Taat Protokol Kesehatan Merupakan Kunci Keamanan PTM Terbatas

Menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di tengah pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan satuan pendidikan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama kementerian terkait terus melakukan penyesuaian regulasi guna merespons situasi pandemi yang berubah secara dinamis.

”SKB 4 Menteri yang menjadi dasar pijakan dilaksanakannya pembelajaran tatap muka terubatas telah disesuaikan beberapa kali dengan pertimbangan keselamatan, kesehatan dan evaluasi capaian belajar peserta didik,” kata Direktur Sekolah Dasar, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd pada acara Indonesia Hygiene Forum yang dilaksanakan secara virtual, Rabu, 13 Oktober 2021.

Sri Wahyuningsih mencontohkan, pada bulan Januari hingga Maret 2021 SKB 4 Menteri dievaluasi dan dilakukan penyesuaian. Yaitu; apabila pemerintah daerah sudah memberikan izin dan satuan pendidikan memenuhi semua syarat daftar periksa, maka PTM terbatas diperbolehkan namun tidak diwajibkan.

Taat Protokol Kesehatan Merupakan Kunci Keamanan PTM Terbatas

Kemudian sejak April 2021 sampai sekarang, SKB 4 Menteri kembali dilakukan penyesuaian, yaitu apabila seluruh pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan telah divaksin, maka satuan pendidikan wajib memberi opsi PTM terbatas. Ini sejalan dengan perkembangan situasi dimana gelombang kedua Covid-19 sudah mulai melandai, sehingga pemerintah pusat mendorong dilaksanakannya PTM terbatas di wilayah PPKM level 1, 2 dan 3.

”Setelah pendidik dan tenaga kependidikan di satuan pendidikan divaksinasi Covid-19 secara lengkap, maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah mewajibkan satuan pendidikan untuk menyediakan layanan PTM terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan pembelajaran jarak jauh,” ujar Sri Wahyuningsih.

Artinya, lanjut Nining, sapaan akrab Sri Wahyuningsih, orang tua dapat memilih apakah anaknya boleh ikut PTM terbatas atau tetap mengikuti pembelajaran jarak jauh. Ia juga mengingatkan bahwa vaksinasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan tidak menjadi syarat dilaksanakannya PTM terbatas. Satuan pendidikan di wilayah PPKM level 1, 2 dan 3 boleh menyelenggarakan PTM terbatas meski vaksinasi belum diberikan secara lengkap kepada semua pendidik dan tenaga kependidikan.

”Tentunya PTM terbatas ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan sesuai dengan izin pemerintah daerah. Sementara satuan pendidikan yang berada di wilayah PPKM level 4 sepenuhnya melaksanakan pembelajaran jarak jauh,” kata Direktur Sekolah Dasar.

Dalam mempersiapkan PTM terbatas, Nining menekankan agar pihak sekolah menyiapkan sarana sanitasi yang baik dan bersih, memastikan kecukupan cairan disinfektan, sabun cuci tangan, air bersih di setiap fasilitas CTPS, dan cairan pembersih tangan.

”Selain itu harus memastikan ketersediaan masker, memastikan thermogun berfungsi dengan baik dan melakukan pemantauan kesehatan warga sekolah dengan mengawasi adanya gejala demam, batuk, pilek serta sesak nafas,” ujarnya.

Direktur PT. Unilever Indonesia, Reski Damayanti mengatakan warga sekolah taat protokol kesehatan dan betul-betul menjaga kebersihan di lingkungan sekolah merupakan kunci keamanan pembelajaran tatap muka terbatas.

Taat Protokol Kesehatan Merupakan Kunci Keamanan PTM Terbatas

Selama pandemi Covid-19, PT. Unilever Indonesia sudah membantu menyalurkan produk-produk kebersihan untuk mendukung dan menciptakan lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman di sekolah. “Tidak hanya itu, kami juga melakukan kegiatan edukasi melalui program-program yang kami sediakan untuk sekolah dasar,” katanya.

Bayu Satria Wiratama, Ph.D., Epidemiolog Universitas Gadjah Mada mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini menunjukkan tren penurunan kasus terkonfirmasi positif dan kasus kematian. Artinya sekarang inilah waktu yang tepat untuk melakukan uji coba pembukaan secara bertahap aktivitas masyarakat di banyak bidang, termasuk PTM terbatas.

Taat Protokol Kesehatan Merupakan Kunci Keamanan PTM Terbatas

Ia menganjurkan pihak sekolah membentuk tim kesehatan untuk memastikan protokol kesehatan dilaksanakan dengan baik, dan tatalaksana jika ada kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di sekolah. Tidak hanya itu, sekolah juga harus membangun jejaring komunikasi dengan puskesmas/dinas kesehatan setempat, menyiapkan ruangan UKS khusus infeksi, melatih dan membentuk tim screening sekolah serta memantau kondisi harian setiap warga sekolah. (Hendriyanto)