Webinar Belajar Asyik Melalui Project Based Learning Menuju AKM

Guru harus terus melakukan improvisasi dan kreativitas dalam memberikan pembelajaran, salah satunya dengan metode Project Based Learning (PBL) yang sudah dicanangkan Mendikbudristek dalam Merdeka Belajar. Dan metode PBL ini bermuara kepada kemampuan guru untuk mendampingi peserta didik saat memberikan pembelajaran.

“Meskipun pandemi masih melanda, semangat berkarya untuk negeri harus membara. Mari kita siapkan anak-anak di Sekolah Dasar sebagai tunas-tunas Pancasila yang memiliki Profil Pelajar Pancasila guna menyiapkan SDM unggul di masa datang,” kata Direktur Sekolah Dasar, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., pada saat membuka kegiatan webinar “Belajar Asyik Melalui Project Based Learning Menuju AKM” yang ditayangkan di channel Youtube Direktorat Sekolah Dasar.

Webinar Belajar Asyik Melalui Project Based Learning Menuju AKM

Elizabeth Tjahja Darmawan, M.Pd selaku praktisi menambahkan, metode Project Based Learning (PBL) sangat tepat digunakan saat pembelajaran jarak jauh. Karena dengan menggunakan metode ini guru menjadi terpacu untk melihat permasalahan apa yang dihadapi peserta didik. Kemudian masalah tersebut dipecahkan bersama dengan siswa melalui pendekatan PJBL.

“Memecahkan premasalahan dengan pendekatan PBL tentunya harus mempertimbagngkan alat dan bahan yang mudah  ditemukan di lingkungan sekitar serta yang terjangkau. Sehingga metode ini pun dapat dilakukan di daerah 3T,” ujarnya.

Menurutnya,  PBL memiliki beberapa tahapan. Pertama, ada tahapan menentukan pertanyaan mendasar. Kedua adalah  mendesain perencanaan proyek. Sementara yang ketiga adalah menyusun jadwal Lalu memonitor kemajuan proyek. Tahapan berikutnya adalah menguji proses dan hasil belajar. Dan yang terakhir adalah evaluasi pengalaman.

“PBL dengan komponen STEAM atau Sains, Teknologi, Engineering, alArts dan Matematika sebetulnya meng-cover aspek komponen literasi dan numerasi yang kontekstual atau dunia nyata. Masalah yang diidentifikasi adalah yang terjadi di sekitar kehidupan peserta didik di rumah dan lingkungan sekolah,” kata Elizabeth.

Webinar Belajar Asyik Melalui Project Based Learning Menuju AKM

Kemudian project PBL lanjutnya, diarahkan untuk project berkolaborasi. Dengan demikian, pembelajaran melalui metode Project BasedLearning berbasis STEAM ini akan menstimulasi peserta didik sehingga tumbuh karakter gotong royong melalui kolaborasi.

“Kemudian mereka juga bisa menyelesaikan permasalahan, menghadapi persoalan yang ada di sekitar mereka sehingga tubuh sikap mandiri. Kemudian mereka berlatih untuk berpikir kritis dan kreatif,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, melalui metode PBL berbasis STEAM ini peserta didik pun akan melihat segala sesuatu secara holistic dan terpadu. Maka di situ akan lahir unsur-unsur beriman, bertaqwa, dan kebhinekaan global di dalam diri peserta didik.

“Ini merupakan wujud atau tujuan dari sebuah proses pembelajaran, yaitu menghasilkan peserta didik yang memiliki karakter profil pelajar Pancasila,” tambahnya.

Dr. Bagus Hary Prakoso, Peneliti Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan menyampaikan dari hasil angket yang dibuat ternyata masih banyak guru yang belum paham terkait dengan HOTS (Higher Order Thinking Skills). Padahal dengan HOTS akan mepermudah pembuatan soal AKM.

“Jadi hasil dari angket tersebut masih dibawha 50% pemahaman guru tentang HOTS, padahal ini akan mempermudah Guru dalam membuat soal. Karena sebagian besar soal AKM itu berkarakter HOTS,” paparnya.

Seanjutnya ketika membicarakan problem pendidikan lokal dan global, ada unsur yang dapat direspons. Untuk tingkat global ada 4 potensi yang dinilai atau biasa disebut dengan 4C, yaitu  critical thinker, communicator, collaborator dan creator. “4C ini sejalan dengan Profile Pelajar Pancasila. Ada unsur kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan gotong royong. Di tingkat lokal kita punya Profil Pelajar Pancasila, di tingkat global ada 4C,” tutur Bagus.

Ia juga menegaskan terkait dengan pendidikan di indusstri 4.0 ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Di antaranya adalah membangun inovasi. “Ketika ingin membangun inovasi pendidikan di era industri 4.0 ini kita harus pandai menerapkan strategi. Salah satunya melalui metode PBL-HOTS. Karena metode tersebut sangat bernuansa memaksa siswa agar berpikir kreatif dan kritis.  Jadi kita harus berupaya mengkorelasikan antara AKM, PBL dan isu lokal dan isu global,” pungkasnya.

Semenrara itu, Setiyo Isworo, Training Manajer Milenia 21st Century Academy mengatakan, pendidikan yang baik berawal dari siklus yang baik pula. Guru yang bahagia akan menciptakan pembelajaran luar biasa seperti belajar yang menarik dan asyik yang disukai oleh anak-anak.

“Jika guru berhasil menciptakan suasana menyenagkan dalam pembelajaran maka tujuan pembelajaran yang baik pun akan tercapai, tujuan pembelajaran tercapai akan berimbas kepada peserta didik yang bahagia,” ujar Setiyo.

Ia melanjutkan metode pembelajaran yang menyenangkan yang ia ajarkan adalah dengan melibatkan psikososial, HOTS, kreatif dan lifeskill. Sementara itu, media belajarnya sendiri menggunakan program belajar dari rumah melalui TV edukasi.

“Kami juga melakukan move learning dengan menggunakan tayangan audio visual untuk menyampaikan materi pembelajaran seperti video pembelajaran, film motivasi, film dokumenter, video tutorial dan sebagainya. Kami juga menggunakan platform rumah belajar,” tutur Setiyo.

Selanjutnya, kata Setiyo, pihaknya juga menggunakan metode pembelajaran diskusi kelompok. Lalu menggunakan metode permainan seperti flashcard, teka-teki silang, bermain peran atau role-play. Ada juga cerita bersambung, tebak gambar, tebak profesi dan masih banyak lagi.

“Kita juga memberikan edukasi melalui games dan juga memberikan karya motivasi seperti surat untuk pak menteri. Kami juga tidak lupa memberikan pembelajaran dari lingkungan. Identifikasi sumber-sumber belajar yang ada di sekitar sekolah atau masyarakat. Untuk menggunakan metode ini harus dipastikan tempatnya aman. Jangan lupa mematuhi aturan yang berlaku dan memenuhi protokol kesehatan," ujarnya mengakhiri. (Hendriyanto)