GIAT SD Masuk Finalis Top Inovasi Pelayanan Publik

Galeri Informasi, Aktivitas dan Transformasi Sekolah Dasar (GIAT SD) masuk Finalis Top Inovasi Pelayanan Publik. Ini adalah kompetisi inovasi layanan publik di lingkungan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, BUMN dan BUMD. Penyelenggaranya Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Tidak tanggung-tanggung, peserta Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) berjumlah ribuan satuan/unit kerja baik di tingkat pusat maupun daerah. GIAT SD yang dikelola Direktorat Sekolah Dasar merupakan satu diantara dua  satuan kerja yang mewakili Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek.

Tim Panel Independen telah melakukan sidang pleno pada tanggal 13 Juni 2022 untuk menentukan Finalis Top Inovasi. Hasilnya, dari ribuan peserta, kini tinggal 114 peserta yang masuk Finalis Top Inovasi. Kemendikbudristek berhasil meloloskan dua wakilnya yaitu GIAT SD dan ARMAdA (Adventure Remote Medicine of Airlangga and Alumni).

Selanjutnya, Direktur Sekolah Dasar, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd diundang untuk melakukan presentasi dan wawancara di hadapan Tim Panel Independen pada Jumat, 24 Juni 2022. Tim ini memang benar-benar independen karena terdiri dari para tokoh nasional.

Sebut saja diantaranya adalah mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Erry Riyana Hardjapamekas, Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan (2004-2009) Prof. Dr. JB Kristiadi, DEA., peneliti senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Siti Zuhro, M.A., mantan Pemimpin Redaksi SCTV/Indosiar Nurjaman Mochtar, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI ) periode 2020-2025, Tulus Abadi, dan Komisioner Jabatan Pimpinan Tinggi Komisi Aparatur Sipil Negara Rudy Sumarwono.

Dalam presentasi dan wawancara yang digelar secara daring, Sri Wahyuningsih memaparkan bahwa GIAT SD lahir dari keresahan insan Direktorat Sekolah Dasar atas upaya pembinaan sekolah dasar di seluruh Indonesia yang jumlahnya kurang lebih 149 ribu sekolah. Bentangan wilayah yang sangat luas dan jumlah sekolah yang sangat banyak membuat upaya pembinaan itu tidak mudah.

”Kalau kami harus sering turun ke daerah menyosialisasikan setiap kebijakan dan program Kemendikbudristek, biayanya sangat mahal dan menyita banyak waktu. Maka, kami memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk menjalin komunikasi yang efektif, cepat, murah dan mudah dengan sekolah dan dinas Pendidikan kabupaten/kota,” tutur Sri Wahyuningsih. Hal ini juga dikuatkan dengan adanya kebijakan Merdeka Belajar yang sudah memasuki episode ke 20, yang harus dipahami oleh pemangku kepentingan pendidikan.

Maka lahirlah GIAT SD yang mengelola website resmi Direktorat Sekolah Dasar dan juga media sosial seperti Youtube, Instagram, Facebook dan Twitter. GIAT SD digawangi oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN), bukan para profesional di bidang digital. Meski demikian, dengan semangat kolaborasi yang kuat, kinerja GIAT SD patut dibanggakan.

Tim GIAT SD berkolaborasi dengan seluruh pegawai Direktorat Sekolah Dasar membuat konten yang mencerahkan untuk warga sekolah, orang tua murid dan pemerintah daerah kabupaten/kota. Konten itu berupa Webinar, Podcast, Ngobrol Pintar, Happy Monday, desain grafis, berita, foto dan video tentang kebijakan, program serta isu-isu terhangat di bidang pendidikan, khususnya terkait jenjang sekolah dasar.

Konten-konten yang kami buat disebarluaskan melalui website dan media sosial resmi milik Direktorat Sekolah Dasar. Sasarannya adalah warga sekolah dasar, orang tua murid dan stakeholder bidang pendidikan,” kata Sri Wahyuningsih.

Belum genap dua tahun berjalan, kerja keras itu mulai membuahkan hasil. Banyak respons positif dari netizen terhadap konten-konten GIAT SD. Pengunjung website dan follower media sosial meningkat tajam dari waktu ke waktu.

”Sampai hari ini, pengunjung website kami rata-rata 8.000 pengunjung setiap hari. Youtube Direktorat Sekolah Dasar juga telah mendapatkan Silver Play Button dengan jumlah subscriber mencapai 134 ribu,” jelasnya. Dan sekarang, GIAT SD mendapat apresiasi dari ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik. Sri Wahyuningsih menyatakan, apresiasi tersebut merupakan kado terindah untuk insan Direktorat Sekolah Dasar.

Erry Riyana Hardjapamekas dalam sesi wawancara menanyakan tentang sekolah-sekolah yang ada di wilayah yang tidak terjangkau oleh internet, bahkan listrik pun tidak ada. Ia ingin tahu program apa yang telah dilakukan Kemendikbudristek untuk menjangkau sekolah-sekolah tersebut.

Sri Wahyuningsih menjelaskan bahwa berbagai program telah dijalankan untuk menjangkau sekolah-sekolah di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Misalnya dengan menjalin kerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk membangun spot-spot internet di titik tertentu. Program ini juga dijalankan dengan menggandeng pihak swasta.

Ada juga program mendistribusikan modul belajar ke daerah-daerah yang tidak ada koneksi internet. ”Kemendikbudristek juga bekerja sama dengan TVRI dan RRI untuk menyiarkan program-program pendidikan, sehingga bisa menjangkau putra-putri didik kita di darah 3T,” papar Sri Wahyuningsih. (Hendriyanto)