Bersinergi Dukung Studi Baseline dan Pemodelan Program Gizi untuk Anak SD dan MI

Data di Indonesia menunjukkan bahwa masih banyak anak Indonesia yang mengalami kekurangan dan kelebihan gizi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia di tahun 2018 menunjukkan bahwa 1 dari 4 anak usia Sekolah Dasar (SD) tergolong pendek stunting, 1 dari 10 anak tergolong kurus, 1 dari 4 anak tergolong anemia, dan 1 dari 5 anak tergolong gemuk. Keempat masalah gizi tersebut relatif sama banyaknya pada anak laki-laki dan perempuan. Kondisi tingginya beban gizi pada anak usia SD disebabkan oleh multifaktor, salah satunya adalah pola makan yang tinggi gula, garam, dan lemak, serta rendahnya konsumsi serat. Data Riskesdas juga menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak usia 5-9 tahun mengonsumsi makanan dan minuman manis lebih dari satu kali perhari. Di sisi lain, hanya 3% masyarakat Indonesia yang mengonsumsi buah dan sayur sesuai rekomendasi dan 17% masyarakat tidak mengonsumsi keduanya sama sekali.

Masalah gizi di Indonesia tidak hanya terjadi di wilayah tertinggal atau pedesaan saja. Survey Status Gizi Balita tahun 2021  menunjukkan bahwa 28% balita di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah mengalami stunting, 13,8% mengalami berat badan kurang atau sangat kurang, 13,8% mengalami gizi kurang atau gizi buruk. Meskipun belum ada data nasional terkait kecacingan, namun studi yang dilakukan di salah satu sekolah di Kabupaten Tegal menunjukkan bahwa 17,7% anak Sekolah Dasar teridentifikasi positif telur cacing berbagai jenis. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi gizi perlu dilakukan secara merata, termasuk di Pulau Jawa yang akses terhadap fasilitas kesehatannya relatif lebih mudah dibanding wilayah lain.

Intervensi gizi perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi anak usia sekolah yang mengalami malnutrisi dan turun prestasi belajarnya akibat hal tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Verstraten dkk (2012) menunjukkan bahwa intervensi gizi multikomponen berbasis sekolah yang memasukkan komponen pendidikan gizi untuk murid, guru, dan orang tua terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan memperbaiki perilaku. Pendidikan gizi juga terbukti mampu menurunkan konsumsi makanan ringan tinggi garam dan meningkatkan konsumsi buah dan sayur anak usia 8-10 tahun. Selain itu, pemberian obat kecacingan juga perlu untuk memastikan zat gizi yang masuk ke tubuh terserap optimal dan digunakan untuk pertumbuhan anak.

Bersinergi Dukung Studi Baseline dan Pemodelan Program Gizi untuk Anak SD dan MI

Meskipun berbagai literatur telah menunjukkan bahwa pendidikan gizi terbukti efektif memperbaiki perilaku peserta didik, namun bukti terkait pelaksanaan program yang baik sangat terbatas di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pemodelan program gizi berbasis sekolah sebagai upaya memperoleh praktik baik pelaksanaan program. Praktik baik yang terdokumentasi nantinya dapat menjadi pembelajaran bagi wilayah lain di Indonesia yang akan melaksanakan program serupa.

Mengingat situasi yang mendesak untuk mengatasi masalah gizi pada anak usia sekolah dasar, UNICEF bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian Agama, dan Kementerian Kesehatan melaksanakan pemodelan program gizi berbasis sekolah di SD/MI di wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Pemodelan nantinya terdiri dari tiga komponen besar, yaitu pendidikan gizi, komunikasi perubahan perilaku, dan penanggulangan kecacingan melalui penguatan program pemberian obat cacing.

Kegiatan pemodelan diawali dengan studi baseline untuk mengetahui status gizi siswa SD di Kabupaten Tegal dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan dan perilaku gizi dan kesehatan siswa SD.

Bersinergi Dukung Studi Baseline dan Pemodelan Program Gizi untuk Anak SD dan MI

Sebagai langkah awal, Unicef, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Sekolah Dasar, melakukan Rapat Koordinasi Modeling Program Gizi Berbasis Sekolah di SD/MI dalam kerangka UKS/UKSM, pada tanggal 27 Juli 2022 untuk mendiskusikan studi dan desain pemodelan sesuai dengan kebutuhan dan tepat sasaran.

“UNICEF memiliki komitmen untuk  membantu edukasi gizi dan remaja, melihat usia nya maka perlu dilakukan pendampingan untuk anak usia sekolah dasar dan remaja,” kata Airin Rosita, Ph.d., perwakilan UNICEF Indonesia saat memberikan sambutannya dalam acara tersebut. Seperti yang disampaikan juga oleh dr. Karina selaku pemegang Program Gizi untuk UNICEF kantor perwakilan Surabaya, acara hari ini merupakan koordinasi pertama atau kick off untuk Modeling Program Gizi untuk anak usia sekolah dasar. Kegiatan ini melengkapi kegiatan yang sudah dilakukan di Kabupaten Tegal yang sebelumnya dilaksanakan program gizi untuk remaja jenjang SMP/MTS dan SMA/MAN.

Melihat data terkait gizi anak sekolah, menurut survei yang dilakukan pada  tahun 2018 menunjukan bahwa banyak terjadi kenaikan berat badan (obesitas ) untuk anak sekolah dasar. Selain itu juga  terdapat  3 beban gizi untuk anak usia sekolah dasar diantaranya stunting (anak pendek), anak kurus dan obesitas, ini merupakan kondisi anak usia sekolah dari jenjang  SD sampai SMA.

“UNICEF sudah membantu edukasi program gizi sejak tahun 2016 dimana saat ini sudah diperluas jenjang nya. Tiga Kementerian yang fokus pada edukasi gizi diantaranya Kemendikbudristek, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama,” ungkap Airin.

Gizi tidak hanya berbicara tentang makanan saja tetapi juga terkait perilaku agar  anak sekolah dapat memupuk kebiasaan kebiasaan baik sehingga dapat memakan makananan sehat. Harapannya perilaku baik ini dapat terbawa menjadi pembiasaan baik sampai mereka dewasa, selain itu untuk remaja putri juga perlu mendapatkan perhatian khusus karena remaja putri merupakan cikal bakal yang akan melahirkan generasi generasi berikutnya.

“Melalui kegiatan ini juga kita akan berdiskusi terkait bentuk pemodelan Program Gizi untuk Anak Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Harapannya jika program ini berhasil InsyaAllah akan diperluas secara nasional seperti program gizi remaja yang diperluas sejak tahun 2014. Semoga melalui kegiatan yang kita lakukan saat ini dapat mensukseskan acara-acara lainnya termasuk penurunan stunting di Kabupaten Tegal,” tandasnya.

Beliau menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan sebuah pertemuan yang sangat bagus karena mungkin merupakan pertemuan pertama kali dengan Kemendikbudristek, provinsi, dan kabupaten untuk duduk bersama membicarakan program gizi  anak sekolah dasar. Prgram gizi anak sekolah dasar ini tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya koordinasi yang baik dari multi sektor. Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) merupakan program yang harus dijalankan bersama tidak hanya dari sektor kesehatan tetapi juga dari sektor pendidikan, dalam hal ini jika berbicara sekolah dasar maka dengan Direktorat Sekolah Dasar, selain itu juga dengan Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten dan juga dari Kanwil Agama dan Kementerian Agama karena kita memiliki Madrasah Ibtidaiyah (MI). Harapannya program ini bisa berjalan dengan baik dengan koordinasi yang baik dari berbagai pihak dan program dapat diterima dengan baik dan juga bisa memberi manfaat dimana kita bisa merubah perilaku anak SD ke arah yang lebih baik yaitu meningkatkan pengetahuan mereka akan gizi seimbang, pentingnya makan buah dan sayur, berolah raga, mencegah anemia dengan memperkuat program pemberian obat cacing secara nasional dan juga dapat memperkuat pengetahuan dan keterampilan dari TIM Pembina UKS/M baik di level nasional, provinsi maupun di level kabupaten. Dan tentunya diperlukan komunikasi yang baik, pengetahuan yang baik, kesadaran yang baik akan pentingnya program gizi dan kesehatan anak sekolah untuk investasi masa depan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tegal, Bapak Akhmad Was’ari, S.Pd, M.M dalam sambutannya sangat menyambut baik program ini karena Kabupaten Tegal masuk peringkat kedua dari bawah se-Provinsi Jawa Tengah dalam masalah stunting, itu artinya tingkat stunting di Kabupaten Tegal masih sangat tinggi. Beliau menyampaikan setuju bahwa bicara mengenai gizi tidak hanya membicarakan mengenai makanan, tapi yang paling penting yaitu mengenai perilaku. Harapannya setelah acara ini, ada tindak lanjut dengan jelas dan terarah agar komunikasi tidak terhenti atau berkelanjutan, baik dengan Kemendukbudristek, Kemenag, Kemenkes dan UNICEF. “Acara ini hanya sebagai awal. Semoga dengan program ini dapat menyelesaikan masalah yang ada, yaitu Stunting di Kabupaten. Tegal” pungkasnya.

Tantangan kondisi kesehatan anak dan remaja di Indonesia saat ini adalah gizi rendah, kekurangan mikronutrien, dan berat badan berlebih. Terlebih pandemi COVID-19 mempersulit pelaksanaan layanan kesehatan terpadu yang dapat dilaksanakan melalui kerangka UKS. Dalam pelaksanaannya, UKS/M memiliki trias UKS/M yang terdiri dari pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sehat yang relevan dengan pelaksanaan PTM pada tahun ajaran 2022/2023.

“Dalam kaitan pengembangan pola hidup sehat di sekolah, pemerintah telah melaksanakan berbagai program dan berkolaborasi dengan berbagai pihak salah satunya adalah UNICEF. UNICEF mendukung Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan lingkungan yang mendukung gizi, dan memperkuat sistem untuk pemberian layanan gizi,” ujar Dr. Nilam Suri selaku Pejabat Fungsional Madya Kemendikbudristek mewakili Direktur Sekolah Dasar, Bapak Dr. Muhammad Hasbi, S.Sos., M.Pd.

Ia juga berharap melalui upaya-upaya tersebut dapat terbentuk perilaku hidup sehat di kalangan warga sekolah/madrasah yang selanjutnya diharapkan akan memberi imbas positif pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

“Sebagai upaya bersama mendorong pelaksanaan program gizi berbasis sekolah di SD/Madrasah melalui kerangka UKS/M. Kita perlu mengumpulkan bukti efektivitas intervensi gizi berbasis sekolah di SD, serta praktik baik pelaksanaan program yang tepat sehingga dapat menjadi praktik baik bagi wilayah lain di Indonesia yang akan melaksanakan program serupa,” imbuhnya.

Sementara itu Kabupaten Tegal melalui Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, menyambut baik program untuk SD/MI khususnya di Kabupaten Tegal.

“Semoga program UKS/M ini dapat membawa perubahan mendasar terkait pelaksanaan kehidupan kita. Program UKS/M dimaknai sebagai masalah Pendidikan, Kesehatan dan ekonomi. Selain itu ini juga sejalan dengan Sisdiknas kita pada pasal 3 UUD 1945, bahwa tujuan penyelenggaraan adalah mewujudkan insan yang beriman kepada tuhan YME, sehat dan berkompetensi,” ujar Gunawan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah.

Dalam kesempatan yang sama melalui media zoom, Dr. Damayanti Sukarjo, Ph.D dari Lembaga Savica mengemukakan, sebagai lembaga penelitian dan konsultan dalam bidang kesehatan Savica akan melaksanakan pengukuran status gizi anak sekolah dasar.

Sasaran lokasi rencananya di 18 kecamatan di Kabupaten Tegal di 3 area pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi, serta SD/MI Negeri dan swasta. “Dimana jumlah siswa per sekolah nanti di kelas 4 berjumlah minimal 26 perbandingan 1:1 untuk siswa laki-laki dan perempuan. Jumlah responden ada di 18 kecamatan, 72 sekolah dan 1.872 responden. Jumlah 72 sekolah tersebut dengan perbandingan SD dan MI adalah 3 : 1 pada tiap kecamatan. Hal itu dikarenakan jumlah SD lebih banyak dari MI dan responden (jumlah sekolah dapat bertambah sesuai kondisi di lapangan),” tuturnya.

Sementara itu untuk jadwal kegiatannya sendiri persiapan dan pelatihan lapangan sudah dilaksanakan dari sejak bulan Juni sampai Juli 2022, untuk pengumpulan data akan dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2022. Sedangkan analisa dan pelaporan akan dilakukan pada September sampai November 2022.