Pendidikan karakter sangat penting sebagai pondasi dasar yang harus ditanamkan kepada anak-anak,  khususnya satuan Sekolah dasar sebagai tunas-tunas bangsa. Ini untuk melahirkan generasi unggul sesuai dengan profil pelajar pancasila yang digaungkan Kemendikbud Ristek.

Oleh karena itu, Direktur Sekolah Dasar Dra.Sri Wahyuningsih. M.Pd, menegaskan, anak-anak di usia sekolah dasar harus diperkuat pendidikan karakternya. Menanamkan karakter sejak dini layaknya sedang mengukir di atas batu yang akan terpatri selamanya. Sementara menanamkan karakter di usia dewasa layaknya seperti mengukir di atas air yang akan cepat hilang tersapu oleh angin.
 

“Apalagi di masa pandemi ini, kawan-kawan guru harus berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kreativitas dalam memberikan pendidikan kepada peserta didik. Selain itu, orang tua juga harus menjadi role model untuk penyiapan karakter putra putrinya. Harus ada komunikasi dan kolaborasi yang baik antara sekolah dan rumah agar anak-anak dapat disiapkan karakternya sesuai dengan profil pelajar Pancasila,” tegas Sri Wahyuningsih secara daing di Jakarta, Jumat (6/8/21).

Berapa kali Direktur Sekolah Dasar mengatakan dirinya melakukan komunikasi melalui zoom kepada anak-anak Sekolah Dasar di berbagai daerah di Indonesia. ia mengemukakan, ternyata masih banyak anak-anak yang masih bingung terkait profil pelajar Pancasila. Oleh karena itu, Direktorat Sekolah Dasar secara rutin memberikan webinar edukasi dan sosialisasi terkait profile Pelajar Pancasila, dengan menghadirkan berbagai narasumber yang ahli di bidangnya.

“Mudah-mudahan melalui webinar rutin kami ini, para orang tua dan kawan-kawan guru serta sahabat sekolah dasar semakin memahami terkait profil Pelajar Pancasila dan bagimana membangunnya.  Kegiatan ini bentuk upaya pemerintah untuk mendorong karakter baik pada anak-anak di satuan pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila,” tuturnya.

Untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila pada peserta didik, Ir. Hendarman, M.Sc, P.hD., Plt Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud Ristek mengatakan harus memunculkan lingkungan belajar yang asyik. Ia meyakini pembelajaran yang baik itu tidak hanya terjadi di ruang tertutup atau ruang kelas semata, namun bisa dilakukan di luar ruangan seperti di taman, di teras rumah dan di tempat terbuka lainnya.

Webinar Lingkungan Belajar Yang Asyik

“Saya yakin pembelajaran di luar ruangan akan memicu anak untuk berekspresi. Selain itu juga bisa memanfaatkan lingkungan alam. Belajar di luar ruangan ini bisa menjadi bekal untuk melaksanakan pembelajaran pada saat PTM nanti,” kata Hendarman.

Selama pandemi, anak-anak banyak melaksanakan belajar di rumah. Mau tidak mau orang tua mengambil peran dalam mendampingi putra putrinya belajar. Oleh karenanya, harus ada sinergi yang berkesinambungan antara orang tua dan sekolah.

“Para orang tua pun mulai menyadari bahwa guru pertama dan utama bagi anak adalah orang tua. Selama PJJ ini juga terjadi perubahan paradigma kepada orang tua yaitu empati dan simpati. Banyak hikmah yang dapat diambil dari pandemi ini,” tuturnya.

Untuk menciptakan lingkungan belajar yang asyik dalam pembelajaran jarak jauh di rumah, orang tua disebut harus memahami keinginan anak. Anak-anak juga harus diperlakukan dengan cinta dan kasih sayang, memberikan penghargaan dan saling memaafkan, bebas dari tindakan kekerasan dan tidak membeda-bedakan.

Orang tua juga harus membangun lingkungan yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak seperti menjaga keharmonisan keluarga, memenuhi kebutuhan anak, melakukan stimulasi atau pendidikan sesuai dengan tahap perkembangan anak dan memberikan perlindungan dari tindakan kekerasan terhadap anak.

“Orang tua juga harus membangun komunikasi yang positif terhadap anaknya seperti tidak menyalahkan, tidak meremehkan anak, tidak memerintah, tidak melakukan ceramah, tidak mengomel, tidak memberi label tidak mengejek tidak membandingkan dan tidak menyindir,” imbuhnya.

Di sisi lain, Setiyo Iswoyo Training Manager Millenia 21st Century Academy  menambahkan, membangun karakter profil pelajar Pancasila pada anak, dalam pembelajaran yang diberikan bisa dilakukan melalui Project Based Learning (PJBL). Perbedaan materi project biassa dengan PJBL adalah, proyek tidak berorientasi pada problem solving, cenderung memberikan tugas yang dikerjakan secara mandiri. Sementara PJBL berorientasi pada problem solving dan tugas kolaboratif, baik antar peserta didik baik dengan anggota keluarga maupun kolaborasi dengan antara mata pelajaran.

Webinar Lingkungan Belajar Yang Asyik

“Selain itu, proses pembelajaran proyek biasa mengacu kepada orientasi produk dan tidak melibatkan ahli dari luar. Sementara PJBL mengacu pada orientasi proses,  PJBL juga melibatkan para ahli melibatkan audience dari luar. Untuk mewujudkan profile pelajar Pancasila ini kita harus mendorong aktivitas Project Based Learning,” katanya.

Belum semua sekolah di Indonesia menerapkan pembelajaran berbasis PJBL. Meski demikian, tidak sedikit sekolah yang sudah melaksanakan PJBL sebelum digaungkan Mendikbud Ristek. Salah satunya adalah Sekolah Dyatmika Denpasar Bali.

Cikorda Agung, M.Pd., SPK Dyatmika, Denpasar Bali mengemukakan jika nilai-nilai profil pelajar Pancasila yang dikeluarkan Kemendikbud Ristek, sesuai dengan metode yang selama ini dilaksanakan sekolah Dyatmika jauh sebelum pemerintah menggaungkannya.

Webinar Lingkungan Belajar Yang Asyik

“Sekolah-sekolah yang belum memulai menanamkan metode profile pelajar pancasila, ayo segerakan. Buat dulu program-program profil pelajar Pancasila dan sesuaikan dengan daerah masing-masing. Program profile ini sangat penting sebagai dasar. Ini untuk menjadi acuan kita dalam melangkah. Ini berlaku dalam jangka panjang,” ujar Agung.

Ia melanjutkan, sekolah Dyatmika berhasil menciptakan program yang berkelanjutan sesuai dengan profil pelajar pancasila, melalui kegiatan PJBL yang disebut Kebun Komunitas SPK Dyatmika Bali. Dalam Project Based Learning Kebun Komunitas ini tidak hanya melibatkan murid, namun juga guru, staf termasuk juga para orang tua.

Agung mengungkapkan untuk mengimplementasikan Project Based Learning ini tidak bisa dilakukan sendiri, namun juga harus melibatkan semua pihak. Karena PJBL ini tujuannya adalah menciptakan ruang berbagi yang bisa digunakan oleh komunitas sekolah dan komunitas di luar sekolah untuk saling berinteraksi dan belajar merawat lingkungan alam sekitar.

“Kita berharap dari kebun yang dibuat oleh kita sendiri hasilnya bisa dimanfaatkan. Kita sebagai makhluk sosial mendapatkan manfaat. Begitu juga  makhluk hidup lainnya yang juga mendapatkan manfaat dari kebun ini,” tutupnya. (*)