak dalam mengakses berbagai macam media digital.

SD Negeri Babakan 03 Sekolah Penggerak

Selain strategi penguatan dan program di atas, sekolah secara khusus memberikan pendidikan ‘keputrian’ untuk siswi kelas 4, 5 dan 6 setiap hari Jum’at. Pendidikan yang diberikan khusus bagi murid perempuan ini berisi cara menghadapi bullying, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Sekolah juga memberikan edukasi bagaimana membangun pertemanan yang sehat, serta memberikan edukasi menghadapi pubertas.

”Untuk temanya saya sengaja menyerahkan kepada murid agar mereka pilih sendiri rema yang menyenangkan, sehingga peserta pendidikan keputrian ini merasa senang, termotivasi dan tidak terbebani,” kata Esti.

Komite Sekolah tidak hanya mendukung program sekolah, tapi juga terlibat aktif di dalamnya. Sinergi antara sekolah dan orang tua terjalin sangat baik. Menurut Esti, inilah faktor penting sehingga sekolah berhasil di titik saat ini.

Perubahan yang terjadi di SD Negeri Babakan 03 tidak terjadi begitu saja, melainkan berkat kerja keras dan tekad yang kuat. Di tahun-tahun awal memimpin sekolah ini Esti merasa sedih. Sekolah tempat ia mengabdi selalu dipandang sebelah mata karena serba kekurangan. Bahkan sekolah ini dulu dijuluki sekolah peternak lele dumbo karena sering digenangi air. Setelah diamati, Esti berkesimpulan bahwa genangan sering terjadi karena halaman sekolah lebih rendah dari jalan.

”Sekolah ini sulit sekali mendapat bantuan. Saya mencoba mencari bantuan ke sana sini tidak ada respons. Dari kekecewaan itu kemudian menjadi motivasi dan inspirasi saya bahwa kami harus melakukan perubahan secara mandiri,” cerita Esti.

Hingga akhirnya pada suatu hari pihak sekolah meminta puing-puing bangunan ke PT Waskita Karya yang sedang membangun jalan tol melintasi daerah tersebut. Puing-puing bangunan itu digunakan untuk meninggikan halaman sekolah sehingga tidak ada lagi genangan air.

“Perusahaan ngasih secara gratis tapi untuk akomodasinya kami dibantu oleh kepala desa dan iuran orang tua murid,” tutur Esti.

SD Negeri Babakan 03 Sekolah Penggerak

Perjuangan Esti dalam melakukan perubahan bagi sekolahnya kemudian ia tuangkan dalam esai program Sekolah Penggerak dan berhasil mengantarkan Esti lulus sebagai Kepala Sekolah Penggerak. Sekolahnya pun mejadi Sekolah Penggerak. Saat ini SD Negeri Babakan 03 tidak lagi dijuluki sebagai sekolah peternak lele dumbo, melainkan dikenal sebagai Sekolah Penggerak yang berhasil memberikan pengimbasan inspiratif bagi sekolah lainnya.

Sekolah ini menjadi contoh baik dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Satriyo Wahyuwono, guru kelas 6 SD Negeri Babakan 03 bercerita, Kurikulum Merdeka diimplementasikan melalui pembelajaran yang merdeka sesuai dengan karakter peserta didik. Ia juga melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan berbasis data, memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan fase, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dan menumbuhkan minat belajar anak.

“Pembelajaran yang kami berikan membawa nilai-nilai penguatan profil pelajar Pancasila dengan kegiatan berbasis proyek,” kata Satriyo. Misalnya murid-murid mengumpulkan kertas bekas lalu dikreasikan menjadi topeng. Ada juga proyek mencangkok tanaman serta proyek yang mengajarkan anak-anak menjadi entrepreneur, yaitu dengan mengkreasikan kulit kluwih menjadi gantungan kunci dan dijual ketika bazaar.

Aulia Rahman, guru SD Negeri Babakan 03 menambahkan, implementasi Kurikulum Merdeka yang dia praktikkan adalah membentuk komunitas babeku alias baju bekas berkualitas yang masih layak pakai.

”Baju babeku dijual dengan harga Rp10-20 ribu ke masyarakat sekitar. Hasil uangnya disumbangkan kepada anak-anak yatim piatu yang ada di sekitar sekolah,” katanya.

Prinsip-prinsip dasar Kurikulum Merdeka sudah diterapkan dengan baik di SD Negeri Babakan 03, seperti pendidikan berpusat pada murid. Murid selalu dilibatkan dalam pembelajaran mulai dari perencanaan, implementasi hingga refleksinya. Mereka juga mampu menciptakan proses pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan, siswa merasa lebih semangat dan bahagia di sekolah.

Proses pendidikan yang diberikan kontekstual sesuai dengan kearifan lokal dan karakteristik murid. Budaya refleksi sudah diterapkan dengan baik. Hasil refleksi selalu dijadikan bahan dasar untuk perencanaan ke depannya. Tidak hanya itu, perencanaan berbasis data pun sudah dilakukan dengan baik, di mana data selalu jadi acuan dalam merencanakan program-program ke depan. (Hendriyanto)

 

Penulis: Hendriyanto
Editor: Lailatul Machfudhotin