Menumbuhkan Kecintaan Anak Pada Buku dan Kegiatan Membaca

Indonesia masih menghadapi persoalan Pendidikan yang kompleks, hal tersebut karena Indonesia memiliki wilayah geografis yang sangat luas, jumlah sekolah dan jumlah siswa yang sangat banyak, dengan latar belakang budaya yang beragam. Ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 yang belum usai sampai saat ini, berimbas kepada terjadinya krisis pembelajaran atau learning loss, dan kesenjangan pembelajaran antara daerah yang maju dan daerah tertinggal.

Bahkan hasil studi nasional maupun internasional menunjukkan bahwa banyak siswa yang tidak mampu memahami bacaan sederhana, termasuk memahami matematika dasar akibat adanya krisis pembelajaran akibat pandemi ini.

Hal tersebut dikemukakan oleh Kurniawan S.T MBA., Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Sekolah Dasar pada saat memberikan sambutan dalam webinar: Menumbuhkan Kecintaan Anak Pada Buku dan Kegiatan Membaca Provinsi DKI Jakarta, yang diselenggarakan oleh Direktorat Sekolah Dasar (28/03/22).

“Kita ketahui bahwa rata-rata kesenjangan nasional dari segi literasi selama masa pandemi Covid-19 untuk satuan Sekolah Dasar itu 6 bulan. Boleh jadi ada yang lebih rendah atau lebih tinggi, sedangkan untuk numerasi rata-rata itu 5 bulan. Persoalan pendidikan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, pemerintah daerah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Kurniawan.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dari sisi literasi dan numerasi, salah satu solusinya adalah dengan menumbuhkan minat membaca pada anak. Karena anak suka meniru orang yang ada disekitarnya, maka orang tua dan guru memiliki peran penting dalam menumbuhkan karakter minat baca pada anak.

Menumbuhkan Kecintaan Anak Pada Buku dan Kegiatan Membaca

“Apabila orang tua dan para guru rajin membaca maka harapan kami ajaklah anak-anak untuk sama-sama ikut membaca. Sehingga nantinya akan tumbuh kesadaran dan budaya anak untuk membaca,” kata Kurniawan.

Seperti diketahui bahwa perubahan perilaku diawali dengan diajarkan, kemudian dilatih secara konsisten sehingga akan menjadi kebiasaan.

“Harapan kami para peserta didik kita khususnya di jenjang Sekolah Dasar ini memiliki kecintaan terhadap buku dan minat baca yang tinggi. Sehingga masalah-masalah yang tadi disebutkan di awal bisa segera diatasi dan kualitas pembelajaran di negara kita bisa terus meningkat,” ujarnya.

Selaras dengan Kurniawan, Dr. Harlinda Syofyan S.Si M.Pd, Dekan Fisip Universitas Esa Unggul mengatakan literasi mampu untuk mengembangkan budi pekerti, menciptakan budaya membaca serta meningkatkan pemahaman terhadap suatu bacaan. Selain itu, literasi sangat membantu anak dalam menambah wawasan, menambah kosakata, melatih fokus dan konsentrasi serta melatih anak untuk menulis dan merangkai kata dengan baik.

“Oleh karena itu kegiatan literasi ini harus dibiasakan sejak dini dan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di era saat ini kita bisa melakukan pendekatannya melalui perkembangan teknologi. Karena anak-anak kita sudah sangat akrab dengan gadget, jadi kita bisa memberikan bacaan yang sifatnya elektronik,” ujar Harlinda.

Sementara itu Annisa Luthfi dari YLAI mengungkapkan, sebagai orangtua dan guru harus memahami keterampilan membaca. Keterampilan membaca ini tentang menguraikan bentuk-bentuk huruf menjadi suatu bunyi yang memiliki arti. Setelah diajari menguraikan hal tersebut lalu anak-anak diberi soal-soal ulangan tentang pemahamannya.

Menumbuhkan Kecintaan Anak Pada Buku dan Kegiatan Membaca

“Nah itu adalah bagian dari memahami mengenai literasi yang kita lakukan. Di kelas bahasa Indonesia ini penting dan tetap harus ada begitu menguraikan dan memahami literasi,” kata Annisa.

Namun memahami saja tidak cukup. Para pengajar juga harus mampu mengembangkan keterampilan membaca. Menurut hasil penelitian dari pakar room to read internasional, bagian lain dari membaca yang harus diterapkan kepada anak-anak adalah dengan melakukan penggabungan pengembangan dan keterampilan membaca agar membaca menjadi utuh.

“Jadi jika kita mengembangkan keterampilan membaca tanpa kebiasaan membaca itu akan timpang. Oleh karena itu kita sebagai orangtua dan guru harus mengajarkan kepada anak-anak seperti apa budaya membaca, dengan cara menunjukkan kepada mereka bahwa membaca itu kegiatan yang patut untuk dinikmati,” tuturnya.

Pengalaman membaca yang menyeluruh kepada anak-anak hanya bisa dicapai jika mengembangkan keterampilan membaca dan kebiasaan membaca secara bersamaan. Jadi orangtua dan guru tidak hanya mengajarkan membaca untuk pengetahuan saja, tapi juga mengajarkan keterampilan membaca. Kemudian membangun budaya membaca melalui kebiasaan membaca.

“Keterampilan membaca yang baik akan mendukung kebiasaan membaca, kebiasaan membaca yang baik akan mendukung keterampilan membaca. Jika keterampilan membaca baik, kosakata dan tata bahasa lebih baik, maka pemahaman terhadap teks atau bacaan buku juga akan meningkat. Mengajarkan kebiasaan membaca pada anak-anak juga akan membantu mereka lebih percaya diri,” pungkasnya. (Hendriyanto)