Menyambut tahun ajaran baru 2021/2022 untuk jenjang sekolah dasar dan menengah, pemerintah mendorong daerah-daerah di zona aman Covid-19 untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas. Dengan catatan, harus dipersiapkan secara matang sesuai SKB 4 Menteri. Sementara untuk wilayah Jawa-Bali, serta daerah-daerah yang masuk zona merah dan oranye Covid-19 dilarang menyelenggarakan PTM terbatas.

Menghadapi PTM terbatas di tahun ajaran baru yang bertepatan dengan peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia, satuan pendidikan perlu mempersiapkan berbagai strategi pembelajaran agar psikologis dan imun peserta didik terjaga dengan baik.

”Kami terus mendorong kawan-kawan guru meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam rangka memberikan layanan pembelajaran terbaik bagi putra-putri didik kita, di tengah situasi yang tidak mudah ini,” kata Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek saat membuka webinar berjudul ‘Pentingnya Menjaga Imun dan Psikologis Peserta Didik Menghadapi Tahun Ajaran Baru’ pada Kamis, 8 Juli 2021.

Sri Wahyuningsih mengatakan, selama menjalani belajar di rumah lebih dari setahun ini, peserta didik dikhawatirkan mengalami learning loss. Hal itu tampak dari adanya indikasi kemunduran perilaku dan karakter baik yang selama ini sudah terbentuk. Dimulai dari perilaku disiplin yang sudah bergeser karena anak-anak harus mengalami pola pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya.

”Nah, ini mari kita kembalikan mental disiplin, mental mandiri, mental kreatif, inovasi serta mental critical-thinking mereka. Belajar tatap muka atau pun virtual, kita harus tetap menjaga mental empati sesama untuk dapat meningkatkan kolaborasi dan bergotong-royong satu sama lain. Dan yang tidak kalah pentingnya, di tengah keterbatasan kita harus bisa mempersiapkan imun dan psikologis anak-anak kita agar tetap terjaga dan hak belajar tetap mereka dapatkan,” kata Direktur Sekolah Dasar.

Sementara itu, Dr. Cut Nurul Hafifah, SpA(K) dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo yang juga menjadi pembicara dalam webinar tersebut menyampaikan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan agar guru dan tenaga kependidikan harus sudah divaksin sebelum digelar pembelajaran tatap muka terbatas. Sekolah juga harus menyediakan fasilitas cuci tangan pakai sabun dan sanitasi sekolah yang layak. Kemudian melakukan pemeriksaan swab berkala, kegiatan belajar mengajar di luar ruangan (outdoor), membuka jendela kelas dan menggunakan HEPA filter.

”Sementara untuk muridnya, pada saat PTM terbatas harus dibentuk dalam kelompok belajar kecil sehingga contact tracing lebih mudah, hindari kerumunan dengan mengatur jadwal masuk dan pulang murid. Murid diwajibkan menggunakan masker. Untuk anak dengan komorbiditas dianjurkan tetap sekolah daring,” ujarnya.

Ia melanjutkan, anak yang lebih berisiko terkena infeksi Covid-19 menurut data infeksi Covid-19 pada anak di China adalah 10,6% usia<1 tahun, 7,3% usia 1-5 tahun, 4,1% usia 6-10 tahun dan 3% usia> 16 tahun. Anak lebih besar akan lebih berisiko mengalami MIS-C (sindrom peradangan multisistem pada anak-anak).

Semtara itu anak yang lebih berisiko terkena infeksi Covid-19 adalah anak yang memiliki komorbiditas seperti asma, penyakit jantung bawaan, kanker, kurang gizi, kelainan autoimun, diabetes melitus, dan kelainan bawaan lain. Sedangkan menurut data di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, anak yang berisiko terpapar Covid-19 adalah anak yang memiliki penyakit ginjal, penyakit jantung, kanker, obesitas, gizi buruk, penyakit autoimun (lupus), kelainan bawaan, tuberculosis.

“Oleh karena itu anak harus dilengkapi kebutuhan makro dan mikronutrien selama di masa pandemi Covid-19 ini. Seperti karbohidrat, lemak dan proteinnya harus tercukupi. Variasikan jenis makanan yang diberikan agar mikronutrien lengkap. Memberikan makanan fortifikasi dan suplemen dan selalu pantau berat badan dan tinggi badan secara berkala,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Devi Sani, M.Psi, Psikolog Anak RS Yarsi menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan mental anak, khususnya di tengah pandemi seperti saat ini. Menurut survei yang dilakukan terhadap lebih dari 3.200 anak tingkat sekolah dasar hingga SMA pada Juli 2020 lalu, sebanyak 13% responden mengalami gejala-gejala yang mengarah pada gangguan depresi ringan hingga berat selama masa "kenormalan baru".

“Sebanyak 93% yang menunjukkan gejala depresi berada pada rentang usia 14 hingga 18 tahun, sementara 7% di rentang usia 10-13 tahun,” paparnya.

Devi Sani menambahkan, tidak dapat dipungkiri pandemi ini dapat berdampak kepada aspek psikososial dari anak, di antaranya adalah perasaan bosan karena harus tinggal di rumah, khawatir tertinggal pelajaran, merasa takut terkena penyakit, merindukan teman-teman, dan khawatir tentang penghasilan orangtua.

“Dampak paling membahayakan adalah sebanyak 62 persen anak mengalami kekerasan verbal oleh orang tuanya selama berada di rumah,” tambah Devi.

Oleh karena itu sangat penting untuk memperhatikan hal ini karena anak-anak mungkin belum memiliki keterampilan untuk mengidentifikasi perasaan mereka. Ada hubungan yang erat juga antara kesehatan mental anak dengan prestasi akademis. Karena hormon stres secara efektif membatalkan efek menguntungkan dari stimulasi-stimulasi yang diberikan. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa hormon stres tingkat tinggi, seperti kortisol, adalah toxic bagi otak.

“Stres telah terbukti menghilangkan kemampuan untuk memanggil memori sebelumnya. Inilah mengapa kita begitu sering kosong selama jenis pertunjukan yang berhubungan dengan memori ini,” kata Devi.

Lalu apa yang dibutuhkan oleh anak agar terjaga kesehatan mentalnya? Menurut Devi, mereka harus dibimbing dan dipandu untuk mengidentifikasi emosi, mengkomunikasikannya dengan orang lain, mengelola emosi mereka dan mengatasinya dengan cara yang sehat. Anak juga butuh merasa diberi rasa aman (secure), diakui keberadaannya (seen) dan diberi ketenangan (soothed).

Selain itu ada juga beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengelola kesehatan mental pada anak. Pertama, mendengarkan dengan cara yang empatik adalah prioritas. Mendengarkan anak membantu mereka merasa dipahami siapa mereka sebenarnya. Anak-anak juga tidak akan selalu logis, dan emosi mereka mungkin tidak selalu masuk akal bagi orangtua, tetapi kesediaan orang tua untuk duduk bersama mereka, inilah yang membuat situasi berat jadi lebih mudah dijalani.

“Temani anak saat sedang mengekspresikan badai emosi, tidak sering-sering mengabaikan ataupun mendistraksi. Selanjutnya deteksi kebutuhan diri orangtua sendiri dimana orang tua juga memiliki kebutuhan seperti fisik dan emosional. Kebutuhan memang tidak bisa selalu terpenuhi, tetapi dengan sadar kita punya kebutuhan yang tidak terpenuhi, kita jadi tidak mudah memandang semua karena salah anak. Dan yang terakhir adalah kenali perfeksionisme orang tua,” jelasnya. (Hendriyanto)