Mendikbudristek Apresiasi Organisasi Penggerak Forum Indonesia Menulis

Dalam sesi diskusi dengan 65 perwakilan sekolah penerima manfaat Program Organisasi Penggerak (POP) di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim mengapresiasi Forum Indonesia Menulis (FIM). Sebagai penerima POP, Forum Indonesia Menulis telah menyasar 920 sekolah di 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat dengan total 2.300 guru dan kepala sekolah.
 
“Gerakan Merdeka Belajar ini bukan hanya kebijakan. Tapi benar-benar sudah menjadi gerakan. Gerakan dari bawah, dari berbagai macam penggerak seperti contohnya Forum Indonesia Menulis yang menjadi salah satu penggerak kita, mitra pemerintah,” demikian disampaikan Mendikbudristek di SDN 01 Sanggau, Kalimantan Barat, pada Selasa (25/10).

Melalui Forum Indonesia Menulis ini, Menteri Nadiem memandang kebijakan Merdeka Belajar merupakan bukti bahwa gotong royong bisa dilakukan di daerah-daerah sasaran yang selama ini sulit mendapatkan intervensi dari pemerintah. “Justru melalui mitra-mitra POP inilah, gerakan Merdeka Belajar dapat digapai. Berkat para mitra POP ini, sekolah-sekolah yang berada di daerah seperti di Kalimantan Barat bisa mendapatkan program peningkatan kompetensi," ucap Menteri Nadiem.

Mendikbudristek Apresiasi Organisasi Penggerak Forum Indonesia Menulis

Untuk diketahui, tujuan dari POP adalah memperluas praktik baik capaian hasil peningkatan belajar siswa dalam bidang literasi, numerasi, dan karakter. Hal ini sejalan dengan amanah yang diemban Mendikbudristek yang merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo bahwa pendidikan harus terlibat aktif dalam mempersiapkan SDM unggul.

Anggota Komisi X DPR RI, yang turut hadir pada kunjungan kerja Mendikbudristek ke Kalimantan Barat, Adrianus Asia Sidot mendukung kebijakan-kebijakan yang diluncurkan Kemendikbudristek. Ia meyakini program-program yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek betul-betul untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

“Bayangkan tingkat literasi Indonesia, dari 77 negara kita berada pada urutan 72. Begitu juga dengan numerasi dan sains. Sejak 2015 tidak ada perubahan signifikan. Oleh karena itu, diperlukan terobosan-terobosan, keberanian seperti kebijakan Merdeka Belajar yang sekarang-sekarang diluncurkan,” ungkap Adrianus Sidot.

Mendikbudristek Apresiasi Organisasi Penggerak Forum Indonesia Menulis

Pada kesempatan ini, Ketua Umum Forum Indonesia Menulis Kalimantan Barat, Fakhrul Arrazi memberikan pesan pada guru-guru peserta POP untuk mampu mendobrak kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilaksanakan di sekolah. “Pada dasarnya memang butuh keberanian untuk maju dan mendobrak hal-hal yang sifatnya positif dan butuh keikhlasan dalam berkarya serta mengabdi sebagai tenaga pendidik,” ujar Fakhrul.

Ia pun mengungkapkan untuk membuat perubahan pada semua elemen, semua pemangku pendidikan harus turut andil dalam bergotong royong agar peserta didik siap untuk menjadi yang terdepan. “Maju bersama dan berkarya bersama dibutuhkan untuk menginspirasi dunia,” terangnya.

Praktik Baik Program Organisasi Penggerak

Salah satu penerima manfaat POP, Kepala SDN 07 Terati, Kecamatan Jangkau, Kabupaten Sanggau, Didi Musjawe menceritakan kesan baik dan dampak positif yang dirasakan selama mengikuti program POP dari Forum Indonesia Menulis Kalimantan Barat.

Didi mengungkapkan ada tiga perubahan mendasar yang dirasakan, yakni semangatnya tumbuh dalam menulis dan menerbitkan buku. Kedua, termotivasi untuk selalu melakukan perubahan-perubahan dalam meningkatkan kompetensi diri khususnya dalam bidang menulis. Serta, tumbuhnya semangat dalam berkarya untuk menumbuhkan inspirasi bagi keluarga, guru, dan peserta didik.

Didi mengungkapkan POP melalui Forum Indonesia Menulis Kalimantan Barat sangat berdampak bagi sekolah-sekolah. “Secara umum terlihat dari bagaimana sekolah-sekolah tersebut berlomba-lomba untuk kembali mendesain pojok baca mereka,” ucapnya.

Selain itu, sekolah-sekolah juga berusaha untuk menghadirkan tempat-tempat yang lebih nyaman untuk memunculkan semangat peserta didik dalam membaca. “Saya melihat beberapa sekolah dengan pendanaan seadanya mereka membagi dana tersebut untuk meningkatkan minat siswa dalam membaca. Mereka membangun pojok-pojok baca yang dapat mereka gunakan untuk menarik minat siswa membaca. Dampak ini sangat positif dan luar biasa,” terang Didi.

Kesan baik terhadap POP ini juga disampaikan oleh Kepala SDN 22 Penyaladi, Titis Kartikawati yang mengungkapkan awal mula ia rajin menulis. “Pertama kami dipaksa untuk menulis bersama guru dan murid-murid untuk membuat satu buku apa saja. Isinya sederhana. Tapi karena kami dibiasakan untuk menulis ketika ada ide, Alhamdulillah kini sudah tercipta tiga buku antalogi di sekolah,” ucapnya.

Dengan adanya POP dari Forum Indonesia Menulis, Titis pun mengungkapkan menjadi semangat untuk mengajar, karena peserta didik yang pada awalnya merasa kesulitan dalam belajar karena jenuh, setelah menggunakan tutor yang ditulis oleh para guru, peserta didik menjadi semangat memperhatikan apa yang diajarkan.

Di samping itu, kehadiran pojok-pojok baca di sekolah yang menghiasi kelas-kelas untuk memberi semangat para siswa untuk datang ke sekolah dan berkegiatan literasi. Perubahan tersebut tampak dari perubahan kebiasaan murid yang sebelumnya banyak bermain ketika datang ke sekolah menjadi terbiasa untuk membaca.

“Setelah ada pojok-pojok baca yang dibuat di kelas-kelas, mereka termotivasi untuk membaca, meskipun kami daerah kami terbatas untuk buku bacaan. Tapi kami membuat bacaan-bacaan lain yang membuat mereka tertarik untuk meluangkan waktu dan membiasakan diri untuk membaca,” terang Titis.

Salah satu peserta didik Ibu Titis saat duduk di bangku SD, Nadia Safwa, yang kini duduk di bangku kelas IX SMP 02 Sanggau telah mendapatkan penghargaan pada Festival Literasi Nasional di Solo pada 2020. Nadia pun menceritakan awal mula hobi menjadi penulis. “Awalnya saya terinspirasi dari Ibu Titis untuk menulis, kemudian saya mencoba-coba untuk menulis. Walaupun katanya masih banyak yang tidak baku, tapi saya usahakan untuk menulis. Sejak saat itu, saya jadi lebih sering nulis hingga jadi sebuah buku,” ujar siswa yang dipanggil Nisa.   

Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 675/sipers/A6/X/2022