Anak-anak yang tinggal di desa-desa di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) sulit melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), baik secara daring maupun luring. Hal tersebut karena kurangnya fasilitas untuk belajar daring, terbatasnya monitoring oleh sekolah dan pemerintah desa.

”Anak-anak pedesaan di daerah 3T yang hanya mengikuti proses pembelajaran dari rumah berisiko lebih besar untuk putus sekolah,” kata Dr. H. Yusra, M.Pd., Kepala Pusat Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigras idalam Webinar Penerapan Protokol Kesehatan di Daerah 3T yang tayang di channel Youtube Direktorat Sekolah Dasar, Sabtu, 31 Juli 2021.

Oleh karena itu, Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi terus melakukan upaya dalam menghadapi pandemi Covid-19. Salah satunya melalui kebijakan dalam prioritas penggunaan dana desa untuk penanganan Covid-19 pada 2020 dan 2021.

“Dana tersebut disalurkan untuk pencegahan dan penanganan Covid-19 dalam Desa Tanggap Covid-19. Melakukan edukasi dan memberikan fasilitas melalui dana tersebut. Hal ini dilakuan agar warga paham betul bagaimana menerapkan protokol kesehatan, melakukan hidup bersih dan sehat. Jika warga sehat, pemaparan Covid-19 tidak ada, maka anak-anak pun bisa segera melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah,” ujar Yusra.

Webinar Penerapan Protokol Kesehatan di Daerah 3T

Prioritas penggunaan dana desa 2021 menurut Permendesapdtt No.13 Tahun 2020 untuk pemulihan ekonomi nasional sesuai kewenangan desa di antaranya adalah pembentukan, pengembangan, dan revitalisasi BUMDes/BUMDesma (SDGs Desa 8), penyediaan listrik Desa (SDGs Desa 7), pengembangan usaha ekonomi produktif, utamanya yang dikelola BUMDes/BUMDesma.

“Sedangkan program prioritas nasional sesuai kewenangan desa diantaranya pendataan desa, pemetaan potensi dan sumber daya, dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Lalu pengembangan desa wisata, penguatan ketahanan pangan dan pencegahan stunting di desa, serta desa inklusif,” imbuhnya.

Webinar Penerapan Protokol Kesehatan di Daerah 3T

Sementara itu, Ir. Harris Iskandar, P.hD., Ketua Satgas Covid-19, Kemendikbudristek mengatakan semua pihak termasuk pihak Kemendes yang memiliki kewenangan terhadap wilayah 3T harus massif memberikan edukasi terkait perubahan perilaku bagi warga di era pandemi Covid-19 ini. Karena masih banyak bebarapa wilayah di 3T ketersediaan penjual masker masih minim, tidak tersedianya fasilitas kesehatan, sehingga masyarakat harus bener-bener bisa menjaga kesehatan karena tidak ada fasilitas kesehatan untuk menangani. Saat ini di daerah 3T sudah tidak ada lagi zona hijau, kecuali di Pegunungan Arfak, Papua Barat.

Webinar Penerapan Protokol Kesehatan di Daerah 3T

“Daerah 3T sudah terjangkit dan menjadi sangat rentan. Hal ini juga berimbas terhadap kegiatan sekolah di sana,” tuturnya.

Untuk mengurangi penularan Covid-19, lanjut Harris, pihak Desa harus membatasi keluar masuknya orang asing. Pengamanan desa terhadap pendatang atau warga yang akan pulang dan pergi harus diperketat dan dijaga.  

“Sementara itu ada beebrapa daerah 3T yang aman dari paparan Covid-19, karena tidak banyak orang keluar masuk ke wilayah tersebut, darah mereka terisolir. Akan tetapi pengetahuan mereka tentang Covid-19 harus tetap ditingkatkan. Agar mereka memahami bagaimana menjalankan perotokol kesehatan dan melakukan perubahan perilaku di era Covid-19 ini,” imbuhnya.

Webinar Penerapan Protokol Kesehatan di Daerah 3T

Sementara itu terkait persiapan PTM di 3T, kata Harris. Sekolah harus tetap menyiapkan protokol kesehatan, tenaga pengajar juga harus sudah mendapatkan vaksin. Sampai dengan 26 Juli 2021, ada 2,2 juta Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) sudah menerima vaksinasi Dosis 1 (39% dari 5,6 juta) dan 1,69 Juta PTK dosis 2 (30% dari 5,6 juta). Persentase vaksinasi PTK di kota besar secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan di kota kecil/kabupaten.

“Enam provinsi terendah yaitu di bawah 20% adalah Maluku Utara, Aceh, Maluku, Bengkulu, Papua Barat dan Papua,” kata Harris.

Meskipun di daerah 3T yang berada di zona hijau dari paparan Covid-19, warga sekolah tetap harus melaksanakan kedisiplinan dalam penerapan protokol kesehatan.

Kepala satuan pendidikan secara konsisten harus memberikan edukasi penerapan protokol kesehatan sebagai upaya membangun budaya disiplin di satuan pendidikan. Selain itu, memastikan seluruh pembelajaran tatap muka terbatas dilaksanakan dengan memenuhi seluruh protokol kesehatan. Menyiapkan satgas Covid-19 di satuan pendidikan, yang melibatkan komite sekolah. serta melakukan penanganan kasus dan dapat menutup sementara pembelajaran tatap muka terbatas ketika ditemukan kasus konfirmasi Covid-19.

“Sementara pemerintah daerah, kantor, dan/atau kanwil Kemenag melalui dinas pendidikan dan kesehatan harus memastikan pemenuhan daftar periksa di setiap satuan pendidikan, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas di satuan pendidikan. Dinas perhubungan juga harus memastikan adanya akses transportasi yang aman, bersama satgas Covid-19 daerah pemerintah juga harus melakukan testing jika ditemukan warga satuan pendidikan yang bergejala dan melakukan tracing jika ditemukan kasus konfirmasi positif. Serta melakukan penanganan kasus dan dapat menutup sementara pembelajaran tatap muka terbatas ketika ditemukan kasus konfirmasi Covid-19,” kata Harris.

Semnatara itu Boby Rahman, Guru SDN 016 Bongan, Kabupaten Kutai Barat turut membagikan kisah praktik baik yang dilakukan sekolahnya. Sekolah tempat ia mengajar yang berada di pedesaan tetap melaksanakan PTM sesuai dengan protokol kesehatan. Ditambah gedung sekolahnya yang memiliki tembok hanya sebagian, sehingga sinar matahari yang masuk cukup baik, sirkulasi udara pun menjadi baik, sehingga menambah keamanan saat melaksanakan PTM.

Ia memaparkan peraktik baik yang ia lakukan dalam pembelajaran PTM menggunakan implementasi metode pembelajaran paikem gembrot yaitu pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, GEMbira dan BeRbOboT.

Dalam pembelajarannya, Boby menggunakan pembelajaran kolaboratif yang temanya bisa diambil di lingkungan sekitar. Pertama, ia menggunakan tema-tema air di sekitar kita. Murid diajarkan membuat perencanaan, melakukan persepsi kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran dilanjutkan dengan siswa ke lapangan untuk observasi. Setelah dari lapangan kemudian kembali ke kelas dan menyiapkan presentasi baru untuk dipresentasikan.

“Kemudian kelas kolaboratif ini juga menggunakan tema belajar tentang ekosistem sawah. Siswa diajak langsung ke sawah kemudian berinteraksi dengan petani. Lalu siswa bertanya jawab dan berdiskusi dengan petani,” tuturnya.

Boby juga menggunakan tema tentang daur hidup kupu-kupu. Di mana siswa belajar tentang daur hidup kupu-kupu, bagaimana daur hidup kupu-kupu melalui kupu-kupu yang ada. Kemudian pergi ke kebun sekolah untuk mengamati kupu-kupu yang bertelur yang sudah menjadi ulat.

“Selain tema-tema yang saya sebutkan di atas, kita masih bisa menggunakan tema lainnya yang ada di sekitar kita dan dekat dengan kehidupan murid-murid kita,” ujar Boby. (Hendriyanto)