Peningkatan Literasi dan Numerasi Melalui Program Kampus Mengajar

Dalam rangka meningkatkan literasi dan numerasi di satuan pendidikan, Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbudristek kembali menggelar webinar pada Senin, 25 Oktober 2021. Kali ini temanya adalah Peningkatan Literasi dan Numerasi Melalui Program Sekolah Penggerak. Webinar ini dapat ditonton ulang di channel Youtube Direktorat Sekolah Dasar dengan link sebagai berikut: https://youtu.be/ioaE1Gsomi8.

Literasi dan numerasi merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik khususnya di jenjang sekolah dasar, agar dapat menyesuaikan diri dalam berbagai konteks kehidupan, baik personal, sosial maupun profesional.

Kemendikbudristek mendorong peningkatan literasi dan numerasi dengan berbagai cara, salah satunya melalui program Kampus Mengajar. Dalam program ini, Kemendikbudristek mengirimkan mahasiswa terpilih ke sekolah dasar dengan tujuan membantu empat hal, yaitu literasi, numerasi, adaptasi teknologi dan administrasi.

Mahasiswa yang ditempatkan di sekolah dasar menjadi partner kolaborasi bagi guru di sekolah tersebut. Kriteria sekolah dasar yang dipilih sebagai tempat mengajar mahasiswa adalah sekolah yang terakreditasi C atau B dengan jumlah siswa yang sedikit atau terletak di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

“Adik-adik mahasiswa dari Kampus Mengajar tentunya memberikan sebuah energi bagi peserta didik kita dan kawan-kawan guru di sekolah untuk dijadikan partner. Dengan kehadiran adik-adik mahasiswa ini juga diharapkan satuan pendidikan sekolah dasar bisa meningkatkan kreativitasnya dalam mempersiapkan dan mengedukasi 6 literasi dasar yang harus diberikan,” ujar Direktur Sekolah Dasar, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd.

Beliau melanjutkan, sekolah dasar akan melaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) pada pertengahan bulan November 2021 mendatang. Tentunya tidak hanya literasi dan numerasi saja yang harus disiapkan, tetapi juga karakter anak-anak di lingkungan belajar serta bagaimana anak-anak bisa menguasai teknologi. Karena Asesmen Nasional akan dilaksanakan dengan metode berbasis komputer. Ini merupakan sesuatu hal yang baru untuk sekolah dasar.

”Peserta didik sekolah dasar perlu didampingi agar mampu menggunakan komputer sehingga Asesmen Nasional dapat berjalan lancar. Mudah-mudahan melalui kehadiran adik-adik mahasiswa ini lebih memperkuat kembali kesiapan sekolah, untuk bisa menghadapi ANBK,” ujar Sri Wahyuningsih.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Aris Junaidi, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbudristek menyampaikan bahwa sebagai upaya peningkatan literasi dan numerasi dalam program Kampus Mengajar, mahasiswa telah mendapatkan pembekalan yang luar biasa.

Peningkatan Literasi dan Numerasi Melalui Program Kampus Mengajar

Melalui Kampus Mengajar ini diharapkan menjadi dorongan untuk mencetak SDM unggul. Selain itu Aris kembali mengingatkan apa yang selalu disampaikan oleh Mas Menteri Nadiem Anwar Makarim terkait Profil Pelajar Pancasila dalam Kampus Mengajar.

“Artinya mahasiswa yang mandiri, mahasiswa yang punya sifat gotong royong, kebhinekaan global, yang berpikir kritis. Kita dorong semuanya menjadi Pelajar Pancasila. Selain itu mahasiswa juga sebagai duta perubahan perilaku, artinya mahasiswa bisa memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pandemi Covid-19, taat terhadap protokol kesehatan dan juga prinsip-prinsip perlindungan anak lainnya,” imbuh Aris.

Sementra itu Drs. Alimudin, M.Si., Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Penajem Paser Utara menambahkan, dari empat hal yang diajarkan dalam Kampus Mengajar, yang paling dibutuhkan adalah literasi, numerasi dan teknologi.

Peningkatan Literasi dan Numerasi Melalui Program Kampus Mengajar

“Saya menilai kami lebih membutuhkan literasi, numerasi dan pembelajaran teknologi. Peserta didik harus sudah bisa membaca dan berhitung. Karena ada kekhawatiran bagi kami terkait dengan kemampuan literasi dan numerasi pada peserta didik di masa pandemi Covid-19 ini,” kata Alimudin.

Oleh karena itu Alimudin menyampaikan sarannya agar program Kampus Mengajar diperpanjang. “Perpanjang waktunya sehingga mereka bukan sekadar menyampaikan pengetahuan kepada siswa-siswa, tetapi juga mereka belajar melalui praktik langsung. Sehingga begitu kembali ke kampus, mereka bisa menemukan sesuatu yang baru. Yang kemudian bisa menjadi modal pada saat nanti mereka terjun di dunia kerja,” katanya.

Dian Natalia Widiasih, Guru SD Kristen Kalam Kudus, Kesamben, Kota Blitar juga bercerita terkait program Kampus Mengajar, dimana sekolahnya menerima 6 mahasiswa dari beberapa kampus yang berbeda, dan langsung memasukkan mereja ke tiap-tiap kelas. “Karena kebetulan sekolah kami ini ada 6 kelas jadi setiap mahasiswa membantu masing-masing kelas,” kata Dian.

Peningkatan Literasi dan Numerasi Melalui Program Kampus Mengajar

Ia menyampaikan, dengan adanya program Kampus Mengajar ini pihaknya sangat terbantu. Terutama dalam hal pemberian literasi dan numerasi bagi anak-anak. Karena menurut Dian, dengan sekolah daring yang selama ini dilakukan membuat anak-anak kurang maksimal mendapatkan materi pembelajaran.

“Nah, dengan adanya teman-teman dari kampus mengajar ini dan juga didukung dengan dimulainya PTM terbatas, sangat membantu kami dalam memberikan pembelajaran baik literasi maupun numerasi kepada peserta didik. Kehadiran teman-teman mahasiswa yang mendampingi guru di setiap kelas sangat membantu,” ujarnya. (Hendriyanto)