Pandemi Covid-19 telah berlangsung lebih dari 1 tahun, dampak pandemi ini dirasakan oleh semua sektor termasuk sektor pendidikan. Pada bulan Maret tahun 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan pembelajaran dilakukan dari rumah. Hal ini untuk mencegah penyebaran Covid-19 di kalangan peserta didik, guru dan warga sekolah lainnya.

Implementasi Belajar Dari Rumah (BDR) dilakukan melalui berbagai cara diantaranya menyediakan tayangan edukatif melalui stasiun TV nasional, menyediakan platform-platform pembelajaran dalam jaringan dan melakukan pembelajaran luar jaringan di titik-titik tertentu yang diikuti oleh peserta didik secara terbatas dengan mematuhi protokol Kesehatan.

Seiring dengan bervariasinya perkembangan kasus positif Covid-19 di berbagai daerah, dan melihat pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) yang tidak sepenuhnya efektif, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Aturan yang diterbitkan bulan November ini menjelaskan bahwa pemberian izin pelaksanaan PTM di satuan pendidikan dilakukan oleh pemerintah daerah, kantor wilayah Kementerian Agama provinsi, dan/atau kantor Kementerian Agama kabupaten/kota sesuai kewenangannya. Menindakanjuti hal tersebut, beberapa daerah seperti Kabupaten Lamongan menyiapkan sekolah-sekolah agar siap melaksanakan PTM di masa pandemi Covid-19.

Pelaksanaan PTM

SDN 4 Made Kabupaten Lamongan yang dikomandoi oleh Ibu Amin Khusnul Khotimah selaku Kepala Sekolah merupakan SD berprestasi dengan akreditasi A. Penerapan PTM dilakukan berdasarkan instruksi dari pemerintah daerah Kabupaten Lamongan dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk memastikan bahwa sekolah telah memenuhi prosedur untuk melakukan PTM di masa pandemi. Adapun beberapa prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Memenuhi daftar periksa dan menyiapkan protokol Kesehatan.

Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan telah mendorong dan menfasilitasi sekolah untuk memenuhi daftar periksa dan menjadi sekolah yang siap melaksanakan PTM di masa pandemi melalui program Sekolah Tangguh Semeru. Semua sekolah di Kabupaten Lamongan berlomba-lomba menyiapkan sekolahnya menjadi Sekolah Tangguh Semeru, sehingga meski dalam masa Pandemi Covid-19, proses belajar mengajar tetap dapat dilaksanakan.

Praktik baik yang telah dilakukan SDN 4 Made dalam hal pemenuhan daftar periksa adalah memastikan ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan diantaranya adanya sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang tersedia di depan masing-masing kelas, toilet bersih dan layak, dan adanya penyemprotan disinfektan di lingkungan sekolah secara berkala. Selain itu fasilitas lainnya seperti ruang isolasi, thermogun, hand sanitizer, masker dan face shield juga telah tersedia di sekolah. Setelah semuanya siap, sekolah mengisi daftar periksa kesiapan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

  1. Membentuk satuan tugas (Satgas) penanganan Covid-19 di SDN 4 Made.

Satgas Covid-19 di satuan pendidikan menjadi hal wajib yang harus dibentuk oleh sekolah ketika melakukan PTM di masa pandemi. Sebagaimana tertuang dalam SKB 4 Menteri tentang PTM, satgas covid-19 di satuan pendidikan dapat melibatkan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat dengan komposisi tim pembelajaran, psikososial dan tata ruang; tim Kesehatan, kebersihan dan keamanan; dan tim pelatihan dan humas. Setiap warga sekolah di SDN 4 Made saling bahu-membahu menyiapkan sekolah sehingga dapat melaksanakan PTM di masa pandemi dengan aman.

  1. Melakukan pengaturan tata letak ruang dan lingkungan belajar.

Tata letak ruang dan pengondisian lingkungan sekolah sudah mulai tampak dari gerbang sekolah. Terdapat tanda sosial distancing di sepanjang jalan masuk sekolah. Halaman sekolah juga sudah dihiasi dengan cat tanda kaki yang berjarak sekitar 1,5 meter, sehingga peserta didik atau guru yang melakukan upacara atau berkumpul di lapangan sekolah tetap bisa menjaga jarak.

Pengaturan ruangan selanjutnya yakni pada ruang kelas, peserta didik disediakan meja dan kursi secara sendiri-sendiri dengan jarak antar kursi 1,5 meter. Ruang perpustakaan sebagai tempat belajar peserta didik juga tak luput dari pengaturan, setiap meja belajar sudah diberikan tanda silang sehingga peserta didik hanya bisa menempati tempat duduk yang berjarak, jumlah pengunjung perpustakaan juga dibatasi agar di dalam perpustakaan bisa dilakukan jaga jarak.

Sebagai salah satu sekolah dasar negeri yang menerapkan konsep religius, SDN 4 Made tetap menggunakan mushola sekolah untuk sholat dhuha bersama, pengaturan protokol Kesehatan tetap diberlakukan termasuk adanya tanda jaga jarak di dalam mushola.

  1. Berkoordinasi dengan orang tua, puskesmas, dan kelurahan.

SDN 4 Made selalu berkoordinasi dengan orang tua, puskesmas dan kelurahan dalam menjalankan PTM di masa pandemi. Sebelum PTM dilakukan, kepala sekolah dan komite sekolah telah berkoordinasi dengan semua orang tua terkait kesiapan pembelajaran tatap muka. Bagi orang tua yang menyetujui PTM dilaksanakan, diminta untuk menuliskan surat pernyataan yang dibubuhkan tandatangan.

Sementara, orang tua yang tidak menyetujui pelaksanaan PTM, sekolah tidak memaksa dan tetap bisa menfasilitasi peserta didik dengan metode pembelajaran jarak jauh. Koordinasi dengan puskesmas dilakukan agar sekolah dapat dipantau pelaksanaan protokol kesehatan dan pelaksanaan UKS di sekolah. Sementara koordinasi dengan kelurahan dilakukan, untuk mendapatkan data terupdate kasus positif Covid-19 di lingkungan sekitar sekolah, sehingga sekolah bisa mengambil keputusan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan melalui PTM atau BDR.

  1. Melakukan edukasi pentingnya menjaga protokol kesehatan kepada seluruh warga sekolah.

Edukasi protokol kesehatan dilakukan untuk semua warga sekolah, baik peserta didik, guru, tenaga kependidikan, orang tua maupun masyarakat sekitar. Sehingga semua warga sekolah dapat melaksanakan protokol kesehatan secara sadar berdasarkan motivasi dari dirinya sendiri. Peserta didik yang akan melaksanakan PTM di sekolah, diajarkan kebiasaan baik untuk menerapkan protokol kesehatan mulai dari rumah.

Sebelum berangkat ke sekolah, peserta didik harus sarapan di rumah, orang tua wajib memeriksa kesehatan sang anak, jika anak tidak merasa dalam kondisi sehat, maka peserta didik tidak diharuskan pergi ke sekolah. Sebaliknya jika peserta didik dalam kondisi sehat, maka orang tua membantu anak untuk menyiapkan perlengkapan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan new normal starter pack.

Sampai di sekolah, semua warga sekolah akan disemprot menggunakan cairan disinfektan pada area kaki dan tas. Setelah itu, dilakukan pengecekan suhu menggunakan thermogun dan pengecekan starter pack. Jika sudah memenuhi standar sterilisasi, warga sekolah boleh memasuki lingkungan dalam sekolah dan tidak melupakan pembiasaan CTPS. Peserta didik dan seluruh warga sekolah saling mengingatkan agar tetap memakai masker dengan benar dan menjaga jarak.

Ketika PTM telah selesai dilaksanakan, satgas covid-19 sekolah melakukan penyemprotan cairan disinfektan di kelas maupun ruangan lainnya di sekolah, selain itu face shield juga dibersihkan sehingga siap dipakai kembali keesokan harinya. Sebelum pulang, warga sekolah juga diharuskan cuci tangan, dan dilakukan penyemprotan kembali cairan disinfektan pada area kaki dan tas. Sesampainya di rumah, warga sekolah tidak boleh langsung bersentuhan dengan orang lain termasuk keluarga di rumah. Warga sekolah diharuskan cuci tangan, mandi dan mengganti baju sehingga dapat mencegah penyebaran virus Covid-19.

SDN 4 Made Kabupaten Lamongan sudah menunjukan sikap tanggap dalam melaksanakan PTM. Diharapkan sikap tanggap ini turut memotivasi sekolah-sekolah yang lainnya agar melakukan hal serupa, bahkan diharapkan dapat melebihi dari apa yang sudah dilakukan oleh SDN 4 Made Kabupaten Lamongan.

Tentunya hal ini pun tidak terlepas dari peran pemerintah daerah khususnya Kabupaten Lamongan yang sudah mendorong PTM dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Sikap yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan tentu saja harus menjadi motivasi bagi daerah yang lainnya, untuk segera mengarahkan satuan pendidikan dalam mempersiapkan pembelajaran tatap muka.

Para pendidik juga diharapkan terus meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam menyampaikan mata pelejaran bagi para peserta didik. Karena seperti yang kita tahu, mau tidak mau belajar di rumah yang dilaksanakan selama pandemi ini mempengaruhi kualitas pembelajaran karena terbatasnya waktu dan fasilitas.

Oleh karena ittu dalam hal ini kepala sekolah memiliki peran yang sangat vital untuk mendorong para guru agar meningkatkan kreativitas mengajarnya, supaya dapat mengejar ketertinggalan pembelajaran. Kreativitas pengajaran dapat dilakukan melalui project based-learning, penugasan-penugasan kepada siswa yang mengasah kemampuan siswa, terutama kemampuan menganalisis dalam mempersiapkan Profil Pelajar Pancasila. (*) 

Lailatul Machfudhotin, ASN Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbud