Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Melalui UKS

Pendidikan kesehatan melalui UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) penting dilakukan karena sekolah merupakan bagian dari tatanan masyarakat. Siswa dan semua pihak di sekolah menjadi satu kesatuan sebagai suatu komunitas yang perlu dibina dari segi kesehatan. Dan yang sangat penting adalah harus ada agen perubahan dalam mengimplementasikan UKS sehat di sekolah.

Oleh karena itu, Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbudristek melakukan pendampingan UKS di 40 kabupaten/kota di seluruh Indonesia pada tahun ini. Pekan lalu, salah satu pendampingan dilaksanakan di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.

Sekolah yang dipilih menjadi tempat pendampingan UKS adalah SD Negeri 58 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Sebanyak 40 peserta hadir yang terdiri dari para kepala sekolah dan guru, pengawas serta pihak-pihak terkait di Kecamatan Sungai Raya.

Sumanta, M.Sc., narasumber dari Direktorat Sekolah Dasar menjelaskan, UKS adalah upaya membina dan mengembangkan kebiasaan hidup sehat yang dilakukan secara terpadu melalui program pendidikan dan pelayanan kesehatan di sekolah, perguruan agama serta usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan kesehatan di lingkungan sekolah.

Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Melalui UKS

Tujuan UKS adalah meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Serta menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis peserta didik.

”Yang terlibat dalam UKS itu sebenarnya bukan hanya kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan, serta peserta didik. Tapi juga harus ada keterlibatan komite sekolah, masyarakat setempat dan Puskesmas,” jelas Sumanta.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, ada beberapa prioritas dalam menjalankan program UKS. Yaitu membentuk atau memperkuat tim pelaksana UKS beserta uraian tugasnya. Mengidentifikasi masalah pelaksanaan UKS di satuan Pendidikan. Berkoordinasi dengan Puskesmas untuk mendapatkan data permasalahan kesehatan peserta didik. Penilaian sanitasi dan kantin satuan pendidikan, serta persiapan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Kemudian melakukan identifikasi kebutuhan berdasarkan daftar periksa kesiapan pencegahan Covid-19 bagi satuan pendidikan dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka. Misalnya penyediaan toilet bersih, sarana cuci tangan pakai sabun dan desinfektan.

“Selain itu pihak sekolah harus melaksanakan perencanaan kegiatan UKS selama satu tahun ajaran berdasarkan hasil identifikasi masalah, data kesehatan peserta didik, hasil penilaian kondisi lingkungan sekolah dan daftar periksa,” kata Sumanta.

S.P Listiyanti, S.Pd.SD., M.M., Kepala Sekolah SDN 09 Sungai Raya membagikan praktik baik program UKS di sekolahnya. Dia menjelaskan, dalam mengelola UKS pihak sekolah pertama-tama harus memastikan administrasi terkelola dengan baik. Mulai dari ketersediaan buku tamu yang di dalamnya ada program penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. Oleh karena itu harus ada dokter kecil yang menangani kegiatan UKS di sekolah.

Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Melalui UKS

“Nah, dokter kecil ini harus dilatih dan harus dibimbing oleh ahlinya. Pihak kami mendatangkan para ahlidari Puskesmas. Selain itu, jangan lupa gurunya juga harus dilibatkan. Sehingga ketika orang Puskesmas tidak ada, otomatis guru bisa mendampingi anak-anak muridnya,” kata Listiyanti.

Selanjutnya, di UKS harus ada peralatan dan obat-obatan. Paling tidak tersedia obat untuk membantu pertolongan pertama sebelum si penderita dirujuk ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat. Ruangan UKS harus memiliki pendingin, bisa melalui udara alamiah maupun dari AC atau kipas angin. Di ruang UKS juga harus menyediakan tempat sampah dan tempat cuci tangan.

“Tempat sampah tidak harus yang bagus, yang penting layak. Sekolah kami kan menyatukan sekolah sehat dengan sekolah adiwiyata, makanya tempat sampah kami itu hasil kreasi dari ember bekas. Yang perlu diperhatikan juga tempat tidur antara laki-laki dengan perempuan itu harus terpisah,” kata Listiyanti.

Dalam pembentukan UKS harus ada kartu menuju sehat yang di dalamnya mencatat hasil timbangan dan pengukuran tinggi badan. Itu sangat dibuatkan untuk melihat status stunting anak-anak. Selain ada dokter kecil di satun Pendidikan, juga harus ada duta jumantik, duta sampah dan duta konseling.

Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Melalui UKS

“Itu semua perlu direkrut dan perlu dilatih dan dibuatkan SK-nya. Kemudian juga harus ada struktur organisasi supaya kita tahu siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan UKS,” imbuhnya. Listiyanti menyampaikan mengelola UKS tidak semudah yang dibayangkan, tetapi juga tidak sulit untuk diimplementasikan. Karena jika memiliki niat dan komitmen untuk melaksanakan UKS sehat dan layak, maka akan terwujud.

“Karena saya dan tim punya prinsip tidak ada yang tidak bisa, yang ada hanya belum terbiasa,” tegas Listiyanti. Ia menambahkan, satuan pendidikan tidak bisa menjalankan program UKS sendiri. Dibutuhkan bantuan dari semua pihak, baik dari orangtua murid maupun dari pemangku kepentingan.

”Kami pun merekrut beberapa orang yang bisa kami rangkul, seperti orang tua siswa yang memiliki latar belakang pekerjaan yang sesuai dengan yang kami butuhkan,” kata Listiyanti. Kolaborasi dengan stekholder juga dilakukan, mulai dari instansi pemerintah hingga kalangan swasta.

”Dengan keberadaan UKS ini, kami mendorong pembiasaan baik di mana pun warga sekolah berada, dengan mengembangkan pola hidup bersih dan sehat,” pungkasnya. (Hendriyanto)