Mengenal Sugiarto Guru PJOK Sekaligus Atlet Berprestas

Energik, humoris dan berprestasi. Itulah sekilas kesan yang terlihat dari sosok Sugiarto. Prestasinya di bidang olahraga segudang. Pasti banyak yang tidak menyangka bila Sugiarto berprofesi sebagai guru.

Inilah gambaran guru favorit di sekolah. Pembawaanya santai. Ia juga cenderung humoris. Saat mengajar Pendidikan Jasmani dan Olahraga (PJOK), Sugiarto selalu bisa membuat suasana terasa menyenangkan.

Sugiarto merupakan guru PJOK di SDN Lempongsari, Semarang, Jawa Tengah. Ia menjadi guru favorit karena sosoknya yang masih muda dan energik. Sosoknya juga menjadi guru panutan yang mampu memberikan inspirasi melalui prestasinya sebagai atlet gulat. 

Pria kelahiran Madiun, 8 September 1990 ini  awal mulanya menjadi guru olahraga pada 2014 di SMK Palebon Semarang. Aktivitas ini berlanjut hingga 2018. Di 2018 sampai sekarang, ia mengabdikan diri sebagai guru PJOK di SDN Lempongsari. Mimpi besarnya adalah mengembangkan olahraga seperti gulat, jiu jitsu, dan MMA di peserta didiknya.

Mengenal Sugiarto Guru PJOK Sekaligus Atlet Berprestas

“Saya berharap bisa mengenalkan dan mengembangkan olahraga tersebut kepada murid-murid sejak dini. Memberikan motivasi kepada siswa dengan prestasi-prestasi yang pernah saya raih. Semoga bisa menjadi inspirasi buat murid-murid untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dari pada saya,” tutur Sugiarto saat dihubungi oleh tim media Direktorat SD, 5 November 2021.

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 2 tahun dirasa memberikan dampak yang luar biasa bagi mata pelajaran PJOK. Maklum, pelajarannya biasa dilakukan di luar ruangan dan berkerumun. Tapi itu tidak menyurutkan semangat Sugiarto dalam memberikan pelajaran PJOK meskipun harus melalui daring dan luring.

“Tujuan utama guru adalah mengajar dan memberikan motivasi kepada peserta didik supaya tetap semangat  berolahraga meskipun hanya di dalam rumah. Itulah yang memotivasi saya untuk tetap semangat dan optimistis mengajar pelajaran PJOK kepada peserta didik selama pandemi ini,” ujarnya.

Pria lulusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Olahraga di Kampus UNNES Semarang ini juga menceritakan, ada banyak tantangan saat menjalankan proses belajar mengajar di tengah pandemi. Salah satunya tidak semua murid memiliki fasilitas seperti smartphone dan kuota internet di rumahnya.

“Penyampaian materi jadi kurang maksimal. Solusi untuk mengatasi tantangan tersebut adalah memberikan tenggang waktu lebih lama untuk mengumpulkan tugas atau pekerjaan rumah,” kata Sugiarto.

Mengenal Sugiarto Guru PJOK Sekaligus Atlet Berprestas

Menjadi guru olahraga tidak hanya sebatas menyampaikan mata pelajaran jasmani dan olahraga, namun juga harus mampu mengenali bakat siswa di bidang olahraga. Hal ini tentu sebagai upaya guru dalam mempersiapkan peserta didik yang unggul sesuai dengan bakat dan minatnya.

“Cara saya mengenali bakat peserta didik dalam mata pelajaran PJOK adalah dengan mengamati setiap siswa saat pembelajaran berlangsung. Nanti akan terlihat mana anak yang sangat antusias mana anak yang biasa-biasa saja,” kata Sugiarto.

Sebagai guru PJOK yang dinilai masih muda, Sugiarto tentu memiliki cara mengajar yang mengikuti standarisasi pembelajaran dengan paradigma baru. Yaitu menciptakan kelas PJOK dengan suasana yang asyik dan menyenangkan bagi peserta didik.

“Misalnya saat pembelajaran teknik sepak bola, saya tidak hanya menyuruh anak-anak bermain bola begitu saja, tapi saya akan memberikan pelajaran dengan menggunakan strategi permainan game sepak bola. Kalau dengan strategi seperti itu maka anak pun merasa senang saat melakukan pembelajaran,” imbuhnya.

Sugiarto menambahkan selama menjadi guru PJOK maupun pelatih kerap sekali dirinya menemukan bakat-bakat peserta didiknya dalam satu bidang olahraga. Ia mengatakan jika sudah menemukan peserta didik yang memiliki minat dan bakat dalam bidang tertentu, sebagai guru ia akan memberitahu siswa tersebut. Kemudian ia akan memberikan dukungan moril dan juga akan membantu mengarahkan siswa tersebut untuk memperdalam bakatnya.

Mengenal Sugiarto Guru PJOK Sekaligus Atlet Berprestas

“Kami biasanya akan memberikan fasilitas yang tepat dalam mengembangkan bakat siswa tersebut. Misalnya melalui ekstrakurikuler atau memilihkan anak tersebut di klub olahraga yang ada di kota atau daerahnya yang bisa menunjang bakatnya dalam bidang olahraga,” ujarnya.

Sugiarto mengawali perjalanannya sebagai atlet ketika ia duduk di kelas 6 sekolah dasar. Saat itu, ia mengikuti pencak silat yang ada di kampungnya. Lalu setelah kelas 3 SMP, ia berpindah ke cabang olahraga lain yaitu gulat. Ia mengaku melihat peluang bagus di olahraga gulat.

“Saya melihat gulat ini memiliki prospek untuk berprestasi lebih luas dan kompetitif. Oleh karena itu kemudian setelah SMP saya mendaftar SMAN Olahraga dan alhamdulillah saya lolos,” kata Sugiarto.

Berikut adalah sederet prestasi Sugiarto yang dihasilkan dari olahraga gulat.

  • Juara 1 kelas 46 kg gaya grego Kejurda Gulat Junior Jawa Timur Tahun 2006.
  • Juara 1 kelas 48 kg gaya grego Kejurda Gulat Junior Jawa Timur Tahun 2007.
  • Juara 1 kelas 51 kg gaya grego Kejurda Gulat Senior Jawa Timur Tahun 2008.

Kemudian setelah lulus dari SMAN Olahraga, Sugiarto meneruskan kuliah di UNNES Semarang, dan kembali mencetak prestasi.

  • Juara 1 PORPROV Jawa Tengah 2009 gulat gaya grego kelas 51 kg
  • Juara 2 Kejurnas Gulat Junior di Bandung Tahun 2009.Juara 2 Kejurnas Gulat Junior di Riau Tahun 2010
  • Juara 3 PON Riau Tahun 2012.
  • Juara 1 PORPROV Jawa Tengah Tahun 2013.

Pada 2016, Sugiarto mulai merambah olahraga MMA, dan mengikuti kejuaraan MMA Piala Kapolres Jember 2016 dan 2017. Hasilnya, Sugiarto meraih juara 1. Tidak hanya itu, ia juga meraih juara 1 Pekan Olahraga (POR) Provinsi Tahun 2018.

“Dari perjalanan itulah , mulai 2019 sampai sekarang saya melatih atlet gulat dan jiu jitsu Kota Semarang. Saya berhasil mengantarkan tim jiu jitsu Jawa Tengah di PON Papua 2021,” ujarnya.

Tercatat ada sekitar 20 peserta atlet jiu jitsu Kota Semarang yang dilatih oleh Sugiarto, dua atlet di antaranya merupakan atlet gulat sebelumnya. Meski demikian kedua atletnya dengan sangat mudah menyesuaikan karena menurut Sugiarto teknik dasar gulat dan jiu jitsu memiliki banyak kemiripan. Selain itu, mereka juga merupakan atlet gulat yang sudah memiliki prestasi di tingkat Jawa Tengah.

“Kami berlatih 6 kali dalam seminggu secara terus menerus sehingga saat ada cabang olahraga exhibisi jiu jitsu dalam PON Papua, kita segera daftarkan untuk mengikuti perlombaan. Dari 3 atlet Kota Semarang yang mewakili Jawa Tengah, dua orang di antaranya berhasil meraih medali,” imbuhnya dengan bangga.

Sebagai pelatih, Sugiarto mengakui banyak menghadapi kendala saat awal terjadi pandemi. Bahkan ia dan timnya sempat menghentikan latihan cukup lama. Sehingga saat mereka kembali berlatih dibutuhkan latihan lebih untuk mengembalikan dan meningkatkan daya tahan tubuh.

“Kami memiliki kewajiban dan tanggung jawab karena kami membawa nama kota. Selain itu, kami juga sangat mencintai olahraga ini. Jadi meskipun sempat tertunda akibat wabah, kami tetap semangat latihan sehingga berhasil meraih prestasi di PON Papua 2021,” imbuh Sugiarto.

Di akhir wawancara, Sugiarto menyampaikan harapannya agar sekolah segera memberlakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dan praktek olahraga. Itu dinilai akan membuat pembelajaran PJOK lebih maksimal. Sugiarto juga menyisipkan pesan hangat dan motivasi bagi peserta didik dan para guru di Indonesia.

“Untuk semua murid-murid di Indonesia, tetaplah semangat. Jaga kesehatan, karena dengan tubuh yang sehat kalian akan lebih mudah untuk mengejar impian. Dan untuk ibu bapak guru di Indonesia, saya tahu saat ini kita sama-sama menghadapi situasi yang tidak mudah. Tapi jangan menyerah! Tetap semangat dampingi putra putri bangsa untuk menggapai impiannya,” tutupnya. (Hendriyanto)