Pemerintah terus menjalankan kebijakan terkait dengan meningkatkan mutu pendidikan di Tanah Air. Pendidikan di Indonesia, khususnya di Sekolah Dasar, terus berkembang sesuai dengan tuntutan, kebutuhan dan kondisi zaman.

Pemerintah lewat Kemendikbudristek terus berupaya mencari strategi yang paling baik dan tepat. Itu dilakukan agar proses pendidikan di Tanah Air berjalan sesuai dengan harapan, yaitu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.

“Dengan kualitas mutu pendidikan yang baik, kita bisa melahirkan SDM yang siap bersaing. Tidak hanya dalam konteks keilmuan, tapi juga dalam hubungan masyarakat dan kehidupan bernegara. Untuk mewujudkan itu, pemerintah mengembangkan dan menginisiasi program Merdeka Belajar,” ujar Dr. Ir. Eko Warisdiono, M.M., Pejabat Fungsional Direktorat Sekolah Dasar saat mengisi webinar bersama Redaksi Majalah Bobo, Jumat, 23 Juli 2021.

Namun, upaya pemerintah mewujudkan Merdeka Belajar menjadi terhambat karena kondisi pandemi Covid-19 yang belum usai. Proses pembelajaran harus berubah, dari tatap muka menjadi luring dan daring. Hanya daerah yang memiliki zona hijau yang diberi izin melaksanakan pembelajaran tatap muka.

“Namun, belajar jarak jauh ternyata menimbulkan gap dan learning loss. Oleh karena itu, teman-teman guru harus berjuang sedemikian rupa dengan segala keterbatasannya menjaga semangat anak didik agar tidak terjadi learning loss,” ujar Eko.

Kemendikbudristek, lanjut Eko, terus mengupayakan untuk menyelesaikan persoalan pendidikan, khususnya di tingkat Sekolah Dasar. Dimulai dengan kebutuhan jaringan internet, modul pembelajaran dan membuat metodologi penilaian yang diberikan keleluasaan langsung kepada pihak sekolah.

“Pemerintah juga memberikan kelonggaran terhadap sekolah untuk memberikan mata pelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah dan sesuai dengan psikologis anak-anak didiknya,” imbuh Eko.

Selain itu, ujar Eko, sekolah juga diberikan mandat untuk merancang proses pembelajaran dengan cara dan gaya masing-masing sesuai dengan kebutuhan kebutuhan sekolahnya. Caranya bisa menggunakan luring maupun daring yang disesuaikan dengan dengan kondisi masing-masing.

“Yang pasti kita tetap wajib melindungi kesehatan dan keselamatan peserta didik dan warga sekolah,” ujarnya.

Psikolog Pendidikan, Inti Nusaida menuturkan, dari sisi psikologis, ada tahapan perkembangan pada anak dalam pendidikan. Pertama, perkembangan yang dapat dicapai adalah lingkungan belajar yang baik. Ketika siswa mendapatkan pembelajaran natural dan konteks siswa bisa langsung mengaplikasikannya.

“Yang kedua, ketika ruang sekolah bisa menciptakan komunitas sehingga siswa merasa dihargai. Siswa merasa tidak hanya sebagai siswa, tapi juga sebagai sistem komunitas. Semuanya terlibat, tidak hanya guru dan siswa saja, tapi juga termasuk semuanya,” kata Inti.

Ketiga, lingkungan sekolah yang baik. Ini akan membantu siswa belajar dengan baik dan akan merangsang keberhasilan. Jika anak mempunyai perasaan berhasil, maka mereka bisa mencapai sesuatu dan juga dapat melakukan berkolaborasi.

Inti melanjutkan, belajar yang efektif memiliki 4 poin penting yang harus dipahami oleh para pengajar. Pertama, belajar efektif itu harus menyenangkan, bukan hanya bersenang-senang.

“Murid tidak hanya mendapatkan pembelajaran yang bersenang-senang, tapi juga yang menyenangkan. Siswa bisa mengikuti pembelajaran jika guru bisa menyampaikan dengan cara yang menyenangkan,” imbuhnya.

Poin kedua adalah belajar efektif. Proses belajarnya harus memiliki tantangan, bukan beban yang memberatkan siswa. Selain itu, harus ada asesmen penilaian.

“Nah, kalau anak diberikan sesuatu melebihi dari tahapan usianya, itu justru akan menjadi beban untuknya,” ujar Psikolog lulusan UI tersebut.

Ketiga, anak bisa membangun sendiri dan memahami pemikiran di berbagai situasi. Dan poin terakhir sebuah keberhasilan belajar adalah perilaku dan karya.

“Aspek yang bisa mendukung semua itu adalah pola asuh keluarga. Setelah itu aspek-aspek yang mendukung psikologis anak. Di sekolah, hubungan antara guru dan siswa, siswa dengan siswa lain, aturan kurikulumnya. Yang ketiga adalah hubungan masyarakat. Teman di lingkungan rumah, aktivitas masyarakat media informasi, harus dilakukan secara baik dan sehat.” pungkasnya. (Hendriyanto)