Webinar Merdeka Dari Sampah Plastik

Target pengurangan sampah plastik ke laut sebesar 70% terus dikejar hingga 2025.  Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) melalui Kelompok Kerja (POKJA) 1 dan tim Pelaksana Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL) bergerak cepat. Semua fokus pada Gerakan Nasional Peningkatan Kesadaran Para Pemangku Kepentingan.

Webinar Nasional “Merdeka dari Sampah Plastik” yang diikuti 1.438 peserta akhirnya digelar. Webinar ini juga sekaligus pemberian penghargaan bagi para pemenang terbaik kompetisi EUPHORIA (Ending Plastic Pollution Through Comic and Writing Contest for A Better Indonesia). Peserta terdiri dari siswa/i tingkat SD/Ibtidaiyah, SMP/Tsanawiyah, SMA/Aliyah, mahasiswa dan kalangan umum yang berasal dari seluruh Nusantara.

Jumeri, STP., M.Si, Direktur Jenderal PAUD, Dikdasmen Kemendikbudristek menyampaikan, permasalahan sampah merupakan tanggung jawab bersama dengan semua pihak, termasuk masyarakat umum. Bagi dia, sampah memiliki dampak luar biasa terhadap lingkungan dan kehidupan manusia.

Webinar Merdeka Dari Sampah Plastik

“Masyarakat sebagai penghasil sampah harus dapat menangani sampahnya di rumah masing-masing. Libatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak dalam pengelolaan sampah. Jadikan ini kegiatan edukasi yang menyenangkan,” tutur Jumeri secara daring dalam webinar Nasional “Merdeka dari Sampah Plastik,” Rabu (18/8/21).

Ia juga menyampaikan dukungannya terkait kegiatan lomba penulisan dan webinar merdeka dari sampah plastik yang merupakan rangkaian dari kegiatan EUFORIA. Jumeri juga menyampaikan selamat dan ucapan terimakasih kepada peserta terbaik dari siswa-siswi tingkat SD/MI, MTS/SMP, SMA, mahasiswa maupun masyarakat dari seluruh Indonesia yang mengikuti kompetisi. Semua dianggap sudah memberi sumbangsih memberikan edukasi dan inovasi terhadap pengelolaan dan penanganan sampah.

“Ini semua gagasan hebat yang tidak akan hanya sampai pada karya-karya tulisan, melainkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek menambahkan, jika kompetisi yang diselenggarakan EUPHORIA ini sebagai sarana untuk mengedukasi generasi muda dan masyarakat umum. Targetnya adalah peningkatan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah. Ini sekaligus upaya pengurangan sampah dari sumbernya melalui karya tulis dan komik.

Webinar Merdeka Dari Sampah Plastik

“Dari 1.438 peserta di antaranya dari tingkat SD telah mengumpulkan sebanyak 228 peserta, untuk jenjang SMP sebanyak 566 peserta, kompetisi essay jenjang SMA sebanyak  282 peserta, dan untuk kategori essay jenjang perguruan tinggi terdapat 234 peserta. Sedangkan untuk kategori komik terdapat 128 karya yang masuk ke panitia,” imbuh wanita yang biasa disapa Ibu Ning itu.

Antusiasme generasi muda untuk memeriahkan kegiatan lomba ini, menurut Ning,  cukup besar. Indikatornya dapat dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti perlombaan serta menghadiri webinar: Merdeka dari Sampah Plastik. Kegiatan ini merupakan kontribusi Kemendikbud Ristek dan pihak yang terkait, dalam peningkatan kesadaran masyarakat dan generasi muda di seluruh Indonesia.

“Kami juga menyampaikan kepada generasi muda agar mengisi kemerdekaan dengan mengobarkan semangat untuk mengurangi sampah plastic. Ajak seluruh anggota keluarga untuk peduli terhadap permasalahan sampah. Kemudian melakukan hal-hal kecil mulai dari rumah masing-masing dalam agenda memilah dan memilih sampah,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ujang Solihin Sidik, Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menambahkan, dirinya optimistis permasalahan sampah plastik bisa diatasi. Hasil riset BPS tahun 2018 menunjukkan, salah satu tantangan terbesar masyarakat Indonesia adalah soal perilaku. Urusan sampah itu sangat lekat dengan urusan perilaku. Dari sejak dulu permasalahan sampah adalah 60% sampai 70% itu urusan perilaku selebihnya adalah urusan teknologi dan yang lainnya.

“Jadi ini menjadi kunci di mana pada kenyataannya riset menyatakan kita memiliki tantangan besar yaitu masyarakat itu belum peduli terhadap sampah. Tingkat peduli masih rendah,” ujar Ujang.

Tantangan lainnya, lanjut Ujang, sampah plastik semakin banyak jumlahnya. Jumlahnya bahkan lebih banyak dari perkiraan. Oleh karenanya, jika tidak ada kebijakan luar biasa, tidak ada aturan yang luar biasa dan tidak ada perubahan perilaku yang luar biasa, tidak menutup kemungkinan di 2050, sampah plastik komposisinya semakin besar.

Webinar Merdeka Dari Sampah Plastik

“Saat ini menurut data kami sampah plastik angkanya 17-18 % dari sampah yang lain. Padahal 10 tahun sebelumnya hanya 10 sampai 11%. Bayangkan dalam 10 tahun naiknya sudah sangat luar biasa. Bahkan di beberapa kota besar seperti Surabaya, sampah plastik sudah mencapai 22%. Jadi kalau tidak ada upaya yang luar biasa yang kita lakukan bersama maka semakin banyak sampah plastik yang menjadi persoalan,” kata Ujang Solihin.

Dias Chandra, peraih juara pertama kompetisi menulis esai kategori mahasiswa mengatakan, mengaku masih tidak percaya bisa menjadi juaranya. Ia kemudian menceritakan latar belakang esainya yang mengambil tema platform pemberdayaan pemulung untuk meningkatkan daur ulang sampah di Indonesia. Menurut Dias, masalah sampah itu sudah sangat pelik. Bahkan ada data yang mengungkapkan kalau sampah plastik ke laut Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah China.

“Itu peringkat tinggi tapi negatif. Selain itu, dilihat dari lingkungan sekitar juga banyak sampah yang berserakan. Padahal ada tempat sampah merah, kuning dan hijau yang seharusnya menjadi tempat untuk sampah terpisah, namun itu tidak digunakan dengan semestinya,” kata Dias.

Latar belakang itulah yang menjadi sumber ide bagi Dias melakukan perubahan daur ulang sampah di tengah masyarakat. Ia berpikir yang biasanya melakukan peran penting daur ulang sampah di Indonesia adalah pemulung. Karena pemulung ini mencari pendapatan dari sampah-sampah yang bisa didaur ulang.

“Jadi kenapa tidak untuk para pemulung sekaligus diberi fasilitas baju pelindung atau peralatan lainnya. Mereka bisa berkontribusi dalam daur ulang sampah di Indonesia. Di sini ada dua tujuan yang ingin dicapai. Pertama, sampah jadi terpisah untuk didaur ulang. Dan kedua, pemulung jadi terberdayakan,” ujarnya.

Sementara itu , Nana , juara pertama kategori komik mengatakan  sangat antusias mengikuti perlombaan EUPHORIA ini. Masalah sampah plastik baginya adalah soal kebiasaan atau perilaku. Jadi ia berpikir bagaimana caranya membuat komik edukasi sesederhana mungkin. Target pembacanya adalah anak-anak.

“Awalnya saya berpikir bagaimana cara mengedukasi terkait sampah pada anak-anak dengan gaya yang menyenangkan. Akhirnya saya punya ide sepertinya membuat komik yang simple dan mudah dipahami bisa sampai ke pembaca. Selain itu, saya kan seorang ayah yang juga harus nyontohin ke anak-anak. Seorang anak itu akan belajar dari orang tuanya,” tutupnya. (Hendriyanto)