Kurikulum Merdeka mulai diimplementasikan di sekolah-sekolah pada tahun ajaran 2022/2023. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) ingin memberikan penguatan kepada sekolah dan pemerintah daerah dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, para pejabat utama Kemendikbudristek melakukan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah, melakukan diskusi dengan pemimpin dareah, kepala sekolah dan para guru di awal tahun ajaran baru ini.

Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek, Dr. Muhammad Hasbi berserta tim melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Sekolah Dasar Negeri 016 Penajam. Di sana Direktur Sekolah Dasar disambut oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara, Alimuddin, Kepala SDN 016 Penajam Tri Sunarsih, dan puluhan kepala sekolah, guru serta guru penggerak Kabupaten Penajam Paser Utara. 

Di halaman sekolah disiapkan tenda ukuran sedang, ada pengeras suara, dan kursi-kursi sudah disusun rapi. Para guru dan kepala sekolah rupanya sangat antusias menyambut kehadiran Direktur Sekolah Dasar beserta rombongan. Mereka ingin mendiskusikan banyak hal terkait kebijakan Merdeka Belajar dan implementasinya di sekolah.

Namun, sebelum melakukan diskusi, Dr. Muhammad Hasbi terlebih dahulu berkeliling ke kelas I dan IV, melihat langsung pembelajaran di kelas yang dipandu oleh guru masing-masing, dan berdialog dengan guru. Kemudian berkeliling juga ke kantin sekolah dan melihat fasilitas olahraga.

Selesai kunjungan di SDN 016 Penajam, Direktur Sekolah Dasar beserta tim berangkat menuju kantor Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara. Di sana Dr. Muhammad Hasbi diterima oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Penajam Paser Utara, Tohar. Dalam pertemuan tersebut, Tohar menegaskan komitmen pemerintah kabupaten untuk mendukung penuh kebijakan dan program Kemendikbudristek dalam meningkatkan mutu pendidikan di Penajam Paser Utara, termasuk implementasi Kurikulum Merdeka.    

Terkait implementasi Kurikulum Merdeka, Kepala Disdikpora Kabupaten Penajam Paser Utara, Alimuddin menegaskan sekolah di kabupaten ini sudah tidak asing lagi dengan Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu semua sekolah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara mandiri pada tahun ajaran 2022/2023 ini. 

”Satuan pendidikan di Kabupaten Penajam Paser Utara tidak merasa kaget dengan adanya implementasi Kurikulum Merdeka, karena sudah mempelajarinya selama pandemi Covid-19 melalui Kurikulum 13 yang disederhanakan menjadi Kurikulum Darurat dan Kurikulum Merdeka,” jelasnya.

Di kabupaten ini satuan pendidikan sekolah dasar berjumlah 107 negeri dan swasta, semuanya menjalankan Kurikulum Merdeka secara mandiri. Begitu juga jenjang PAUD dan SMP. Para guru dan kepala sekolah optimistis bisa mengimplementasikan kurikulum ini dengan baik karena sudah punya pengalaman mengimplementasikannya.

“Dengan pengalaman pandemi Covid-19 selama dua tahun kemarin, teman-teman tenaga pendidik di Kabupaten Penajam Paser Utara secara tidak langsung diperkenalkan pada Kurikulum Merdeka. Mereka sudah menggunakan K-13 yang disederhanakan seperti Kurikulum Darurat. Pelaksanaan Kurikulum Darurat pada saat itu kan sebenarnya menuju pada Kurikulum Merdeka,” kata Alimuddin.

Kabupaten Penajam Paser Utara sudah memiliki 21 Sekolah Penggerak. Para guru dan kepala sekolah di kabupaten ini diperintahkan oleh Alimuddin untuk belajar kepada sekolah penggerak. Dan sekolah penggerak juga diminta melakukan pengimbasan ke sekolah-sekolah lain.  

”Ini juga yang membuat sekolah-sekolah di daerah kami tidak asing lagi dengan Kurikulum Merdeka. Mereka sudah belajar ke Sekolah Penggerak yang sudah lebih dulu menerapkan Kurikulum Merdeka,” katanya. 

Kepala Dinas melanjutkan, dari tiga pilihan implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri, satuan pendidikan di Kabupaten Penajam Paser Utara memilih menggunakan Kurikulum Merdeka tahapan mandiri berubah. Alasannya, tahapan mandiri berubah akan mengarah ke mandiri berbagi.

“Tidak ada salahnya kita mulai melangkah. Jika dalam tahap mandiri berubah kita tidak berhasil 100%, tidak apa-apa. Saya selalu mengajak teman-teman pendidik di sini learning by doing. Kita pelajari apa kekurangannya dan di kemudian hari pasti kita berhasil,” ujarnya penuh semangat.

Sementara itu, Kepala SDN 016 Penajam, Tri Sunarsih selaku tuan rumah kunjungan kerja Direktur Sekolah Dasar beserta tim menyampaikan, sekolahnya belum menjadi Sekolah Penggerak dan tidak memiliki Guru Penggerak. Meski demikian SDN 016 Penajam berusaha untuk mengikuti jejak Sekolah Penggerak dengan belajar dan meminta pengimbasan dari Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak.

“Kami berusaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah kami dengan terus belajar, berusaha mengikuti jejak Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak dengan meminta mereka datang ke sekolah kami untuk berbagi pengalaman dan metode pembelajaran. Saya sebagai kepala sekolah juga mengajak guru-guru di SDN 016 Penajam untuk saling berkomunikasi dengan Guru Penggerak. Alhamdulillah teman-teman Guru Penggerak di sini sangat responsif,” tutur Tri Sunarsih.

Nur Hidayati, Guru Kelas 4 SDN 016 Penajam membagikan pengalamannya yang sudah menerapkan Kurikulum Merdeka sejak awal tahun ajaran 2022/2023. Ia mengungkapkan, mengajar dengan menggunakan Kurikulum Merdeka anak-anak lebih semangat dan lebih bahagia dalam pembelajaran.

“Kurikulum Merdeka mengedepankan kreativitas dalam pembelajaran sehingga anak-anak senang. Anak-anak desa jarang melihat audio visual, ketika menghadirkan pembelajaran melalui video ternyata itu meningkatkan imajinasi mereka lebih baik. Untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka ini, saya belajar secara mandiri dan juga diajari oleh teman sesama guru, serta mendapatkan pelatihan dari pengawas,” ujarnya. 

Andi Nurlaela, Guru kelas 1 SDN 016 Penajam membagi pengalamannya dalam menggunakan akun belajar.id. Dirinya banyak belajar termasuk bagaimana memahami Kurikulum Merdeka walaupun belum sepenuhnya paham.

“Melalui akses terhadap platform Merdeka Mengajar, kami dapat belajar evaluasi diagnostik sehingga dapat memahami setiap kemampuan anak didik kami. Sebagai guru kami harus sabar menghadapi anak-anak dengan kemampuan yang berbeda-beda. Saya melakukan diagnosis untuk melihat kemampuan setiap murid. Setiap hari saya bisa melihat progress masing-masing murid. Kami juga sering bertemu dengan teman-teman guru lainnya untuk saling berbagi, saling mengajari kepada guru yang lain untuk bagaimana menghadapi setiap murid dengan kemampuan yang berbeda beda,” tuturnya.

Dalam paparannya, Direktur Sekolah Dasar Dr. Muhammad Hasbi menjelaskan, implementasi Kurikulum Merdeka menjadi salah satu opsi yang dapat dipilih secara sukarela oleh satuan pendidikan di Indonesia untuk tahun ajaran 2022/2023. Pada awalnya Kemendikbudristek memprediksi tidak sebanyak ini sekolah yang akan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2022/2023. Tapi kenyataannya, sebanyak 143 ribu sekolah siap mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

”Sesungguhnya kami sangat terkejut karena kami tidak pernah memprediksi bahwa animo pemerintah daerah dan satuan pendidikan begitu besar untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Ini merupakan anugerah yang besar bagi Kemendikbudristek. Karena itulah kami turun ke daerah untuk memberikan penguatan kepada pemda dan sekolah dalam implementasi Kurikulum Merdeka,” katanya.

Dr. Muhammad Hasbi menjelaskan, Kurikulum Merdeka melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya yaitu orientasi holistik, yaitu kurikulum dirancang untuk mengembangkan peserta didik secara holistik, mencakup kecakapan akademis dan non-akademis, kompetensi kognitif, sosial, emosional, dan spiritual. Kurikulum Merdeka berbasis kompetensi, dirancang berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan berdasarkan konten atau materi tertentu. Kurikulum Merdeka juga sangat kontekstual dan personal karena kurikulum dirancang sesuai konteks (budaya, misi sekolah, lingkungan lokal) dan kebutuhan peserta didik.

Direktur Sekolah Dasar berharap satuan pendidikan di Kabupaten Penajam Paser Utara dapat melaksanakan Kurikulum Merdeka secara menyeluruh. Karena Kurikulum Merdeka memiliki tiga keunggulan yaitu lebih sederhana dan mendalam, lebih merdeka, dan lebih relevan serta interaktif.

Satuan pendidikan juga dapat menentukan pilihan berdasarkan Angket Kesiapan Implementasi Kurikulum Merdeka yang mengukur kesiapan guru dan tenaga kependidikan. ”Tidak ada pilihan yang paling benar, yang ada adalah pilihan yang paling sesuai kesiapan satuan pendidikan. Semakin sesuai maka semakin efektif implementasi Kurikulum Merdeka,” kata Dr. Hasbi.

Ia melanjutkan, ada tiga pilihan implementasi Kurikulum Merdeka pada jalur mandiri. Pilihan pertama adalah Mandiri Belajar yaitu menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan. Pilihan kedua Mandiri Berubah, yaitu menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10. Sedangkan pilihan ketiga adalah Mandiri Berbagi dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar di satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

“Saya sangat mengapresiasi pemerintah daerah khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Penajam Paser Utara yang sudah mendorong satuan pendidikan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Ini sebuah langkah maju menuju peningkatan mutu pendidikan bagi anak-anak kita,” pungkasnya. (Hendriyanto)