Sesuai dengan amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, permainan rakyat dan olahraga tradisional merupakan salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa.  

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sendiri merupakan gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Direktur Sekolah Dasar, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., menyampaikan, ada tiga poin sinergi pendidikan karakter di sekolah dasar diantaranya, penguatan pendidikan karakter, upaya penerapan pendidikan karakter melalui permainan rakyat dan olahraga tradisional. Serta upaya pemajuan kebudayaan melalui permainan rakyat dan olahraga tradisional.

Pendidikan karakter menjadi poin penting dalam sektor pendidikan sejalan dengan Renstra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa sesuai juga dengan RPJMN, dimana peningkatan SDM menjadi satu hal yang sangat ditekankan. Maka kami dari Sekolah Dasar semaksimal mungkin melakukan peningkatan terhadap pendidikan karakter itu sendiri. Dengan berbagai strategi tentunya sejalan dengan upaya pemerintah untuk mempersiapkan dan melahirkan profil pelajar Pancasila,” papar Sri Wahyuningsih dalam webinar bersama KPOTI, Selasa 26 Januari 2021.

Beliau melanjutkan, pendidikan karakter itu harus dalam bentuk aktivitas konkrit yang bisa dirasakan dan memberikan dampak kepada anak-anak. Meskipun di tengah pandemi ini dimana anak-anak melaksanakan aktivitas belajar dari rumah. Sri menyampaikan bukan berarti aktivitas konkrit harus berhenti. Namun masih dapat terus diakukan salah satunya dengan melakukan kegiatan permainan dan olahraga tradisional.

“Permainan tradisional ini menjadi sangat tepat ketika harus disampaikan kepada anak-anak yang sedang melakukan belajar dari rumah. Pendekatan melalui Project Based Learning akan menjadi efektif untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak, mengasah berpikir kreatif sekaligus cara yang kekinian dalam memperkenalkan permainan rakyat dan olahraga tradisional kepada anak-anak generasi milenial. Ini menjadi salah satu strategi yang perlu ditingkatkan dan digunakan oleh bapak dan ibu guru dalam memfasilitasi dan mendampingi pembelajaran bagi putra-putri didiknya,” ujar Sri Wahyuningsih.

Ia menambahkan latar belakang penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar tidak terlepas dari kecenderungan global dan memberikan impact terhadap berlangsungnya revolusi digital. Yang lalu kemudian mengakibatkan perubahan peradaban di masyarakat dan beralih terhadap fenomena abad kreatif.

Kecenderungan gobal saat ini sudah sangat tidak lagi ada batasnya, apa yang terjadi di suatu tempat dalam hitungan detik pun sudah diketahui oleh berbagai pihak. Maka kami di Sekolah Dasar tentunya selalu berupaya menggunakan terobosan menciptakan upaya-upaya untuk menggunakan teknologi, sebagai sarana pendekatan transformasi pembelajaran dan pengenalan kembali budaya-budaya yang kita miliki kepada peserta didik di sekolah dasar,” kata Sri Wahyuningsih menjelaskan.

Berdasarkan hal tersebut itulah yang lalu kemudian menjadi urgensi penguatan pendidikan karakter, yaitu pembangunan SDM sebagai fondasi pembangunan bangsa. Oleh karenanya pendidikan karakter harus dilakukan sedini mungkin seperti PAUD dan Sekolah Dasar sebagai masa pertumbuhan emas anak.

Karena pendidikan tidak serta merta harus dilakukan secara konvensional. Artinya bermain itu sebetulnya adalah pendidikan tapi bagaimana mengemas permainan itu dalam dunia pendidikan di generasi emas 2045. Yang tentunya harus menggunakan pendekatan keterampilan abad 21. Maka upaya-upaya strategi yang dilakukan harus sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Sehingga bisa menghadapi kondisi degradasi moral, etika, dan budi pekerti,” imbuh Sri Wahyuningsih.

Tujuan penguatan pendidikan karakter sendiri untuk membangun dan membekali Peserta Didik sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

Selain itu juga untuk mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi Peserta Didik. Dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keragaman budaya Indonesia.

“Yang terakhir, yaitu untuk revitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, Peserta Didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK,” kata Sri Wahyuningsih menambahkan.

Ada beberapa permainan tradisional yang dapat diimplementasikan terhadap generasi milenial saat ini dianatranya Gasing, Engklek dan Egrang. Permainan Gasing ini merupakan salah satu permainan tradisional Nusantara, Di wilayah Kepulauan Tujuh (Natuna), Kepulauan Riau, permainan gasing telah ada jauh sebelum penjajahan Belanda. Sedangkan di Sulawesi Utara, gasing mulai dikenal sejak 1930-an. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa.

“Permainan Gasing ini dapat digunakan oleh anak-anak dalam membangun kekompakan, kerja keras, kepemimpinan, daya juang serta menumbuhkan sikap sportif,” papar Direktur Sekolah Dasar.

Selanjutnya permainan Engklek atau ingkling yang berasal dari bahasa Jawa. Di luar pulau Jawa permainan tradisional ini memiliki nama yang berbeda-beda seperti teklek, sudamanda, lempeng, dampu, dan tabak rumah.

“Permainan engklek memiliki manfaat yang tidak kita sadari seperti mengasah kemampuan fisik, kemampuan bersosialisasi dan kebersamaan dalam satu regu, mengajarkan disiplin dan taat aturan, mengembangkan kecerdasan berhitung, serta dapat menjadikan pemain lebih kreatif,” paparnya.

Permainan tradisional yang penuh dengan edukasi lainnya adalah Egrang. Di Pulau Jawa, permainan Egrang dimainkan layaknya permainan biasa, yaitu dengan berjalan kaki. Di Sulawesi Tengah, Egrang biasanya digunakan untuk perlombaan balapan Egrang sambil saling menjatuhkan. Di daerah Batak Toba, Egrang atau Marjalengkat pada tempo dulu sering dilakukan sebagai ajang adu ketangkasan.

Nilai yang terkandung dari Permainan Egrang ini adalah kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Selain itu bermain egrang dapat memupuk keberanian, mengasah kemampuan keseimbangan tubuh serta koordinasi tangan dan kaki. Egrang mengajarkan kesabaran dan ketekunan dalam berusaha belajar Egrang.

“Upaya pemajuan kebudayaan melalui permainan dan olahraga tradisional ini akan menumbuhkan kembali permainan tradisional sebagai upaya menumbuhkan kembali dan karakter budaya bangsa.” Tutup Sri Wahyuningsih mengakhiri. (Kumi Laila/Hendriyanto)