Direktorat Sekolah Dasar Apresiasi Pejuang Literasi di Daerah

Baru-baru ini Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim telah menyampaikan hasil Asesmen Nasional yang menunjukkan tingkat literasi peserta didik di Indonesia masih di bawah angka yang diharapkan.

Pengembangan kemampuan literasi anak-anak adalah tugas bersama, baik pemerintah maupun masyarakat. Tingkat literasi masyarakat yang tinggi akan menentukan pembangunan masyarakat itu sendiri. Peningkatan literasi masyarakat merupakan hal yang tidak bisa dihindari.

Oleh sebab itu Direktorat Sekolah Dasar sangat mengapresiasi dengan banyak pejuang-pejuang literasi di daerah yang bermunculan. Dengan semangat dan motivasi yang tinggi dan keinginan memajukan tingkat literasi anak-anak di sekitar mereka. Direktorat Sekolah Dasar pun mengundang para pejuang literasi tersebut dalam webinar yang bertajuk Semangat Literasi Masyarakat Inspirasi dan Kreasi, pada 5 April 2022.

“Mudah-mudahan para pejuang literasi ini bisa memberikan inspirasi kepada seluruh masyarakat, agar bisa berinovasi, ikut berkontribusi aktif untuk menciptakan suatu aktivitas, menciptakan suatu sarana untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat kita,” kata Dr. Lanny Anggraini, M.A., PTP Ahli Muda Direktorat Sekolah Dasar saat memberikan sambutannya.

Ia kembali mengingatkan dalam hasil tes PISA di tahun 2018 lalu, tidak ada lonjakan peningkatan nilai selama 18 tahun terakhir. Ditambah lagi dengan adanya pandemi Covid-19 menjadi tantangan lainnya yang harus dihadapi oleh satuan pendidikan dan masyarakat.

“Oleh karenanya Kemendikbudristek dalam hal ini Direktorat SD dari tahun 2020 kemarin fokus menciptakan suatu aktivitas dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi. Utamanya adalah meningkatkan minat baca masyarakat pada umumnya, dan peserta didik maupun warga sekolah pada khususnya,” imbuh Lanny.

Tidak hanya itu, lanjut Lanny, Direktorat Sekolah Dasar selalu melakukan upaya-upaya melalui kegiatan webinar dalam meningkatkan minat baca. Kemudian membuat konten dalam bentuk infografis terkait meningkatkan minat baca bagi peserta didik ataupun masyarakat, yang tayang di sosial media Direktorat SD.

Ia berharap melalui webinar Literasi Masyarakat Inspirasi dan Kreasi ini bisa memberikan inspirasi kepada semua pihak, agar dapat memahami pentingnya literasi dan bagaimana cara meningkatkan kemampuan literasi itu sendiri.

“Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh Direktorat Sekolah Dasar ini dapat memberikan manfaat yang luar biasa kepada bapak dan ibu semua, dan bisa memberikan inspirasi semangat serta bisa memunculkan ide-ide kreatif dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi literasi,” ujarnya mengakhiri sambutan.

Direktorat Sekolah Dasar Apresiasi Pejuang Literasi di Daerah

Wien Muldian, Ketua Umum Perkumpulan Literasi Indonesia mengemukakan bahwa pembelajaran pasca pandemi membangun momentum untuk saling gotong royong membuat konten yang baik, yang mudah dipahami dan bisa dipelajari oleh setiap daerah yang lain.

Dalam konteks gerakan literasi apalagi di era new normal, sumber belajar tidak hanya pada buku. Apalagi di saat pandemi masyarakat mempelajari banyak sumber bacaan, ada dari konten YouTube seperti storytelling. Ke depan sumber belajar akan semakin banyak ragam. Oleh karenanya Wien Muldian menyampaikan ada beberapa poin yang perlu dipahami oleh para pegiat literasi.

“Pertama kita harus mampu melihat bahwa antara sumber belajar ini akan saling melengkapi. Kita juga harus paham cara mengembangkan semangat literasi di masyarakat ke depan itu seperti apa,” kata Wie.

Kedua, adalah aktivitasnya seperti konsepsi 15 menit membaca sebelum pelajaran. Konsepsi tersebut merupakan sebuah pintu masuk aktivitas literasi. Pembelajaran kolaboratif dan pembelajaran individual harus semakin dikuatkan, jadi bukan hanya berbicara tatap muka tapi sesuatu yang memang jelas dampaknya.

Direktorat Sekolah Dasar Apresiasi Pejuang Literasi di Daerah

“Seperti yang kita harapkan terkait Merdeka Belajar dan juga konsepsi gotong-royong, saya lagi-lagi selalu menggarisbawahi bahwa yang kita kembangkan dalam proses literasi bukan hanya kegiatan membaca dan menulis, tapi juga menyimak, dan berbicara,” tegasnya.

Kemudian poin terakhir yang juga harus dipahami dalam kegiatan literasi adalah eksplorasi, di mana menjadikan semua bacaan adalah sebuah potensi pengetahuan.

“Pada hakekatnya literasi dalam proses membaca adalah sebagai pintu. Jadi harapannya kita tidak berurusan dengan minat baca, kebiasaan membaca, kemampuan membaca dan budaya membaca. Tapi kita juga harus masuk pada sebuah konsep bagaimana menangkap semua informasi dan pengetahuan yang kemudian kita kembangkan,” ujar Wien.

Brigadir Mudiyanto, Bhabinkamtibmas Polsek Bunguran Timur, Pengelola Rumah Baca Bhabinkamtibmas mengemukakan, awal mula menjadi pegiat literasi saat ia bertugas mengunjungi wilayah binaannya di Kelurahan Rane, Polres Natuna, Polda Kepulauan Riau tahun 2016.

Direktorat Sekolah Dasar Apresiasi Pejuang Literasi di Daerah

Saat bertugas itulah ia melihat anak-anak disibukkan dengan bermain gadget hampir setiap hari. Kemudian karena memiliki harapan agar anak-anak di Natuna menjadi penerus bangsa yang lebih baik, akhirnya pada tahun 2017 Brigadir Mudiyanto membuat perpustakaan keliling menggunakan motor yang dimodifikasi dengan tambahan box di belakang.

“Sebelum membuat perpustakaan keliling saya meminta izin dulu kepada pimpinan untuk mengadakan kegiatan perpustakaan. Alhamdulillah pimpinan merespon dengan baik asalkan tidak mengganggu pekerjaan,” cerita Brigadir Mudiyanto.

Salah satu alasan yang membuat Brigadir Mudiyanto semangat dalam mengembangkan kegiatan literasi pada anak-anak di wilayah perbatasan tersebut, karena anak-anak sangat tertarik dan antusias untuk membaca buku.

“Awalnya saya buka lapak perpustakaan keliling di salah satu sekolah dasar. Lambat laun guru dan siswa pun dekat dengan saya. Melalui perpustakaan keliling ini saya juga membawa image baik sebagai anggota Polri untuk mendekatkan diri ke anak-anak. Saya ingin mencoba menghilangkan image kurang baik pada polisi,” kata Mudiyanto.

Setelah berhasil melakukan kegiatan literasi di sekolah dasar tersebut, Brigadir Mudiyanto pun kemudian mencoba membuka lapak perpustakaan keliling di tempat lain, seperti anak-anak di pinggiran pantai.

“Dengan adanya penggiat literasi yang berseragam polisi ini menjadi salah satu daya tarik kepada anak-anak untuk membangun hobi membaca buku,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut narasumber lainnya, Rusia S.Pd., Founder Rumah Baca Teras Perbatasan Sebatik Nunukan turut membagikan kisahnya menjadi penggiat literasi di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia.

“Jadi tempat kami ini berbatasan secara darat dengan Malaysia, bahkan mata uang yang berlaku di Sebatik ini ada dua yaitu Ringgit Malaysia dan juga Rupiah, dan digunakan secara berbarengan,” kata Rusia.

Ia melanjutkan, karena Daerah Sebatik terletak di perbatasan di mana setiap jengkalnya dari perbatasan tersebut bisa menjadi pintu masuk barang-barang yang terlarang dari luar negeri, sehingga hal-hal yang seperti itu tentu sangat berpengaruh terhadap anak-anak yang ada di perbatasan.

“Melihat kondisi itulah saya bersama teman-teman yang peduli dengan anak-anak yang ada di perbatasan pun berpikir bahwa kami butuh sebuah forum untuk mewadahi kegiatan-kegiatan positif anak-anak yang ada di perbatasan. Supaya mereka tidak terpengaruh dengan hal-hal yang negatif,” ujar Rusia.

Sebagai guru Bahasa Inggris Rusia kemudian mengajak anak-anak didiknya untuk belajar bahasa Inggris di luar sekolah. Di sanalah Rusia kemudian mengajar bahasa Inggris sambil menanamkan rasa nasionalisme terhadap anak-anak yang ada di perbatasan.

“Saya mengajarkan bagaimana mengenalkan Indonesia kepada mereka, bahwa Indonesia itu bukan hanya Sebatik saja. Tapi di luar Sebatik itu ada Jakarta, ada Makassar, ada Bandung yang mungkin jauh lebih bagus daripada Sabah (Malaysia) yang mereka lihat di seberang,” tutur Rusia.

Ia juga menyampaikan kepada peserta didiknya untuk bisa mewujudkan Sebatik agar bisa menjadi seperti Sabah atau Malaysia yang berada di seberang sana. Maka anak-anak harus melanjutkan pendidikan, mereka harus belajar dan harus bisa melihat sisi lain dari Indonesia.

“Hingga akhirnya mereka anak-anak yang sebelumnya menjadi bimbingan saya ketika mereka kuliah menginformasikan kepada saya bahwa ada jalan untuk membentuk rumah baca. Karena sebelumnya saya mengajarkan literasi kepada anak-anak tanpa ada buku. Saya hanya buka ruang kelas belajar saja di rumah, mengajak mereka berdiskusi atau mempelajari hal-hal yang baru tidak hanya sekedar bahasa Inggris yang kami diskusikan, tapi ada banyak hal kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat,” katanya.

Sri Handayani, M.Pd., Guru SDN 10 Sapiran Bukittinggi, Founder Rumah Baca Anak Nagari Agam juga merupakan pejuang literasi di daerah. Motivasi terbesar Sri Handayani menjadi salah satu pejuang literasi dan mendirikan rumah baca anak Nagari dan aktif dalam kegiatan literasi sekolah, karena ia ingin anak-anak Indonesia dekat dengan buku, hobi membaca, menulis hingga menjadi generasi literasi demi Indonesia yang lebih baik.

“Di perpustakaan sekolah kami tidak hanya satu orang yang terlibat sebagai penggiat literasi sekolah atau perpustakaan sekolah, tapi kita semua di-support oleh Kepala Sekolah,” kata Sri Handayani.

Berbagai strategi untuk menumbuhkan literasi di sekolahnya pun dilakukan. Pertama untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah, setiap guru pada saat menerima sertifikasi wajib menyumbangkan buku cerita ke perpustakaan sekolah, kemudian pihak sekolah mempromosikan ke daerah lain atau ke masyarakat luas kalau sekolah mereka membutuhkan buku bacaan.

“Alhamdulillah sekolah kami sudah pernah dapat berbagai macam buku bacaan dari daerah-daerah lain. Selain itu kalau ada kegiatan-kegiatan kami juga ikut dan terlibat. Pada tahun 2022 ini kami masuk dalam 50 pemenang kado tahun baru dari penerbit Gramedia,” kata Sri Handayani.

Ia mengingatkan pegiat literasi tidak hanya aktif memberikan edukasi namun juga harus aktif melakukan berbagai startegi untuk megembangkan kegiatan literasinya. Selain itu juga harus  aktif berkolaborasi, aktif mencari informasi di luar wilayah.

“Alhamdulillah pada Februari tahun 2021 kemarin perpustakaan kami mendapatkan akreditasi A,” ucapnya seraya tersenyum. (Hendriyanto)