Dalam rangka memulihkan dan meningkatkan kualitas pendidikan siswa SD/MI dari dampak pandmei Covid-19, Kemendikbudristek bekerjasama dengan Kementerian Agama, Bappenas dan program inovasi, yaitu program kemitraan pemerintah Indonesia dan Australia, kembali menggelar temu inovasi yang ke-12 pada Jumat, 1 Oktober 2021.

Temu inovasi merupakan sebuah program tahunan yang sudah dilaksanakan dari sejak tahun 2018, bertujuan untuk menghadirkan ruang berbagi dan diskusi terkait upaya bersama, dalam memulihkan pembelajaran siswa.

Dr. Ir. Subandi, MSc., Deputi Bidang Pembangunan Manusia Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas  menyampaikan, pademi Covid-19 berdampak sangat hebat terhadap dunia pendidikan dan keluarga. Menurut study baik dari Bappenas, Pusmenjar Kemendikbudristek, hingga bank dunia dari UNICEF menyatakan dampak terbesar Covid-19 terhadap pendidikan adalah adanya learning loss.

“Dampak berkepanjangan dari learning loss akan berpotensi mempengaruhi penurunan kemampuan secara ekonomi. Selain itu dampak sosial selama pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi diperkirakan sudah mempengaruhi kondisi kesehatan mental. Tidak hanya pada peserta didik namun juga pada orang tua, bahkan guru dan juga pihak sekolah,” ujarnya.

Oleh karena itu untuk menangani permasalahan tersebut menurut Subandi, penguatan lintas sektor di pemerintahan pusat dan daerah menjadi kunci.

“Jadi kita semua harus saling bahu-membahu untuk menghadapi masalah ini. Demikian pula kerjasama dan dukungan kelompok masyarakat, aktor pendidikan, aktor non pemerintah dan swasta juga memiliki peran besar terhadap bagaimana kita dapat mengurangi learning loss,” tandasnya.

Senada dengan Subandi, Direktur GTK Madrasah Kementerian Agama, Dr. Muhammad Zain, M.Ag., mengatakan pihaknya mendapatkan informasi bawah learning loss ini adalah merupakan persoalan bersama secara nasional, bahkan internasional. Dan salah satu yang diusulkan oleh tim peneliti unuk menghadapi persoalan learning loss adalah pentingnya bagi para guru diberikan buku-buku teks.

“Jadi buku-buku teks ini sangat penting untuk melakukan learning the recovery atau pemulihan pembelajaran. Dan alhamdulillah kemarin Menteri Agama sudah menandatangani MoU dengan Perpustakaan Nasional dan salah satu komitmen kita adalah perpustakaan nasional akan memberikan akses sepenuhnya kepada guru-guru kita se-Indonesia,” tuturnya.

Cara yang kedua untuk memulihkan pendidikan Indonesia lanjut Muhammad Zain, yaitu menulis modul-modul mata pelajaran dan agama. Kemudian yang ketiga yang sedang dikerjakan oleh pihaknya adalah memberikan bantuan-bantuan insentif yang langsung menyentuh guru-guru honorer.

“Seperti kita ketahui bahwa Kementrian Agama itu memiliki 84% guru-gurunya adalah tenaga honorer dan mereka tentu sangat membutuhkan bantuan ini. Selain itu kita juga sedang melakukan proses pencairan bantuan-bantuan yang terkait dengan kelompok-kelompok kerja guru madrasah dan kelompok kerja kepala-kepala madrasah se-Indonesia yang menyentuh 4.816 kelompok kerja se-Indonesia,” imbuh Muhammad Zain.


Yang ke empat cara untuk menghadapi learning loss menurut Muhammad Zain adalah dengan membuat program cakap digital, kerjasama Kemenag dan Kominfo untuk 514 kabupaten kota se-Indonesia.

“Guru-guru madrasah harus diperkenalkan digital skill, digital safety, digital ethic, kemudian digital health dan sebagainya. Terutama dengan digital ethic bagaimana anak-anak kita harus diberikan pengetahuan tentang bagaimana berakhlakul karimah di media sosial. Saya pikir empat catatan-catatan itulah yang betul-betul penting sekali untuk learning recovery pada saat ini,” tutupnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd mengatakan, jenjang Sekolah Dasar merupakan jenjang satuan pendidikan yang paling terdampak pandemi Covid-19. Banyak faktor yang mendasari, mulai dari keterbatasan fasilitas sarana prasarana pembelajaran hingga kompetensi kawan-kawan guru dalam memanfaatkan media digital karena internet memang masih terbatas di berbagai daerah.

Berbagai upaya sudah dilakukan melalui kebijakan dan program-program kementerian. Dimulai dari kebijakan dana BOS, Merdeka Belajar sampai program kolaborasi dengan berbagai pihak. Selain itu pemerintah pusat pun menggandeng penggiat pendidikan untuk bersama-sama melakukan kolaborasi.

“Kami menggandeng berbagai penggiat pendidikan untuk turun bersama melakukan kolaborasi dan kemitraan agar peran berbagai pihak ini dapat optimal mendampingi layanan pendidikan di satuan pendidikan. Adapun mitra-mitra kami tersebut antara lain adalah program Kampus Mengajar, di mana ribuan mahasiswa diterjunkan oleh Kemendikbudristek untuk membantu Sekolah Dasar mengoptimalkan pembelajaran di masa pandemi,” paparnya.

Selain melakukan kolaborasi dengan Kampus Mengajar, para penggiat pendidikan juga berkolaborasi dengan duta Rumah Belajar. Kemudian, Kemendikbudristek melakukan kolaborasi dengan Kementerian Desa, Kementerian Kesehatan, juga Kominfo untuk memfasilitasi tenaga pendidik di sekolah dasar agar dapat mengoptimalkan pembelajaran di masa pandemi ini.

“Di era kemajuan digital ini kami juga mengoptimalkan fasilitas digital melalui website atau melalui media sosial yang ada. Menyampaikan informasi terhadap kebijakan-kebijakan di tingkat pusat melalui ruang GIAT SD. Kami juga menyediakan berbagai platform yang dapat diikuti oleh kawan-kawan guru ataupun masyarakat, pemerintah daerah untuk kita saling berkolaborasi di ruang digital.  Pembelajaran di masa pandemi kita tahu ini bukan hal yang mudah bagi kita semua, namun dengan kolaborasi kita semua bisa membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik lagi,” pungkas Direktur Sekolah Dasar. (Hendriyanto)