Membangun Karakter Pelajar Pancasila Melalui Kurikulum Merdeka

Pandemi Covid-19 rupanya bukan penyebab utama terjadinya learning loss. Kemunduran pembelajaran yang dialami siswa memang diperparah kondisinya oleh pandemi. Tetapi jika berkaca pada akar permasalahan, learning loss lebih disebabkan oleh cara dalam melakukan pembimbingan kepada siswa. Cara dalam mengetahui problem anak dari minggu pertama sampai minggu terakhir masa pembelajaran, sehingga apa yang disampaikan oleh tenaga pendidik pada anak lebih kepada menuntaskan tanggung jawab terhadap materi kurikulum yang harus disampaikan, tanpa fokus kepada kompetensi peserta didik.

“Maka persoalan anak akan terus semakin sulit. Sehingga utang kita kepada anak itu terus berbunga dan berlipat. Nah, kondisi ini berlangsung sedemikian lama dalam porsi pendidikan kita,” kata Drs. Zulfikri Anas, M.Ed., Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendikbudristek dalam webinar yang digelar Direktorat Sekolah Dasar dengan tema “Kurikulum Merdeka: Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik", pada Senin, 4 April 2022.

Seharusnya, kata Zulfikri, kondisi tersebut tidak terjadi lagi ketika sudah beralih dari kurikulum 94 ke 2004, dari berbasis materi ke berbasis kompetensi, kemudian dilanjutkan dengan kurikulum 2006 yang juga berbasis kompetensi, lalu kurikulum 2013 berbasis kompetensi.

“Kurikulum 2006-2013 tetap berbasis kompetensi tapi proses yang terjadi sama seperti yang dulu. Di sini sebetulnya perubahan yang kita upayakan sekarang. Bukan perubahan pada kurikulumnya tapi lebih ke perubahan-perubahan pola pikir kita semua,” imbuhnya.

Perubahan yang dimaksud adalah cara membangun budaya belajar yang betul-betul berpihak kepada anak, yang betul-betul memberi ruang kepada setiap individu anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya. Karena yang lebih menentukan tumbuh kembang anak adalah kodratnya sebagai manusia yang berpikir.

“Anak-anak tumbuh dan berkembang berdasarkan kodratnya. Untuk itu dalam proses pendidikan, konsep merdeka harus diartikan sebagai memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada anak untuk menggunakan pola pikir mereka dengan cara belajar mereka. Sehingga mereka menemukan jati dirinya sejak dini, dan setiap anak pasti memiliki potensi yang berbeda antara anak satu dengan anak yang lainnya,” kata Zulfikri.

Dengan kemampuan yang berbeda-beda itulah, Zulfikri menyampaikan anak-anak akan saling berkolaborasi. Inilah yang dihadirkan dalam Kurikulum Merdeka sehingga secara nasional memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada satuan pendidikan untuk mengelola secara teknis.

“Pembelajaran berpusat kepada anak itu artinya menghidupkan mesin belajar yang ada di dalam diri setiap anak,” ujarnya.

Membangun Karakter Pelajar Pancasila Melalui Kurikulum Merdeka

Dalam kesempatan yang sama, Tri Utami Widayati, S.Pd., Guru Sekolah Penggerak SD Negeri 47 Kota Jambi menuturkan, banyak dukungan dari berbagai pihak selama menjalankan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak SD Negeri 47 Kota Jambi. Dukungan pertama datang dari Kemendikbudristek yang memberikan pendampingan ahli untuk para guru dan juga sekolah dalam melaksanakan Kurikulum Merdeka.

“Dukungan lainnya yang sangat membantu kami adalah platform Merdeka Mengajar. Dari aplikasi tersebut kami para guru sangat terbantu, karena kami bisa download atau bisa mengakses bahan ajar, assessment dan sebagainya yang tersedia dalam fitur-fitur di dalamnya. Sehingga kami dapat belajar dan upgrade ilmu dari platform tersebut,” kata Utami.

Dukungan lainnya diberikan oleh kepala sekolah. Ia mendukung baik secara material maupun moril kepada guru-guru yang dipercaya untuk mengajar di sekolah penggerak ini. Selain itu tidak ketinggalan pula dukungan dari para orangtua siswa di sekolah yang sangat kooperatif dalam mendukung semua kegiatan program sekolah penggerak yang dilaksanakan oleh SDN 47 Kota jambi.

“Tidak ketinggalan juga teman sejawat yang turut mendukung kami menjalani berkolaborasi untuk menciptakan atau merancang strategi pembelajaran agar tetap berinovasi. Jadi pembelajaran berpusat pada anak kalau bisa saya maknai adalah, bahwa kemampuan dan karakteristik setiap siswa itu berbeda maka capaiannya pun nanti akan berbeda. Pembelajaran yang berpusat pada siswa harus fokus pada kemampuan dan karakteristik siswa, supaya siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran secara bermakna,” imbuhnya.

Membangun Karakter Pelajar Pancasila Melalui Kurikulum Merdeka

Drs. Sumardi Achmad Badawi, Managing Director of Sekolah Khalifa IMS (SPK) mengatakan, pihaknya sadar bahwa tidak semua anak sama dalam kompetensinya. Sehingga pihaknya pun mempunyai sisi metodologi yang berbeda-beda dalam menerapkan pelajaran terhadap peserta didik.

“Kami melakukan proyek riset di sekolah yang melibatkan siswa dan guru. Pembelajaran berbasis proyek ini kami pelajari dari sekolah lain karena kami sering melakukan studi banding,” ujarnya.

Ia melanjutkan, setelah proses penerimaan murid baru awal bulan September nanti, peserta didik dan guru mulai membentuk kelompok memilih topik dan mengadakan bimbingan umum.

”Kemudian pada bulan Oktober awal ada thesis defense dimana peserta mempresentasikan proposal di depan guru, kepala sekolah, orang tua. Di kuartal empat peserta didik melakukan presentasi tentang hasil riset mereka,” kata Sumardi.

Membangun Karakter Pelajar Pancasila Melalui Kurikulum Merdeka

Dwi Nurani, S.K.M., M.Si., perwakilan dari Direktorat Sekolah Dasar dalam webinar menjelaskan, Kurikulum Merdeka yang sebelumnya dikenal dengan kurikulum Prototype ini ditawarkan pemerintah sebagai salah satu opsi pemulihan pembelajaran akibat pandemi. Kurikulum Merdeka ini dianggap salah satu opsi yang dibutuhkan karena hasil dari berbagai penelitian menyebutkan, untuk mengatasi krisis pembelajaran diperlukan kurikulum yang sangat fleksibel.

“Nah, salah satu keunggulan dari Kurikulum Merdeka ini adalah fleksibel, yang berfokus pada materi esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik,” tuturnya.

Salah satu enesi dari Kurikulum Merdeka ini, lanjut Dwi Nurani, adalah mengacu pada fase atau capaian pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Sehingga belajar lebih mendalam, bermakna, dan menyenangkan.

“Selain itu Kurikulum Merdeka juga memiliki keunggulan yaitu memberikan kemerdekaan, baik kemerdekaan untuk guru, kepala sekolah, ataupun siswa untuk memilih pembelajaran yang sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, serta sesuai dengan karakteristik siswanya,” imbuh Dwi Nurani.

Kemudian keunggulan yang lainnya adalah, Kurikulum Merdeka lebih relevan dan interaktif dimana pembelajaran bisa melalui kegiatan proyek, yang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasikan Isu-isu aktual. Seperti isu lingkungan, kesehatan dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan penguatan profil pelajar Pancasila.

“Oleh karena itu kami berharap kita semua dapat sosialisasikan kebijakan Kurikulum Merdeka ini kepada seluruh masyarakat Indonesia,” tutupnya. (Hendriyanto)