Sudah 1 tahun lebih masyarakat dunia harus beradaptasi dengan pandemi Covid-19 yang sangat berdampak tidak hanya terhadap kesehatan dan ekonomi, namun juga pada kualitas pendidikan.

Pemerintah Indonesia melalui Kemendikbudristek, dari awal pandemi sudah menyiapkan kebijakan untuk pendidikan di masa darurat. Di antaranya dana BOS yang bisa digunakan untuk pemenuhan kebutuhan fasilitas perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah. Melalui penyiapan sarana cuci tangan pakai sabun. Ada juga fasilitas-fasilitas lain yang diperlukan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan warga sekolah.

“Selain itu, pemerintah juga memberikan penyederhanaan kurikulum sebagai kebijakan belajar dari rumah. Kurikulum khusus ini disederhanakan untuk mendampingi peserta didik yang sedang melaksanakan belajar dari rumah baik luring maupun during,” ujar Direktur Sekolah Dasar Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., saat memberikan sambutan pada webinar “Penerapan Protokol Kesehatan dalam Pelaksanaan Belajar dari Rumah”, Senin, 26 Juli 2021.

Ia melanjutkan, banyak upaya-upaya yang sudah dilakukan pemerintah pusat maupun daerah untuk keberlangsungan pembelajaran peserta didik agar tidak terjadi learning loss. Salah satunya melalui modul belajar mandiri yang bisa diakses orang tua dan guru.

“Modul tersaji dalam bentuk link yang bisa diunduh kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja. Bahkan satuan pendidikan pun dapat menggandakan modul tersebut melalui dana BOS,” imbuh Sri Wahyuningsih.

Direktur Sekolah Dasar menambahkan, dari semua kebijakan pemerintah yang sudah dilakukan, sosialisasi serta implementasi perilaku hidup bersih dan sehat  menjadi wajib tanpa tawar-menawar bagi peserta didik. Salah satu cara memperkuat diri yaitu dengan menjaga protokol kesehatan dan mengonsumsi makanan dan minuman sehat.

“Kita juga harus banyak mempelajari bagaimana menjaga imun dan kesehatan  untuk memerangi Covid-19. Mulai dari diri sendiri untuk menjaga lingkungan serta menjaga anak-anak kita. Selain itu, hak belajar anak harus tetap diberikan dalam kondisi apapun. Oleh karena itu kita harus saling berkolaborasi memperkuat implementasi protokol kesehatan sebagai poin penting perubahan perilaku diri kita, khususnya di masa pandemi covid 19,” pungkasnya.

Dr. Nina Dwi Putri. Sp, A(K) MSc., dari Ikatan Dokter Anak Indonesia memaparkan, berdasarkan data www.covid19.go.id per 22 Juli 2021 di Indonesia terdapat 12,8% anak positif virus corona, 12,7%, anak dirawat atau isolasi, 13,3% anak sembuh dan 1% anak meninggal dengan jumlah kasus keseluruhan 2.983.830.


Webinar Penerapan Protokol Kesehatan

“Ini per 22 Juli 2021. Sementara itu data covid di Indonesia 1 dari 8 pasien Covid-19 adalah pasien anak, 1 dari 100 pasien covid-19 yang meninggal adalah pasien anak,” tuturnya.

Ia menjelaskan, anak akan beresiko lebih besar terkena Covid-19 jika memiliki komorbid seperti pasien dengan gangguan sistem imun, kanker, gagal ginjal autoimun, HIV kemudian kelainan jantung bawaan, penyakit paru kronis, asma, diabetes mellitus, obesitas serta kelainan saraf.

Anak-anak tetap bisa menjadi sumber penularan untuk orang lain di sekitarnya terutama bagi orang-orang yang beresiko tinggi yaitu keluarga yang tinggal satu rumah, yang usianya lebih lanjut serta mempunyai penyakit bawaan atau sakit parah.

“Kalau anak-anak membantu orang-orang dewasa menjaga dan melakukan protokol kesehatan dalam melaksanakan belajar dari rumah maupun di sekolah, maka anak-anak sudah menjadi pahlawan untuk semua orang. Anak-anak membantu untuk tidak menularkan virus Covid-19 ke orang lain yang berisiko tinggi, terutama keluarga,” ujar Nina.

Oleh karena itu, untuk mencegah penularan tersebut, lanjut Nina, harus ada pengawasan terhadap anak.-anak. Orang yang harus mengasuh anak-anak di rumah adalah orangtua atau pengasuh yang berisiko rendah terhadap gejala berat Covid-19.

Webinar Penerapan Protokol Kesehatan

“Selain itu, cukup satu orangtua atau pengasuh saja yang mengasuh anak. Orangtua atau pengasuh yang negatif namun mengasuh anak positif tetap harus melakukan isolasi setelah anak selesai isolasi. Jika orang tua positif namun anak masih negatif, anak mungkin pada masa inkubasi. Hindari menitipkan anak ke pengasuh risiko tinggi,” tutupnya.

Sementara itu, Ima Choerijah, S.Pd., Guru UKS SDN Cigugur Tengah, Cimahi, turut membagikan praktik perilaku hidup  bersih dan sehat yang ia terapkan kepada peserta didiknya. Ima mengatakan, guru memiliki tanggung jawab  untuk memastikan anak merasa bahagia saat belajar dari rumah. Itu dimaksudkan agar imun anak terjaga, sehingga kesehatannya pun turut terjaga. Oleh karena itu, guru kerap  memberi materi 3M. Guru juga kerap mencari pendekatan yang menyenangkan untuk anak dalam menyampaikan materi ajar.

“Di sekolah kami, pemberian materi 3M dilaksanakan setiap hari Sabtu. Setiap sesi diberikan secara bergilir oleh guru dan dokcil SDN Cigugur Tengah. Menyesuaikan materi 3M dengan karakteristik anak, di antaranya penggunaan boneka super hero di saat guru akan menjelaskan materi tentang pentingnya 3M, menggunakan jingle lagu untuk materi 3M, membagikan video sederhana tentang materi 3M dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami anak  serta pemberian tugas setiap sesi dengan memperhatikan kemampuan setiap anak,” tuturnya.

Sementara itu, lanjut Ima, materi 3M nya sendiri adalah CTPS (cuci tangan pakai sabun). Selanjutya setelah memberikan materi guru kemudian memberikan tugas pada anak untuk membuat video CTPS menggunakan aplikasi sosial media Tiktok.

“Kami juga mengenalkan 6 waktu penting untuk cuci tangan, materi  menggunakan poster dikirim ke whatsapp group dan dijelaskan melalui voice note. Kami juga memberikan materi ajar terkait memakai masker dengan benar. Materi diberikan melalui zoom. Sementara itu, materi menjaga jarak diberikan salah satu anak kelas 5, melalui share video," kata Ima.

Untuk memastikan anak melakukan pembiasaan 3M ini, mereka membuat strategi penilaian dan pemantauan. Di antaranya, memberikan diary yang harus diisi setiap anak dengan dampingan  orang tua. Memberikan tugas kepada anak untuk selalu melaporkan kemajuan diary kepada wali kelas dan memberikan tugas kepada anak untuk berpartisipasi menyebarkan kebiasaan 3M kepada orang terdekat, setiap anak diberi kartu partisipasi.

“Cara mempertahankan motivasi anak untuk melakukan 3M ini kami akan membuat lomba mewarnai untuk anak kelas 1 s/d kls 3. Lomba menggambar untuk anak kelas IV s/d VI. Materi lomba tentang 5 superhero pembasmi corona. Lomba video Tiktok CTPS, lomba video membacakan ikrar dan lomba poster 3M,” ujarnya. (Hendriyanto)