Sosialisasi dan Tindak Lanjut PROGAS 2018 PROGAS HARUS MENGHIDUPKAN KEMBALI UKS “Di banyak sekolah, sekarang ini yang tersisa hanya plang namanya: Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kalau pun masih ada ruang UKS, kondisinya kumuh dan tidak terawat,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, Ph.D., ketika memberikan sambutan pembukaan Sosialisasi dan Tindak Lanjut Program Gizi Anak Sekolah Tahun 2018, di Bogor, 8-10 Februari 2018. Dirjen Hamid menegaskan bahwa sebenarnya sekolah dasar (SD) sudah memiliki kegiatan UKS. “Progas ini sebenarnya merupakan salah satu kegiatan UKS. Saya pesan, UKS harus dihidupkan kembali. Jangan hanya untuk kepentingan lomba,” katanya. Pentingnya UKS dihidupkan kembali, menurut Dirjen Hamid, setidaknya karena tiga hal. Pertama, di dalam UKS ada pendidikan kesehatan dan olahraga. Kedua, UKS merupakan pelayanan kesehatan bagi anak. Ketiga, UKS merupakan kegiataan pembinaan lingkungan sekolah dan perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan Sosialisasi dan Tindak Lanjut Progas 2018 yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Ditjen Dikdasmen, sebagai tindak lanjut kegiatan Progas yang sudah dilaksanakan selama kurun tahun 2016-2017 lalu. Progas 2016 dilaksanakan di 4 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Provinsi Banten yang melibatkan 146 SD. Progas 2017 meluas sasarannya, yakni di 11 kabupaten dan lima provinsi yang melibatkan 563 SD. Progas 2018 digelar di 64 kabupaten di 20 provinsi, melibatkan 643 SD dengan sasaran 100.136 siswa. Progas 2018 juga berbeda karena daerah sasaran merupakan bagian dari 100 kabupaten stunting (gizi kronis yang menyebabkan anak sangat pendek) yang ditetapkan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) . TNP2K merupakan Lembaga yang dibentuk sebagai wadah koordinasi lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan di tingkat pusat yang diketuai Wakil Presiden Republik Indonesia, yang bertujuan untuk menyelaraskan berbagai kegiatan percepatan penanggulangan kemiskinan. Pada bulan Februari hingga Maret mendatang, Dit. PSD menggelar Bimbingan Teknis Progas 2018. Bimtek mengundang perwakilan dari 64 kabupaten sasaran Progas. Setiap kabupaten terdiri 35 orang yakni perwakilan dinas pendidikan, dinas kesehatan, dan PKK --masing-masing seorang--, dua orang dari puskesmas dan perwakilan dari 10 SD sasaran, yang terdiri dari kepala sekolah, bendahara, dan ketua kelompok masak. “Alarmnya sudah menyala nyaring jika masalah gizi anak tidak dibenahi. Sejumlah kasus kesehatan yang terjadi, seperti campak pada anak-anak yang mengakibatkan kematian, sebenarnya karena anak kurang gizi dan lingkungan tidak bersih,” kata Pak Dirjen menegaskan. Dirjen Hamid juga mengingatkan untuk menghidupkan kembali senam. Tidak harus seperti dulu, yakni Senam Kesegaran Jasmani, namun bisa disesuaikan dengan gerak senam yang berkembang saat ini. “Saya juga ingatkan kembali, meski banyak diprotes guru-guru dan kepala sekolah, yakni aturan larangan merokok di lingkungan sekolah . Aturan ini sudah ada Permendikbud-nya. Mari kita patuhi. Tidak mungkin mendidik anak-anak hanya dengan kata-kata , harus dengan contoh. Sanitasi sekolah, di antaranya keberadaan toilet sekolah bersih dan sehat, juga menjadi sorotan Dirjen Hamid. “Masih banyak SD tanpa toilet. Padahal sejak 1951 SD sudah dikelola otonom, bukan sejak era UU Pemerintahan Daerah. Saya paling malu kalau masih ada sekolah tidak punya toilet. Saya ingin, kepada 64 kabupaten pelaksana Progas 2018 ini membedah persoalan UKS. Kebersihan dan kesehatan sekolah harus dihidupkan kembali. Piket kebersihan hampir tidak ada lagi di sekolah-sekolah. Tolong hidupkan kembali piket kebersihan,” katanya. @ditpsd