Webinar Dharma Wanita Persatuan

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), berkolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP), mengajak masyarakat untuk menggerakan sosialisasi transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.

Kebijakan tersebut diluncurkan untuk meluruskan miskonsepsi tentang kemampuan baca, tulis, dan hitung (Calistung) siswa masuk SD, dan juga menitikberatkan pentingnya membangun kemampuan fondasi pada anak secara bertahap demi efektif dan optimalnya proses pembelajaran.

“Di masyarakat kita saat ini, masih banyak miskonsepsi yang terjadi terkait kemampuan Calistung pada murid sekolah dasar kelas awal. Masih banyak guru dan juga orang tua yang beranggapan bahwa Calistung merupakan penentu utama keberhasilan anak dalam belajar,” ungkap Franka Makarim, Ketua Umum DWP dan Ketua Bidang 1 OASE-KIM pada saat membuka kegiatan Webinar Dharma Wanita Persatuan: Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan (27/06/23).

Miskonsepsi besar itulah kini sedang diluruskan oleh Kemendikbudristek didukung oleh OASE-KIM, Dharma Wanita Persatuan, serta Bunda PAUD di seluruh Indonesia melalui gerakan transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.

Webinar Dharma Wanita Persatuan

“Melalui gerakan ini kita menyadarkan masyarakat bahwa kita mendorong perkembangan kemampuan fondasi anak secara Holistik bukan cuma Calistung,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, ada enam kemampuan fondasi yang harus dikembangkan dalam periode usia dini. Pertama pemahaman atas nilai-nilai agama dan budi pekerti, kedua keterampilan sosial dan bahasa, ketiga kematangan emosi, ke empat kematangan kognitif yang meliputi kemampuan literasi dan numerasi, kelima kemampuan motorik, dan keenam adalah pemaknaan positif atas proses belajar.

Membuka enam kemampuan fondasi ini harus diajarkan kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan terlebih bagi anak usia dini yang masih dalam fase golden age. Sebagai sebuah gerakan, upaya transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan ini harus dilakukan bersama-sama dengan gotong royong.

“Para guru harus mengupayakan perubahan dan proses pembelajaran di satuan pendidikan, dan orang tua juga harus mengharapkan agar pencapaian holistik dapat dilangsungkan. Sementara itu untuk DWP yang memiliki PAUD binaan, saya harap ibu-ibu dapat mengawal PAUD binaannya untuk menerapkan pembelajaran yang dapat membangun enam kemampuan pondasi secara holistik,” tutupnya.

Webinar Dharma Wanita Persatuan

Dalam kesempatan tersebut, Iwan Syahril Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen Kemendikbudristek mengungkapkan, sejak diluncurkan gerakan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan Kemendikbudristek telah melakukan advokasi ke berbagai pihak mulai dari pemangku kepentingan di pusat hingga ke daerah, satuan pendidikan, guru hingga orang tua.

Tidak hanya sampai disitu, Kemendikbudristek juga telah mengajak berbagai mitra strategis seperti OASE-KIM, DWP, Kemenag, Bunda-Bunda PAUD, Ketua Tim Penggerak PKK dan Organisasi Kemasyarakatan yang memiliki program pendidikan, untuk turut bersama sama bergotong-royong dalam gerakan ini.

“Semakin banyak dukungan menjadi esensi gerakan PAUD ke SD yang menyenangkan ini akan tersampaikan dengan lebih cepat,” kata Iwan Syahril.

Lebih lanjut ia menyampaikan, bahwa ada tiga target perubahan yang perlu dicapai dalam gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan. Pertama adalah menghilangkan tes Calistung pada proses peserta didik baru pada pendidikan dasar SD atau MI, kedua menerapkan masa pengenalan lingkungan sekolah bagi peserta didik baru selama dua minggu pertama dan yang ketiga penerapan pembelajaran yang dapat membangun kemampuan  fondasi anak.

“Saya yakin melalui berbagai advokasi dan bantuan DWP Kemendikbudristek maka target-target perubahan ini akan dapat kita capai bersama,” pungkasnya.

Webinar Dharma Wanita Persatuan

Dalam kesempatan yang sama, Muhammad Hasbi Direktur Sekolah Dasar menegaskan, inti dari gerakan Transisi PAUD ke SD yang menyenangkan adalah, untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik agar mendapatkan kemampuan fondasi yang dibutuhkan. Sehingga mereka siap mengikuti periode pendidikan di kehidupan mereka yang berikutnya.

“Oleh karena itu kegiatan pada hari ini memiliki arti yang sangat penting sebagai bentuk kolaborasi, terutama dari ibu ibu DWP yang mensukseskan kegiatan Transisi dari PAUD ke SD yang Menyenangkan. Mari sama sama kita kawal tiga target perubahan yang tadi sudah disebutkan oleh Pak Iwan. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini sehingga dapat berlangsung dengan lancar,” kata Muhammad Hasbi dalam sambutannya.

Dalam kegiatan yang dipandu oleh MC kondang Choky Sitohang tersebut, juga diadakan kegiatan talk show bersama keempat narasumber, diantaranya Direktur PAUD Kemendikbudristek, Kepala Sekolah PAUD, Guru SDN dan seorang psikolog.

Komalasari Direktur PAUD Kemendikbudristek menuturkan, miskonsepsi transisi PAUD ke SD sudah menjadi permasalahan bertahun-tahun dalam pendidikan Indonesia. Komalasari mengatakan, pembelajaran di PAUD dan SD kelas awal belum berkesinambungan dan belum selaras.

“Selain itu miskonsepsi transisi PAUD ke SD masih kuat di masyarakat Indonesia contohnya bahwa pembelajaran di PAUD sangat berfokus pada calistung dan dianggap satu-satunya sebagai keberhasilan belajar bagi anak. Selain itu di lapangan juga masih ada praktek tes calistung sebagai dasar untuk penerimaan peserta didik baru di sekolah dasar maupun madrasah ibtidaiyah. Oleh karena itu diharapkan melalui berbagai upaya kami bisa meluruskan miskonsepsi tersebut,” katanya.

Sementara itu Sari Lestari, Kepala Sekolah PAUD Taman Ceria Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat menuturkan sebelum adanya gerakan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan, pihaknya merasa sangat bingung karena anak-anak diwajibkan untuk ikut tes Calistung saat mereka akan masuk SD.

“Jadi saya sangat merasakan bagaimana orang tua merasa ‘galau’ saat mau mendaftarkan anaknya ke SD karena ada tes calistung. Sehingga mereka pun menuntut kami di PAUD agar anak-anak mereka sudah bisa baca, tulis dan menghitung,” ucap Sari Lestari.

Sari mengaku tuntutan dari para orangtua adalah beban bagi para tenaga pendidik di jenjang PAUD. Ditambah ketika mereka mengajarkan ajaran motorik seperti bermain para orang tua pun akan menganggapnya anak-anak di sekolah PAUD itu hanya bermain dan tidak belajar.

Oleh karenanya ketika ada kebijakan Transisi PAUD ke SD yang menyenangkan mereka pun merasa sangat senang luar biasa. Melalui kebijakan tersebut mereka menilai itu adalah kebijakan yang ditunggu-tunggu oleh para guru di jenjang PAUD.

 

“Saya sangat semangat mempelajari terkait kebijakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan. Saya juga bersyukur terpilih untuk menjadi peserta Bimtek Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan. Alhamdulillah banget sangat bersyukur sekali kebijakan ini memang benar benar angin surga bagi Pendidik PAUD,” tuturnya pada Choky Sitohang,

Endah Sri. S Guru SDN Kapukanda dari Kabupaten Sleman, Yogyakarta menyampaikan perasaan terbebani yang dipendamnya selama ini. Ia mengatakan kalau berbicara miskonsepsi transisi PAUD ke SD  pihak SD seperti tersangkanya. Karena pada dasarnya kata Endah, hal tersebut dilakukan karena tuntutan dari kurikulum terdahulu.

“Kurikulum terdahulu menuntut anak sudah harus bisa membaca dari buku dan sudah langsung mengenal membaca. Jadi kami berharap dengan sangat kalo anak-anak yang masuk SD harus sudah menulis dan membaca. Efeknya kepada wali murid yang menuntut ke tenaga pendidik PAUD agar anaknya bisa membaca dan menulis. Akhirnya pihak PAUD pun menghalalkan segala cara,” tutur Endah.

Endah kembali menegaskan mereka menuntut seperti itu karena kebijakan kurikulum yang menuntut mereka. Begitu masuk kelas satu, anak harus duduk memegang buku pelajaran dan kalau belum bisa membaca, belum bisa mengikuti pelajaran.

“Dengan adanya gerakan transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan ini, kami sangat luar biasa senang. Ini juga meringankan beban kami selama ini,” ujarnya dengan jujur.

 

Ini Kata Psikolog Terkait Kembang Tumbuh Anak

Menanggapi terkait transisi peserta didik PAUD ke SD, Rose Mini atau yang biasa disapa dengan Bunda Romi, seorang Psikolog mengatakan, secara psikologis yang harus disiapkan adalah kesiapan sekolah.

Misalnya saja kalau mengajar anak untuk bisa menulis usia PAUD dan SD awal harus dalam bentuk visual. Untuk tahu berhitung anak pada usia empat tahun itu masih harus melihat sesuatu yang konkrit. Jadi mengajarkan berhitung pun harus dengan visual menunjukan gambar atau bentuknya.

“Makanya kenapa di tingkat PAUD dan SD awal itu belajarnya harus sambil bermain, karena tahap perkembangan mereka belum sampai ke imajinasi melainkan visual,” kata Bunda Romi.

Ia melanjutkan, secara psikologis berdasarkan teori dan penelitian, usia satu tahun itu kemampuan konsentrasinya sampai 3 menit, jika usia tiga tahun berarti kemampuannya adalah 9 menit. Oleh karena itu kata Bunda Romi, guru di TK harusnya saat mengajarkan konsentrasi jangan selama 15 menit.

“Karena untuk anak umur tiga-empat tahun kemampuan konsentrasinya sangat terbatas. Walaupun setiap anak berbeda beda. Tapi rata-rata kemampuannya segitu dan kalau dipaksa, pelajaran yang diberikan tidak akan masuk ke sistem otaknya,” ujarnya.

Lebih lanjut, mengajarkan motorik pada anak juga harus bertahap. Motorik awal anak dalam perkembangan kehidupannya adalah motorik kasar. Makanya kenapa anak-anak suka loncat, lari dan tidak mau diam. Ketika anak-anak tidak mau diam dia loncat kesana kesini itu artinya anak tersebut normal, karena dia perlu melatih motorik kasarnya.

“Nah ketika dia mau masuk ke sekolah dasar harus kita lihat motorik halusnya, dimana motorik halus anak itu ada di jari tangan dan tidak semuanya itu harus dengan cara menulis. Contoh melatih motorik halus adalah memasukkan biji-bijian ke dalam botol. Intinya simulasinya tidak harus berat, tapi harus lebih mudah yang bisa dilakukan di rumah atau dimanapun,” ujarnya.

Terkait sekolah yang menyenangkan bagi peserta didik, Bunda Romi menegaskan tidak hanya sekolah tingkat PAUD dan SD saja yang harus menyenangkan dan bahagia. Tetapi juga harus sampai ke tingkat SMA sekolah harus menyenangkan bagi murid.

“Sekolah yang menyenangkan anak pun akan senang dan dengan sendirinya anak ingin tahu sesuatu dan hal itu akan menjadi yang luar biasa. Sekarang memang tantangannya adalah mensosialisasikan kebijakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan karena harus merubah paradigma berpikir masyarakat itu tidak mudah,” pungkasnya mengakhiri.