Dalam rangka antisipasi dampak pandemi Covid-19 terhadap ketertinggalan pembelajaran (learning loss) dan kesenjangan pembelajaran (learning gap), Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) telah mengeluarkan kebijakan pemulihan pembelajaran. Salah satu perwujudan kebijakan tersebut adalah peluncuran Merdeka Belajar Episode Kelima belas: Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar pada 11 Februari 2022.

Agar lebih mudah dapat dipahami dan dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan, Direktorat Sekolah Dasar menggelar sosialisasi Kurikulum Merdeka di berbagai daerah. Kali ini sosialisasi diselenggarakan di Pekanbaru, Riau, pada 30 Maret – 2 April 2022. Pesertanya adalah ratusan pengawas dan kepala sekolah dari regional I yang mencakup wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau dan Jambi.

Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendikbudristek, Zulfikri Anas yang menjadi salah satu narasumber dalam sosialisasi ini menjelaskan, dalam rangka pemulihan pembelajaran kini satuan pendidikan diberi kebebasan menentukan kurikulum yang akan dipilih. Pilihan pertama adalah Kurikulum 2013  secara penuh, pilihan kedua adalah Kurikulum Darurat yaitu Kurikulum 2013 yang disederhanakan, dan pilihan ketiga adalah Kurikulum Merdeka.

Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, Zulfikri Anas menegaskan satuan pendidikan dapat mengimplementasikannya secara bertahap sesuai kesiapan masing-masing.

“Sejak Tahun Ajaran 2021/2022 Kurikulum Merdeka telah diimplementasikan di hampir 2.500 sekolah yang mengikuti Program Sekolah Penggerak (PSP) dan 901 SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) sebagai bagian dari pembelajaran dengan paradigma baru. Kurikulum ini diterapkan mulai dari TK-B, SD dan SDLB kelas I dan IV, SMP  dan SMPLB kelas VII, SMA dan SMALB dan SMK kelas X,” paparnya pada Kamis, 31 Maret 2022 di Pekanbaru, Riau.

Namun mulai Tahun Ajaran 2022/2023, lanjut Zulfikri Anas, satuan pendidikan dapat memilih untuk mengimplementasikan kurikulum berdasarkan kesiapan masing-masing mulai TK B, kelas I, IV, VII, dan X.

“Pemerintah menyiapkan angket untuk membantu satuan pendidikan menilai tahap kesiapan dirinya untuk menggunakan Kurikulum Merdeka,” kata Zulfikri.

Tiga pilihan yang dapat diputuskan satuan pendidikan tentang implementasi Kurikulum Merdeka pada Tahun Ajaran 2022/2023 adalah:

  • Menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan.
  • Menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan.
  • Menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar.

Zulfikri Anas menjelaskan bahwa Kurikulum Merdeka ini melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya. Pertama dari sisi orientasi holistik, Kurikulum Merdeka dirancang untuk mengembangkan murid secara holistik, mencakup kecakapan akademis dan nonakademis, kompetensi kognitif, sosial, emosional, dan spiritual.

Selanjutnya dari sisi berbasis kompetensi dan bukan konten, Kurikulum Merdeka dirancang berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan berdasarkan konten atau materi tertentu.

Kemudian Kurikulum Merdeka ini juga dilihat dari sisi kontekstualisasi dan personalisasi, di mana kurikulum dirancang sesuai konteks (budaya, misi sekolah, lingkungan lokal) dan kebutuhan murid.

Inti dari Kurikulum Merdeka adalah Merdeka Belajar. Melalui konsep itulah Kurikulum Merdeka diciptakan dengan tiga keunggulan mendasar bagi murid, guru, dan sekolah.

Pertama, lebih sederhana dan mendalam, fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Belajar menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru dan menyenangkan.

Kedua, Kurikulum Merdeka memiliki keunggulan lebih merdeka. Merdeka bagi peserta didik yaitu tidak ada program peminatan di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya.

Sementara merdeka bagi guru mengajar adalah sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik. Sedangkan merdeka bagi sekolah adalah memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum serta pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.

Keunggulan yang ketiga, lanjut Zulfikri Anas, adalah Kurikulum Merdeka lebih relevan dan interaktif. Yaitu pembelajaran melalui kegiatan proyek memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual. Misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.

Penerapan Kurikulum Merdeka juga didukung oleh platform Merdeka Mengajar. Sebuah platform edukasi yang menjadi teman penggerak untuk guru dalam mewujudkan Pelajar Pancasila dan menunjang guru untuk mengajar, belajar dan berkarya lebih baik lagi.

“Platform Merdeka Mengajar membantu guru dalam mendapatkan referensi, inspirasi, dan pemahaman untuk menerapkan Kurikulum Merdeka,” kata Lasty Devira, anggota tim platform Merdeka Mengajar yang juga tampil sebagai narasumber di hadapan ratusan pengawas dan kepala sekolah.

Lasty menjelaskan, ada tiga hal utama yang terhimpun dalam platform Merdeka Mengajar untuk menyediakan referensi bagi guru guna mengembangkan praktik mengajar sesuai dengan Kurikulum Merdeka.

Pertama adalah perangkat ajar. Dalam platform tersebut saat ini sudah tersedia lebih dari 2000 referensi perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka. Lalu ada asesmen murid yang akan membantu guru melakukan analisis diagnostik literasi dan numerasi dengan cepat, sehingga dapat menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan peserta didik.

Kedua adalah belajar. Dalam platform tersebut ada pelatihan mandiri, dimana guru dapat memperoleh materi pelatihan berkualitas dengan mengaksesnya secara mandiri. Ada juga video inspirasi untuk bahan referensi guru bisa mendapatkan beragam video inspiratif untuk mengembangkan diri dengan akses tidak terbatas.

Yang ketiga ada ‘Bukti Karya Saya’ yang terdapat dalam platform tersebut. Melalui laman tersebut guru dapat membangun portofolio hasil karyanya agar dapat saling berbagi inspirasi dan berkolaborasi, yang terkoneksi dengan para tenaga pengajar lainnya di seluruh Indonesia.

Lasty juga mengingatkan, untuk masuk ke platform Merdeka Mengajar, guru harus menggunakan akun pembelajaran belajar.id. Kalau tidak menggunakan akun belajar.id, guru tidak dapat mengakses platform Merdeka Mengajar.

“Untuk memudahkan para guru, akun belajar.id sudah tersedia dalam bentuk aplikasi yang dapat diunduh pada gawai android, atau bisa juga langsung mengakses melalui laman situs,” kata Lasty. (Hendriyanto)