Webinar Pengenalan dan Pencegahan Penyakit Menulat

Ada banyak penyakit menular di dunia ini. Yang sudah umum diketahui oleh masyarakat salah satunya adalah tuberkolosis atau yang biasa disingkat dengan TBC.

Penyakit menular sendiri adalah infeksi yang disebabkan oleh mikro organisme virus, bakteri, jamur dan parasit. Penyakit menular merupakan penyakit yang bisa menularkan dari satu orang ke orang lain. Penularan penyakit ini biasanya melalui kontak secara langsung dari orang yang sakit ataupun melalui perantara.

Bertepatan dengan hari TBC sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret, Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbudristek mengadakan webinar bertajuk “Pengenalan dan Pencegahan Penyakit Menular Sejak Dini Sebagai Bagian Penguatan Pendidikan Karakter".

“Memahami kehidupan sekitar termasuk mengenali ciri dan macam-macam penyakit menular, merupakan suatu pengetahuan dan pemahaman dasar untuk anak-anak,” kata Dr. Ir. Eko Warisdiono. MM., Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Sekolah Dasar.

Eko melanjutkan, TBC adalah salah satu penyakit menular yang harus diketahui oleh anak-anak. TBC juga bisa jadi satu jenis penyakit yang mungkin jarang dikenal oleh anak-anak. Padahal anak-anak mendapatkan ancaman dari penyakit tersebut.

“Maka sangat penting bagi kita bersama-sama memberikan pemahaman kepada orangtua dan anak-anak mengenai penyakit menular,” kata Eko Warisdono pada saat memberikan sambutannya dalam webinar.

Masyarakat, orang tua dan anak-anak harus mengetahui bagaimana mengenali penyakit menular dan bagaimana mengelola penyakit tersebut. Agar dapat mencegah penularannya baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat.

“Webinar yang kita laksanakan ini merupakan salah satu upaya dari Direktorat SD dalam rangka memberikan pemahaman tentang penyakit menular. Upaya pemahaman lainnya bisa berupa aktivitas, baik itu melalui UKS ataupun melalui aktivitas mata pelajaran,” ujar Eko.

Ia berharap melalui webinar, upaya pengenalan dan pencegahan penyakit menular ini dapat tersampaikan dengan baik.

“Semoga kegiatan ini dapat dimaknai sebagai tambahan informasi. Sehingga pada saat aktivitas pembelajaran bisa digunakan sebagai salah satu bahan atau materi yang bisa diberikan kepada peserta didik kita mulai dari kelas 1 sampai kelas 6,” imbuhnya.

Sementara itu Dr. Asik Surya MPPM., Koordinator Substansi Arbovirosis Dirjen P2P Kementerian Kesehatan mengatakan, penyakit TBC merupakan penyakit menular secara langsung yang disebabkan oleh mycobacterium.

“Penyakit TBC bukan penyakit keturunan, namun yang pasti penyakit TBC dapat disembuhkan karena ada obatnya. Selain itu penyakit TBC juga dapat disembuhkan sampai tuntas dengan berobat selama enam bulan,” kata Dr. Asik Surya.

Beliau melanjutkan penyakit tuberculosis dapat menular melalui batuk ataupun dari udara yang terhirup langsung. Contohnya melalui berbicara, melalui batuk, bersin, bernyanyi kepada audiens yang nanti akan terhirup kemudian masuk ke dalam paru-paru. Penyakit TBC dapat menular kepada siapapun baik orang dewasa maupun anak-anak.

“Penyakit ini memang menular, terutama jika daya tahan tubuh lemah maka orang akan mudah menjadi sakit. Tetapi kalau daya tahan tubuh kuat maka kita akan tetap sehat,” ujarnya.

Webinar Pengenalan dan Pencegahan Penyakit Menulat

Dr. Asik Surya menekankan anak di bawah usia lima tahun sangat beresiko mengalami penularan penyakit TBC. Orang-orang yang ada di asrama penampungan dengan kondisi voluem berdesak-desakannya tinggi juga berisiko penularan.

“Orang penderita HIV karena daya tahan tubuhnya lemah maka mereka juga akan mudah tertular penyakit termasuk TBC. Selain penderita HIV, penderita penyakit lain misalkan kekurangan gizi, diabetes juga bisa mudah untuk terserang TBC,” tuturnya.

Gejala utama TBC adalah batuk terus menerus selama 2 minggu, dan menetap walaupun sudah diberi obat. Jika sudah mengalami gejala ini maka si penderita harus segera berobat ke rumah sakit. Gejala lainnya bisa juga demam, meriang, sesak napas, berat badan turun, terkadang batuk berdahak dengan darah, nafsu makan menurun dan seterusnya.

Penyakit TBC juga bisa menyerang tulang belakang, selaput otak atau meningitis tuberculosis, kelenjar kulit serta yang lainnya, dan ini menjadi penyebab kematian yang drastis.

Cara mencegah penyebaran penyakit TBC yang paling utama adalah bagi penderita dengan minum obat secara lengkap dan teratur sampai sembuh. Karena minum obat sampai sembuh dan teratur juga merupakan pencegahan di dalam komunitas agar tidak menularkan kepada yang lain. 

“Kemudian bagi yang bukan penderita harus memahami etika batuk. Kalau bersin atau batuk itu harus menghindar dari orang, atau menutup mulut dengan tangan. Selain itu juga harus mengenakan masker,” tandasnya.

Dr. Carmelia Basri, M.Epid, Advisor TB WHO South East Asia Advisor AIDS TB & Malaria USAID dan UNDP Indonesia menambahkan, penyakit TBC menjadi salah satu penyebab kesakitan yang sering terjadi pada anak. Namun, dengan diagnosis yang tidak semudah pada orang dewasa. Selain itu anak-anak juga beresiko untuk menderita TBC berat terutama kalau dia tidak pernah mendapat vaksin BCG.

“Imunisasi BCG pada anak-anak sampai dengan sekarang masih tetap diberikan. Karena meskipun imunisasi BCG ini tidak 100% memproteksi anak-anak dari TBC tetapi vaksinasi BCG itu terbukti menghindari anak-anak dari resiko menjadi TBC berat dan kematian,” katanya.

Webinar Pengenalan dan Pencegahan Penyakit Menulat

Dr. Carmellia memaparkan cara mencegah terinfeksi penyakit TBC di sekolah. Selain memakai masker, menerapkan etika batuk, menjaga lingkungan sekolah terutama kelas, dan memastikan ventilasi serta pertukaran udara di semua ruangan kelas harus berjalan dengan baik.

“Contohnya jendela sekolah engselnya jangan di atas, karena kalau yang engselnya di atas biasanya tidak bisa dibuka lebar. Jadi disarankan jendela sekolah dibuat dengan daun jendela yang bisa dibuka ke samping, agar pertukaran udara bisa terjadi dengan baik,” katanya.

Lalu ventilasi di kelas atau di ruangan sekolah harus dapat memastikan bahwa pertukaran udara terjadi alamiah, dibandingkan dengan ruangan tertutup dan pakai AC. Jika ruangan sekolah memiliki AC maka harus ada alat khusus untuk menjaga pertukaran udara berjalan dengan baik.

Selanjutnya pencegahan yang kedua adalah mencegah, yang artinya orang-orang yang sudah terinfeksi bisa dicegah supaya jangan sakit. Caranya memperbaiki gizi,  kemudian jangan lupa melakukan pengobatan. Seiring berkembangnya zaman sekarang justru ada pencegahan yang disebut sebagai tuberkulosis preventif treatment.

“Jadi orang-orang yang terinfeksi tapi tidak sakit TBC bisa mendapatkan preventif treatment supaya dia tidak sampai jatuh pada keadaan sakit TBC,” tutupnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Baharudin, M.Pd., Kepala SD Kemala Bhayangkari Balikpapan yang merupakan salah satu narasumber webinar mengungkapkan, upaya pencegahan penularan penyakit TBC atau yang lainnya yang paling tepat dilakukan untuk institusi pendidikan adalah, sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar harus menjadi health promotion score. Artinya sekolah yang dapat meningkatkan derajat kesehatan warga sekolahnya.

“Salah satu yang menjadi titik tumpu kesehatan di sekolah adalah melalui PHBS, yaitu perilaku hidup bersih dan sehat yang dimulai dari diri sendiri dan imbasnya kepada teman, keluarga di rumah, dan masyarakat sekitar,” tutur Baharudin.

Tahapan mengawali perilaku hidup bersih itu, pertama, harus diketahui dulu seperti apa macam-macam penyakit menular dan yang tidak menular. Selain itu juga harus diberi pemahaman mana penyakit yang bisa berkembang di sekolah, di masyarakat atau di rumah. 

Setelah itu tahap selanjutnya adalah melaksanakan pencegahan melalui evaluasi pencegahan dengan menentukan siapa saja yang dilibatkan.

“Warga sekolah juga harus membiasakan menerapkan 3M dan harus menjadi budaya yang dapat dikembangkan di satuan pendidikan. Jika kita menerapkan dasar-dasar itu maka kita akan menjadi sekolah sehat,” pungkasnya. (Hendriyanto)