Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah yang sukses menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) di masa pandemi Covid-19. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Sejak pertengahan tahun 2020, siswa TK, SD dan SMP di Kabupaten Kerinci sudah belajar di sekolah. Jumlahnya 230 SD, 54 SMP dan 126 TK. Hanya saja jumlah siswa yang masuk kelas dikurangi 50 persen, dan jam pelajaran juga dipangkas setengahnya.

“Alhamdulillah meski kami tetap membuka sekolah, siswa dan guru sehat. Tidak pernah ada klaster penularan di sekolah kami. Dan siswa mendapatkan haknya untuk belajar secara layak,” kata Bupati Kerinci, Dr. H. Adirozal, M.Si., di kantornya, Selasa, 4 Mei 2021.

Adirozal mengungkapkan, menyelenggarakan pembelajatan tatap muka di masa pandemi Covid-19 butuh komitmen kuat dari pemerintah daerah dan kerja keras. Karena semua stakeholder harus melakukan pemantauan setiap saat. Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Puskesmas, bahkan Satpol PP harus siaga memantau perkembangan yang bisa berubah cepat.

“Pernah kami mendapat informasi dari pihak sekolah bahwa ada salah satu orang tua siswa menunjukkan gejala Covid-19. Sekolah tersebut langsung kami tutup sementara. Proses belajar pindah ke daring. Semua stakeholder turun melakukan tracing. Kami lakukan tes kepada semua yang terlibat kontak fisik. Setelah semua aman, barulah sekolah dibuka kembali,” cerita Adirozal.

Bupati yang mantan dosen ini mengatakan, tidak mudah mengambil kebijakan untuk menyelenggarakan PTM. Ia menyadari risiko yang harus ditanggung sangat besar jika sampai terjadi penularan Covid-19 di sekolah. Tapi di sisi lain, siswa butuh belajar di sekolah.

Kalau siswa dibiarkan belajar di rumah terus, kondisi psikologis dan psikomotornya mengkhawatirkan. Karena pendidikan tidak hanya mengubah kognitif, tapi juga afektif. Dan itu tidak bisa didapatkan jika siswa tidak belajar tatap muka di sekolah, tidak bertemu guru dan teman-temannya.

Setelah berdiskusi panjang dengan seluruh perangkat daerah, dengan unsur Muspida yang tergabung dalam Satgas Covid-19 Kabupaten Kerinci, akhirnya diambil keputusan untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di sekolah.

”Kenapa kami berani membuka sekolah tatap muka, karena di pertengahan tahun 2020 itu Kabupaten Kerinci zona hijau. Selain itu, sebagai seseorang yang cinta pendidikan, saya betul-betul tidak siap anak-anak tidak belajar di sekolah,” kata Bupati.

Ia pun menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan dan dinas terkait untuk membuat SOP (Standar Operasional Prosedur) sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah sesuai dengan protokol kesehatan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kerinci, H. Murison, S.Pd., S.Sos., M.Si., mengatakan, SOP teraebut merupakan hasil rangkuman dari setiap SOP dari dinas-dinas terkait, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan Satpol PP. Kemudian dituangkan menjadi Peraturan Bupati, dan diedarkan ke setiap sekolah sebagai acuan.

Berdasarkan Peraturan Bupati, PTM dilakukan sesuai protokol kesehatan, seperti jumlah murid yang dibatasi, tempat duduk yang diatur jaraknya, disediakan tempat cuci tangan pakai sabun di setiap sekolah, memiliki alat pemeriksa suhu tubuh, dan alat pendukung protokol kesehatan lainnya.

“Jam pelajaran kita kurangi, jadi guru hanya menyampaikan KD-KD esensial saja. Sekolah tidak memberlakukan jam istirahat, sehingga siswa tidak berkerumun. Tidak ada lagi kantin sekolah, dan siswa diwajibkan membawa makanan dari rumah,” paparnya.

Selama proses pembelajaran, Murison melanjutkan, guru tidak boleh bersentuhan dengan siswa. “Alhamdulillah berkat kerjasama yang baik antara Dinas Pendidikan dengan Dinas Kesehatan, kemudian dengan Kepala Sekolah, para guru dan orang tua murid, pelaksanaan PTM ini berjalan lancar sampai sekarang,” ujarnya. (Hendriyanto)