Mengenal Lebih Dekat Program Kampus Mengajar

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, Kemendikbudristek terus melahirkan kebijakan dan program yang inovatif, salah satunya Merdeka Belajar. Sejak dikeluarkannya kebijakan Merdeka Belajar pada tahun 2019 hingga saat ini sudah ada 13 episode.

Merdeka Belajar episode ke-2 adalah Kampus Merdeka yang di dalamnya terdapat program Kampus Mengajar, yaitu mahasiswa diterjunkan ke sekolah-sekolah, khususnya jenjang sekolah dasar untuk mengajar. Dengan dukungan LPDP dan Kementerian Keuangan, program Kampus Mengajar menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan pembelajaran terutama di masa pandemic Covid-19, khususnya yang berada di wilayah 3T.

Dr. Wagiran dari Sub Pokja Program Kampus Mengajar menyampaikan program ini merupakan satu upaya strategis dari Kemendikbudristek yang harus disambut di lapangan. Karena Kampus Mengajar hadir untuk turut serta berperan dan berbakti untuk mensukseskan literasi dan numerasi.

Mengenal Lebih Dekat Program Kampus Mengajar

“Kampus Mengajar menghadirkan adik-adik mahasiswa ke sekolah dalam rangka penguatan literasi dan numerasi dengan berbagai program kegiatan. Ini menjadi aspek strategis bagi Kampus Mengajar untuk mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia,” kata Wagiran dalam webinar ‘Apa Itu Kampus Mengajar?’ yang tayang di channel youtube Direktorat SD, 6 Oktober 2021.

Apalagi, lanjut Wagiran, di tengah pandemi Covid-19 ini pendidikan Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan, sehingga menimbulkan ancaman yang besar di satuan pendidikan yaitu terjadinya learning loss. Tetapi berbagai upaya telah dilakukan baik oleh negara maupun masyarakat untuk mengatasi problametika ini.

“Dengan hadirnya adik-adik mahasiswa di sekolah ini kami harapkan betul memberikan dampak penguatan literasi, numerasi, adaptasi teknologi dan juga perbaikan manajerial di sekolah. Sehingga program ini bisa kita terapkan di mana saja, baik sekolah yang terakreditasi C di daerah 3T atau juga nanti di sekolah-sekolah unggulan. Kampus Mengajar juga akan semakin kita perluas nanti di tingkat SMP maupun di sekolah-sekolah yang lain,” katanya.

Mitra Sicillia, Dosen Pembimbing Lapangan Kampus Mengajar yang juga menjadi narasumber dalam webinar tersebut menyampaikan, mengikuti program kampus mengajar adalah sebuah tantangan dan sebuah pengalaman yang sangat berharga. Karena sebagai dosen yang biasa menghadapi mahasiswa ternyata sangat berbeda pada saat harus menghadapi siswa.

Mengenal Lebih Dekat Program Kampus Mengajar

“Mengikuti program Kampus Mengajar ini sebuah pengalaman yang berharga buat saya. Karena mengajar mahasiswa dengan mengajar siswa itu sangatlah berbeda. Tapi ini adalah tantangan dan pengalaman luar biasa,” tuturnya.

Dalam satu minggu Mitra akan mengajar satu kali yaitu mengajar kelas 1 sampai kelas 6. Ia mengajarkan literasi, dan numerasi.

“Awalnya saya beserta mahasiswa menekankan bahwa sebelum kita terjun ke kelas atau membantu mengajar, kita terapkan dulu sebuah game supaya siswa-siswa di kelas tersebut merasa senang saat belajar dan mereka jadi bahagia. Ini upaya kita untuk menanamkan dalam mindset mereka bahwa sekolah itu menyenangkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ahmad, S.Pd. M.Pd., Kepala SDN Lise Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan menambahkan, Kampus Mengajar merupakan suatu kebijakan yang melibatkan mahasiswa secara nyata dalam rangka penguatan pembelajaran dan membantu sekolah dalam masa dalam pembelajaran, khususnya di tengah pandemi. Sebelumnya SDN Lise sudah menjalankan program Kampus Mengajar periode satu dan saat ini siap menjalankan periode kedua.

“Ada sekitar 6 mahasiswa yang ada di sekolah kami untuk program kedua ini. Jadi saya bagi tugas satu orang satu kelas. Hal pertama yang saya lakukan bersama mahasiswa Kampus Mengajar adalah membahas program yang dilakukan oleh mahasiswa bersama pengawas. Artinya mau disinergikan antara program mahasiswa dan kebutuhan sekolah,” kata Ahmad.

Adanya peran mahasiswa dalam program Kampus Mengajar ini memberikan dampak positif bagi SDN Lise. Banyak inovasi yang diciptakan, seperti inovasi untuk menambah minat belajar siswa, mahasiswa juga melakukan perubahan dengan proaktif, membimbing siswa untuk membersihkan pekarangan-pekarangan sekolah.

“Kegiatan tersebut pada saat PTM terbatas diberlakukan, namun pada saat BDR para mahasiswa ini mengunjungi rumah siswa terutama siswa yang tidak punya fasilitas gadget. Mereka juga melakukan bimbingan siswa setiap sore secara bergilir, dan membantu para siswa yang tidak bisa membaca dan sekarang siswa-siswa tersebut sudah lancar membaca,” kata Ahmad.

Dia juga menyampaikan pihaknya sangat terbantu dengan adanya program Kampus Mengajar ini. Oleh karena itu ia sangat berharap program kampus mengajar dapat dilanjutkan secara berkesinambungan. “Kampus mengajar sangat membantu kami sebagai pihak sekolah,” ujarnya.

Sementara itu Devy Rahmasari, mahasiswa Kampus Mengajar Angkatan 2 mengungkapkan ada beberapa hal yang membuatnya tertarik mengikuti program Kampus Mengajar. Pertama karena jurusan kuliahnya itu linear dengan kegiatan program Kampus Mengajar ini yaitu pendidikan guru sekolah dasar. Kemudian yang kedua karena ia senang bertemu dengan orang-orang baru terutama bertemu dengan siswa-siswa yang dari berbagai macam daerah.

“Terus selain itu karena saya juga senang mengajar. Jadi saya sangat tertarik dengan program Kampus Mengajar ini untuk bisa menambah pengalaman saya dalam mengajar,” ujarnya.

Mengenal Lebih Dekat Program Kampus Mengajar

Di tempatnya mengajar, Devy dan teman-temannya melakukan beberapa inovasi pembelajaran. Salah satunya adalah dengan membuka kelas membaca, menulis dan berhitung (Calistung). ”Kami meminta daftar siswa yang belum bisa calistung kepada guru-guru dari kelas 1 sampai kelas 6. Setelah dibuat daftarnya, terus kami membagi kelasnya jadi satu orang mahasiswa memegang satu kelas. Saya kebetulan memegang kelas 4 untuk kelas calistung. Jadi awalnya ada 3 siswa yang harus saya bimbing,” katanya.

Ketiga siswa ini kemampuannya berbeda-beda. Yang satu namanya Nabila, siswanya sangat pemalu Pertama kali ketemu, siswa ini hanya diam saja. Diajak bicara pun diam saja. Sangat pemalu. Kemudian siswa kedua namanya Ezar. Siswa ini bisa dibilang unik karena dia anak special. Anak ketiga bernama Zahra.

”Awalnya itu mereka membaca, tapi benar-benar salah dalam pengucapannya. Jadi pertama yang saya lakukan mengajari mereka bunyi hurufnya. Seperti huruf B itu yang benar dibaca Be, bukan Beu. Karena ketika mereka baca misalnya Beli jadinya Beuli gitu. Makanya saya ajari dulu cara pengucapan yang benar seperti apa,” kisahnya.

Kemudian ketiga anak itu dilatih terus-menerus oleh Devy, dan tidak dalam waktu lama mereka bisa membaca. Devy senang karena anak-anak itu sudah mulai ada perkembangan yang bagus setelah diberikan bimbingan secara intens.

Muhammad Faisal Iqbal, peserta program Kampus Mengajar Angkatan 1 menceritakan kisah menarik selama mengikuti program tersebut. Mahasiswa Universitas Negeri Semarang ini ditugaskan di SD Bandarharjo, Semarang. Sekolah ini berada di pesisir dekat Stasiun Tawang. Sebagian siswanya berasal dari keluarga broken home dan perantau dari luar Jawa.

Pada waktu itu, siswa kelas 6 akan menghadapi ujian yang menentukan kelulusan mereka. Tapi sebagian siswa kurang semangat belajar. ”Saya menjemput mereka ke rumah masing-masing. Ada yang masih tidur, saya bangunkan dan diajak berangkat ke sekolah, tentu dengan izin orang tua. Karena memang mereka harus belajar untuk persiapan ujian,” kenang Muhammad Faisal Iqbal.

Faisal dan rekan-rekannya mencari cara agar belajar terasa menyenangkan bagi siswa-siswa yang kurang bersemangat ini. Mahasiswa juga berusaha menjelaskan dengan cara yang mudah dimengerti bahwa ujian itu penting supaya mereka bisa lulus dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Meski awalnya terpaksa, seiring waktu para siswa itu mau datang dengan sendirinya ke sekolah.

”Ayo kak, saya siap belajar. Supaya saya bisa ke pendidikan yang selanjutnya, bisa sampai kuliah,” begitu kalimat salah satu siswa setelah mendapat penjelasan pentingnya belajar. Semangat anak itu membuat Faisal semakin semangat mengajar. (Hendriyanto)