Pola Pikir Peduli Sampah di Sekolah

Hasil penelitian LIPI pada tahun 2018 menyatakan bahwa Indonesia mengalami kebocoran sebanyak 0,27 sampai 0,59 juta ton sampah plastik ke laut setiap tahunnya. Berdasarkan temuan tersebut, Pemerintah Indonesia kemudian mengambil langkah konkret melalui terbitnya Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. 

Dari target pengurangan sampah laut sebanyak 70% di tahun 2025 yang diamanatkan dalam Perpres tersebut, telah tercapai pengurangan sebesar 15,3% sampai dengan tahun 2020, menyisakan target  pengurangan sebesar 54,7% pada tahun 2022 ini. 

Dra. Sri Wahyuningsih. M.Pd., Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek mengatakan, menumbuhkan pola pikir peduli sampah dapat dilakukan sejak dini melalui penguatan 6 elemen kunci Profil Pelajar Pancasila.

“Kita dapat menumbuhkan pola pikir peduli sampah pada anak-anak dari sejak dini melalui penguatan 6 elemen kunci profil pelajar Pancasila. Yaitu beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif,” paparnya ketika menjadi pembicara dalam Talkshow Kolaborasi Multi Stakeholder dalam Penanganan Sampah Laut di Indonesia (20/4/22). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi.

Dalam menumbuhkan pola pikir peduli sampah di sekolah, lanjutnya, dapat dilakukan melalui 3 cara. Pertama melalui intrakurikuler di mana segala kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan di sekolah sesuai dengan struktur program kurikulum yang berlaku.

Kedua melalui kokurikuler, yaitu penunjang kegiatan intrakurikuler untuk menguatkan pemahaman terhadap materi ajar yang disampaikan oleh guru kepada peserta didik.

“Yang ketiga adalah dengan cara ekstrakurikuler, yaitu kegiatan atau aktivitas tambahan yang dilakukan di luar jam pelajaran, untuk mendapatkan tambahan pengetahuan maupun keterampilan peserta didik,” imbuhnya.

Pola Pikir Peduli Sampah di Sekolah

Selain itu, dalam menerapkan kebiasaan peduli terhadap sampah, anak-anak juga harus memahami 5 elemen sikap peduli sampah. Pertama mengurangi pemakaian barang yang akan menimbulkan sampah, kemudian yang kedua mendaur ulang sampah dengan mengolah sampah untuk digunakan lebih lanjut dan bernilai ekonomi.

Yang ketiga pilih sampah sesuai dengan jenisnya, kemudian yang keempat memanfaatkan bank sampah dengan menghargai setiap sampah sesuai jenis dan nilai, untuk edukasi memilah dan memilih sampah. Terakhir, adalah menggunakan kembali material atau bahan yang masih layak untuk dimanfaatkan kembali.

“Tidak hanya itu ya bapak dan ibu, ada juga contoh kegiatan positif yang bisa jadi teladan bagi anak-anak. Misalnya saat menyediakan konsumsi rapat tidak menimbulkan sampah, pemanfaatan barang bekas dan bisa juga melakukan pembuatan ecobrick,” kata Sri Wahyuningsih.

Menumbuhkan pola pikir peduli sampah pada anak dari sejak dini bukan hanya tugas orang tua atau guru semata. Melainkan semua pihak memiliki peran dalam menumbuhkan pola pikir peduli sampah.

“Anak-anak tidak hanya butuh diajari, tetapi juga dicontohkan. Karena teladan adalah nasihat yang paling berharga,” pungkasnya. (Hendriyanto