Webinar Perangi Perundungan di Sekolah

Sebagai tempat menimba ilmu, perundungan seharusnya tidak terjadi di satuan pendidikan. Pihak sekolah harus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak.

Salah satu cara menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan adalah dengan menumbuhkan kehidupan pergaulan yang harmonis dan kebersamaan antar peserta didik dengan tenaga pendidik, orang tua serta masyarakat. Tindakan ini juga sebagai bentuk pencegahan perundungan di lingkungan anak-anak.

Guna mendorong kondisi tersebut, Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbudristek kembali melaksanakan webinar dengan tema pencegahan perundungan di sekolah, yang dilaksanakan pada Rabu, 3 November 2021. Webinar tersebut dapat ditonton ulang di link berikut ini: https://youtu.be/AUBqOv8nXPc.

M. Ihsan, S.H., M.H., Tenaga Ahli Bidang Hukum Direktorat Sekolah Dasar dalam webinar tersebut menjelaskan, mencegah kekerasan dan perundungan di satuan pendidikan adalah tanggung jawab semua pihak yaitu guru, orangtua, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Tanpa ada sinergi elemen-elemen tersebut maka perundungan akan terus terjadi. Baik di lingkungan pendidikan maupun di lingkungan masyarakat.

Webinar Perangi Perundungan di Sekolah

“Sementara itu tim pencegahan tindak kekerasan sendiri adalah perwakilan guru, perwakilan siswa dan perwakilan orang tua/wali. Tugas tim pencegahan antara lain mengkoordinir dan memantau pelaksanaan kewajiban-kewajiban satuan pendidikan dalam upaya pencegahan tindak kekerasan. Melaksanakan kegiatan-kegiatan pencegahan tindakan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan dan melaporkan upaya pencegahan kepada kepala dinas secara teratur setahun sekali,” kata Ihsan.

Upaya pencegahan oleh satuan pendidikan yaitu dengan menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan, membangun lingkungan yang aman, nyaman dan menyenangkan serta jauh dari tindak kekerasan. Satuan pendidikan juga wajib menjamin keamanan, keselamatan dan kenyamanan bagi peserta didik. Dan wajib segera melaporkan kepada orang tua atau wali, termasuk mencari informasi apabila telah terjadi dugaan tindak kekerasan kepada murid sebagai korban atau pelaku.

“Kewajiban satuan pendidikan dalam upaya pencegahan yaitu menyusun prosedur operasi standar (POS) mengacu pada pedoman Kemendikbudristek, membentuk tim pencegahan, melakukan sosialisasi POS dan memasang papan layanan pengaduan,” imbuhnya.

Tata Sudrajat, Deputi Dampak Program dan Kebijakan Save the Children Indonesia menyampaikan, ada 56 sekolah yang sudah bermitra dengan Save the Children Indonesia dan berpartisipasi aktif dalam pelatihan untuk pengembangan kode etik sekolah. Pengembangan kode etik sesuai konteks sekolah secara partisipatif melibatkan semua komponen sekolah. Termasuk konsultasi dengan perwakilan anak dan tata perilaku sekolah.

Webinar Perangi Perundungan di Sekolah

“Sebanyak 711 guru, kepala sekolah dan pengawas SD telah dilatih mengenai pendekatan disiplin positif sebagai upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman bagi anak. Ada 550 orang tua berpartisipasi dalam sesi pengasuhan positif. Terbentuknya forum anak di 56 sekolah dasar melalui kegiatan sahabat baca dan melaksanakan kampanye penghentian kekerasan pada anak atau stop bullying,” jelas Tata Sudrajat.

Selain memberikan edukasi dan pendampingan terkait stop kekerasan pada anak, Save the Children Indonesia juga membuat mural yang mempromosikan pesan literasi dasar dan stop kekerasan pada anak di 56 SD.

Save the Children Indonesia juga membentuk Tim PATBM di 7 kecamatan dan saat ini telah melakukan kegiatan sosialisasi, pencegahan serta penanganan kasus kekerasan terhadap anak. Aliansi PKTA juga terbentuk di tingkat provinsi terdiri dari 28 NGO dan FBO.

“Aliansi aktif melakukan advokasi terhadap kasus kekerasan. Dan melakukan kampanye serta menulis buku refleksi religi yang berbasis penghentian kekerasan terhadap anak untuk dipergunakan di 5 lembaga keagamaan dan masyarakat umum,” katanya.

Vina, S.E., M.Pd., Tega Pendidik SDN Sultan Iskandar Muda, Medan menyampaikan salah satu praktik baik dalam mencegah perundungan di sekolah. Yaitu dengan penerapan Pancasila dalam pendidikan multikultural.

Webinar Perangi Perundungan di Sekolah

“Di sekolah kami terdapat beberapa rumah ibadah dan pohon kerukunan, merawat kebhinekaan dengan toleransi dengan segmen ritual. Bertujuan membudayakan siswa melihat ragam ritual agama kepercayaan dan juga segmen hiburan/pentas seni lintas agama,” kata Vina.

Aksi nyata dalam meningkatkan nilai religius dan toleransi dilakukan dengan pembelaaran agama Islam berupa pesantren kilat, pengajian bulanan dan mengaji Al-Qur’an. Untuk yang beragama Kristen dengan pendalaman alkitab, retreat  dan kebaktian mingguan. Agama Buddha dengan kelas diskusi dhamma, kathina, asadha, maghapuja dan pemasangan pelita. Agama hindu dengan ganesha caturthi, thai poosam, deepavali, nawaratri dan mahasivarati.

“Kami berupaya memberikan akses pendidikan bagi semua, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan program anak asuh silang beranta. Program ini memberikan subsidi pengurangan uang sekolah. Kami juga punya Satyan Tan Scholarship yang merupakan wujud kepedulian pendiri yayasan untuk menjamin pendidikan siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri sampai menjadi sarjana,” ujarnya.

Dra. Wiwik Budiasih, tenaga pendidik SDN Pondok Kacang Barat 03, Tangerang Selatan turut menyampaikan praktik baik yang dilakukan pihaknya untuk mencegah kekerasan atau perundungan di sekolah. Dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang positif, aman dan menyenangkan, pihaknya melakukan penataan kelas yang baik. Karena menurutnya ruang kelas sangat mempengaruhi terbentuknya pola pikir siswa mengenai belajar.

Webinar Perangi Perundungan di Sekolah

“Setting kelas bisa menjadi hal pertama yang diubah sebagai manifestasi dari proses menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan membuat siswa bersemangat belajar di kelas. Memfasilitasi keunikan siswa, meningkatkan kerjasama, merefresh suasana dan kesehatan mata dan memberikan akses yang sama kepada semua siswa,” tuturnya.

SDN Pondok Kacang Barat 03 mengupayakannya dengan sasaran 4 area. Yaitu melakukan pembelajaran yang kontekstual PJBL, PBL dan SEL, melibatkan orang tua, siswa dan masyarakat, memunculkan kegiatan yang menumbuhkan karakter dan menciptakan ekosistem belajar yang memanusiakan.

“Pembelajaran yang kontekstual/relevan berbasis project, PBL dan SEL, lingkungan sekolah/belajar positif yang memberi ruang pengembangan fisik dan emosi. No Horror Spot seperti lorong yang gelap dan lembab. Kami juga memberi penghargaan untuk karakter seperti kebaikan, kehadiran, dan emosi (student of month/week),” katanya.

Selain itu juga ada zona emosi, circle time, zona kesepakatan dan zona kode etik serta konsekuensi bangun kesepakatan kelas dengan kode etik yang jelas, bukan hukuman melainkan konsekuensi, zona kedatangan/kehadiran, zona refleksi dan zona karya.

Kemudian praktik baik dalam pencegahan tindak kekerasan di sekolah, Bina mengatakan pihaknya melakukan gerakan sekolah menyenangkan. Ketika menghadapi pelaku maupun korban yang terlibat dalam perundungan, ada beberapa pertanyaan yang disampaikan kepada mereka.

Ketika berbicara dengan pelaku, pihak sekolah yang menangani akan mengajukan pertanyaan: Apa yang terjadi? Apa yang kamu pikirkan saat itu? Apa yang kamu pikirkan sejak itu? Menurut kamu siapa saja yang akan terdampak dari perbuatan? Bagaimana? Apakah kamu perlu melakukan sesuatu untuk bagaimana sekolah dapat memastikan bahwa kejadian ini tidak terulang lagi?

”Sementara ketika berbicara dengan korban, pihak sekolah mengajukan pertanyaan sebagai berikut : Apa yang kamu pikirkan ketika itu terjadi? Apa yang kamu pikirkan sejak itu? Bagaimana kamu terdampak? Adakah orang lain yang juga mengalami hal sepertimu? Apa yang paling sulit bagimu? Apa yang kamu butuhkan agar kamu merasa lebih baik/kondisi menjadi lebih baik? Apa yang harus kami pastikan agar hal ini tidak terjadi lagi?” tutupnya. (Hendriyanto)