Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sudah diwajibkan dibuka untuk tahun ajaran baru 2021/2022. Namun PTM terbatas hanya boleh dilakukan di zona hijau Covid-19. Sedangkan untuk zona merah dan oranye, sangat tidak diizinkan. Hal tersebut ditegaskan Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., dalam webinar Penerapan Protokol Kesehatan dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, yang tayang di channel Youtube DitpsdTv, Jum’at, 23 Juli 2021.

Sri Wahyuningsih mengingatkan, setiap sekolah yang akan memberlakukan PTM terbatas harus menyiapkan semua dengan baik. Standarnya harus sesuai dengan daftar periksa dalam SKB 4 Menteri. Sementara itu, siswa yang dibolehkan mengikuti PTM terbatas adalah siswa yang sudah mendapatkan izin dari orang tuanya.

“Karena kasus Covid-19 terus meningkat, beberapa wilayah terpaksa membatalkan PTM terbatas. Ini memberikan kekecewaan bagi anak-anak, orang tua dan guru yang sudah sangat menginginkan PTM dilaksanakan. Itu karena mereka sadar banyak dampak-dampak negatif yang timbul akibat pembelajaran dari rumah. Dan ini sangat memengaruhi psikologis anak dan orang tua,” tutur Direktur Sekolah Dasar.

Selain menyiapkan daftar periksa sesuai standarisasi SKB 4 Menteri, Sri Wahyuningsih juga menyampaikan setiap sekolah harus menyiapkan Satgas Covid-19 dan melakukan optimalisasi UKS. Sekolah wajib menyosialisasikan rencana pembelajaran tatap muka terbatas pada orang tua dan masyarakat. Itu dimaksudkan agar kesehatan dan keselamatan di satuan pendidikan dapat terjaga.

“Terkait dengan PTM terbatas yang diselenggarakan di daerah zona hijau, mulai dari Pemerintah Daerah, Dinas Pendidikan dan satuan pendidikan, harus memantau dan mengoptimalkan fasilitas UKS di sekolah. Itu dilakukan agar semua dapat berjalan maksimal dan dapat difungsikan,” imbuh Sri Wahyuningsih.

Selain itu, lanjutnya, prosedur-prosedur yang lain pun harus diterapkan. Di antaranya, perilaku hidup bersih dan sehat serta mewajibkan penggunaan masker dengan baik dan benar.

Sekolah harus menyiapkan fasilitas cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Rasionya disesuaikan antara jumlah sarana cuci tangan dan jumlah siswa. Rasio ini harus proporsional agar tidak terjadi penumpukan ketika anak-anak menggunakan fasilitas cuci tangan.

“Semua harus diatur. Jarak antara anak satu dan yang lainnya dan orang lain minimal satu setengah meter, baik di luar kelas maupun di dalam kelas. Selain itu, anak-anak atau warga sekolah harus menerapkan etika batuk dan bersin,” pungkasnya.

Gamayanti dari Ikatan Psikologi Klinis Indonesia menjelaskan, dampak pandemi ini memang cukup berpengaruh kepada anak-anak. Sama halnya yang terjadi kepada orang tua yang stres, pandemi juga mampu membuat anak terganggu secara psikologis.

Webinar Penerapan Protokol Kesehatan dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Pandemi yang mengharuskan orang membatasi aktivitas bisa memberikan dampak psikologis anak terhadap fisiknya. Di antaranya, denyut jantung dan tekanan darah yang tidak teratur, menjadi tegang, berkeringat, gemetar dan stres yang meningkat.

“Secara emosi, anak-anak juga menjadi cemas. Mereka sedih karena tidak bisa bermain dengan teman-temannya secara bebas seperti dulu. Ini bisa membuat anak mudah tersinggung, emosi labil, motivasi lebih berkurang dan menjadi pesimistis. Selain itu, juga bisa memunculkan perilaku-perilaku yang tidak diinginkan, seperti perubahan pola tidur dan pola makan,” ujarnya.

Di satu sisi, lanjut Gamayanti, ketika beban tersebut semakin dirasakan anak-anak, maka bisa muncul perilaku membangkang, rewel dan suka menggigit kuku. Dan sikap ini akan berimbas kepada malas belajar.

Webinar Penerapan Protokol Kesehatan dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

“Stres akibat pandemi ini juga bisa memengaruhi terhadap kemampuan kognitif. Konsentrasi bisa terganggu, anak menjadi lebih pelupa, persepsi juga menjadi terganggu, sehingga ada kendala dalam mata pelajaran secara umum. Belajar juga menurun, kemampuan untuk memecahkan masalah pun ikut menurun,” imbuhnya.

Survei Ikatan Psikologi Klinis Indonesia dan Puslitjak Kemendikbudristek menunjukkan, kondisi saat ini semua orang dituntut secara cepat untuk mengubah dan beradaptasi dengan situasi.

“Saat ini seluruh aspek kehidupan mengalami dampak. Mau tidak mau harus mampu mengikuti perubahan agar dapat bertahan, termasuk mendampingi anak-anak agar mampu melalui masa ketidakpastian ini dengan baik,” tutupnya. (Hendriyanto)